Selasa, 11 Juni 2019

Siapa yang Semenjak Tidak Sekolah Jarang Menulis?

    Sudah lama sekali tidak menulis, baik menulis blog maupun menulis kegiatan menulis. Maksudnya menulis di buku kayak waktu sekolah kita dulu. Saking lamanya tidak menulis, tulisan tangan saya sudah carut marut tidak karuan, bahkan hampir saya sendiri tidak bisa membaca tulisan yang saya tulis sendiri. Karena menurut saya ini sudah kelewatan. Semenjak lulus kuliah saya minim sekali menulis.  Akhirnya saya siasatin saya membeli buku saku, yang kayak tukang kredit gitu loh. Di buku itu saya mulai menulis quote-quote keren atau menulis tips-tips keren yang saya dapet baik dari internet atau dari buku yang saya baca. Dengan demikian saya akan dipaksa untuk selalu menulis.

Bagi saya atau orang-orang yang sudah tidak sekolah lagi, jarang sekali menulis, padahal menulis itu bagus untuk otak dan daya ingat kita. Mungkin jaman berubah, untuk menulis catatan penting pun sekarang orang lebih banyak menulisnya di cacatan smartphone mereka. Dulu orang dapat menulis resep masakan di buku tulis yang mereka punya, tetapi sekarang mereka lebih nyaman menggunakan smartphonenya, selain simple dan praktir smarphone juga mudah dibawa kemana saja sehingga jika diperlukan tinggal membuka hp.

Disitulah mungkin orang mulai pelan-pelan ketergantungan dengan handphonenya. Mulai dari catatan hutang sampe mau baca artikel semuanya sudah ada di hp..

Menurut kalian bagaimana?




SELANJUTNYA >>

Sabtu, 14 April 2018

Kehidupan kita Tanggung Jawab kita Seratus Persen

Hanya ada satu orang yang bertanggung jawab atas kehidupan Anda. Orang itu adalah anda sendiri.

Jika kita mau berhasil, kita harus bertanggung jawab 100% atas semua yang kita alami dalam kehidupan kita. Baik itu prestasi kita, segala hal yang kita hasilkan, kualitas hubungan kita, kondisi kesehatan, kebugaran fisik, penghasilan, Perasaan kita. Semuanya!

Itu nggak gampang.

Kenyataannya, kebanyakan dari kita sudah terkondisi menyalahkan sesuatu di luar diri kita sendiri atas bagian kehidupan kita yang kita nggak sukai. Kita menyalahkan orang tua kita, atasan kita, teman kita, tv, internet, temen kerja, pasangan kita, cuaca, kondisi ekonomi, buruknya keuangan kita - siapapun  dan apapun yang bisa kita jadikan KAMBING HITAM. Kita nggak mau melihat ke sumber permasalahannya
-DIRI KITA SENDIRI.

Ada cerita seorang kakek ketika bangun tidur di pagi hari mencium bau tak sedap di kamarnya. Dia mencari cari sumber bau tersebut keseluruh kamar tapi nihil dia temukan. Ia pindah ke dapur dan menemukan bau yang sama, pindah ke ruang tamu pun sama. "wah jorok semua. Kenapa dimana-mana seisi rumah bau"
Tetapi rupanya sumber bau yang ia dapati sedari tadi adalah  dari kumisnya sendiri. Ternyata ketika si kakek itu tertidur, cucunya yang jahil mengoleskan terasi ke kumisnya.

Sudah saatnya mencari jawaban di luar diri kita sendiri - mengapa kita belum menciptkan kehidupan dan hasil yang kita inginkan, karena kita-lah yang mencipkan kualitas kehidupan yang kita jalani dan hasil yang kita buat.
Anda. Bukan orang lain.

Untuk mencapai kesuksesan besar dalam kehidupan, untuk mencapai hal-hal yang paling penting bagi kita, kita harus mengambil 100% tanggung jawab atas diri kita sendiri. TIDAK BISA KURANG DARI ITU.





SELANJUTNYA >>

Senin, 08 Mei 2017

Kita

Kenapa ada kamu? Bisa jadi karena ada aku. Ya aku. Bukan dia.

Aku dan kamu seolah dua tetapi bisa jadi ia satu kesatuan. Satu pemikiran dan satu jalan bahkan satu niat.

Aku dan kamu dibentuk oleh sebuah kesepakatan yang berwujud kita. Bukan dia, kalian atau mereka

Apakah boleh si kamu atau si aku egois? klo soal boleh atau tidak, tentu saja boleh. Tetapi lagi lagi bukan persoalan boleh tidaknya. Ini persoalan komitmen lantaran si kamu dan si aku menjadi kita tadi. Yang perlu di tekankan di sini adalah jika si kamu dan aku sudah melebur menjadi kita, maka mestinya iya harus rela melepaskan baik aku maupun kamu.

baik kamu ataupun aku adalah simbol ke egoisan. Maka bisakah kita melepas attibut aku ataupun kamu jika ia sudah menjadi kita?

Baik aku dan kamu sama-sama pusing membaca tulisan ini.
SELANJUTNYA >>

Rabu, 13 Juli 2016

Pegalihan perasaan biar nggak baper

Saya masih harus bolak balik ke sukabumi. Jakarta-Sukabumi. Tapi saya tidak akan membahas ada apa di sukabumi, ada apa di Jakarta, perbedaan kehidupan saya antara ketika saya di jakarta atau sukabumi. Tapi saya lagi kepengen aja ngebahas perasaan.
Baper mulu emang.

Orang yang masih lajang pembahasannya nggak jauh-jauh dari perasaan. Sensitif kali kau, Lay!

Saat saya lagi di Jakarta, sy kepengen ke Sukabumi, kangen aktifitas-aktiftas di Sukabumi. Saat saya di Sukabumi pun sebaliknya. Kangen kegiatan-kegiatan yang saya lakukan di Jakarta.

Perasaan memang senang mempermainkan kita jika kita tidak jago dalam menyikapinya. Kita harus benar-benar menjadi seorang yang proaktif walaupun jelas jelas itu hanya teori barat yang sulit banget saya terapkan. Ya, katanya orang orang yang proaktif tidak akan terpengaruh  oleh lingkungan, suasana hati dan teman temannya. Hey itu nggak semudah membalikan telapak tangan dodol. Untuk nggak mual saat ngeliat teman mabok kendaraan aja itu udah hebat bagi saya.
Terlintas gambar kafe jamban di facebook aja udah sukses bikin saya nggak nafsu makan.

Tapi... nggak ada yg nggak mungkin. Perasaan itu milik kita, kita bisa mengaturnya. Saat saya rindu pada masa lalu yg jelas2 udah nggak bisa saya lakuin lagi di masa ini, tugas saya hanyalah mengalihkan. Pengalihan perasaan itu kadang penting buat saya yang sering banget ditolak cewek sebelum menyatakan. . Ditolak cewek sebelum mengungkapkan. Jadi, Penolakan sebelum bener-bener menyatakan adalah Nyesek.

Ketika saya rindu sukabumi, saya akan fokuskan perasaan saya utk melakukan kegiatan hal baik di Jakarta, dan saat saya rindu Jakarta saya akan fokus dgn pekerjaan yg tengah saya kerjakan di Sukabumi. Hasilnya? Brilian, saya kehilangan sedikit perasaan. Efeknya saya rindu dengan perasaan perasaan saya dulu. Perasaan saat penolakan itu hadir, perasaan ketika percaya diri itu muncul. Jadi ketika perasaan itu datang saya akan tetap menjaganya hadir tetapi tidak sampai membawa perasaan itu sendiri. Ya baper.
SELANJUTNYA >>

Sabtu, 09 Juli 2016

Kelelahan pikiran

Belajarlah hingga lelah itu sendiri lelah menghampirimu.

Beberapa hari ini saya mengalami kekacauan pikiran yang hebat. Harusnya hari raya adalah hari yang dinanti nanti umat islam. Tapi bukan berarti pula saya tidak menantinya. Saya hanya mengalami stress kecil akibat pikiran dan kenyataan tidak pernah bersatu. Maksud saya, kenyataan itu sering kali tidak sesuai apa yang saya pikirkan. Ya seperti itu. Munculah stress dalam beberapa hari ini. Menulis ini pun kekacauan pikiran saya masih berlanjut. Nanti ketika pikiran saya jernih saya akan membaca tulisan ini adalah tidak lebih dari sampah semata. Yang pasti hampir saya kelelahan berkelahi dengan pikiran-pikiran konyol saya. Hasilnya saya selalu kalah kedengan kenyataan yang ada.

Saya mengerti tulisan saya sulit dimengerti. Saya pun demikian. Iya ketika kekeruhan pikiran mulai lenyap, kejernian pikiran bisa menilai. Baru saya akan sadar betapa buruk tulisan ini. Dan anda harus tau gaya semacam ini akan muncul ketika bukan saja kekacauan pikiran datang, tetapi ketika juga saya tengah mengagumi seseorang. Nice. Betapa sulit sy ini dimengerti, tetapi akan sangat ditebak jika saya suka terhadap seseorang, ya dengan orang itu sendiri. Dengan orang yang tengah saya kagumi.


SELANJUTNYA >>

Jumat, 13 Februari 2015

Ketika Bapak Sakit

Ketika saya sedang asyik duduk di depan laptop dan sudah siap mengerjakan pekerjaan sekolah, saya dikejutkan oleh satu pesan BBM dari adik saya Aan.

"Bang, bapak kecelakaan" 

Pesan singkat itu membuat seketika itu juga memberhentikan perkerjaan yang sudah saya rencanakan semalam untuk diselesaikan hari ini. Pikiran saya sudah membayangkan hal yang tidak-tidak. Rasa cemas mulai membanjirin pikiran saya.

Saya telpon balik adik saya itu, tapi sial tidak bisa saya hubungin kembali, saya BBM balik hasilnya juga cuma centrang, ternyata BBM itu adalah BBM semalam yang sempat kepending, dan baru masuk pagi harinya.

"Ya Allah, semoga bapak tidak apa-apa, ya Allah" mulut saya komat kamit sambil mematikan laptop dan membereskan pekerjaan yang sudah berceceran di meja kerja saya.

Saya telepon seorang tetangga untuk memastikan semua ini.

"Iya bapak kamu kecelakaan semalam, saya juga belum sempat liat, jadi belum tau keadaannya."

Inilah yang saya takutkan ketika saya sudah dalam perantauan. Jauh dari keluarga membuat saya tidak banyak tahu dan terbatas mengenai keadaan keluarga di rumah. Dan hal yang tidak mau saya dengar adalah berita buruk tentang keluarga.

Semoga bapak tidak apa-apa ya Allah

Setelah meninggalkan tugas ke murid-murid dan meminta izin kepala sekolah saya langsung menuju Jakarta pagi itu juga. Syukurlah bapak sudah di rumah. Ia sempat dilarikan ke UGD rumah sakit Pasar Rebo karena pendarahan di kepala dan sempat tak sadarkan diri beberapa jam.

Ketika sampai di rumah, saya melihat bapak berbaring dengan muka mememar dan kepala penuh perban. Saya hampir meneteskan air mata melihat keadaan bapak. "Ahmad nggak boleh cengeng" hati saya menasehati

Belum sempat saya berbicara, bapak langsung bicara:

"Bapak, kecelakaan Ahmad"

"Iya, Pak. Ini makanya Ahmad pulang. Gimana keadaan bapak?" tanya saya sambil sekuat tenaga menahan air mata

"Bapak ditabrak motor, waktu lagi nyebrang jalan. Dan sadar-sadar bapak sudah di mobil polisi. Habis itu udah nggak inget lagi" kata bapak sambil menahan sakit

"Terus apa yang bapak rasain sekarang"

"Pusing, dan mual mau muntah"

Jatung saya berdebar. Saya teringat cerita teman, katanya kalau kecelaan dan sempat muntah itu bisa gegar otak.

Ya, Tuhan semoga bapak baik-baik saja.


Setelah dua hari di rumah dan saya pastikan keadaan bapak mulai membaik saya pamit untuk pergi ke Sukabumi lagi (Jiah ilah Ahmad Sukabumi aja pake istilah merantau, berasa jauh gitu merantau. Bodo soalnya ini adalah untuk pertama kalinya saya jauh dari keluarga. Titik).

Di Sukabumi saya terus memantau perkembangan bapak

"Sudah ke dokter lagi belum, Pak?" tanya saya lewat telepon. Mendadak saya jadi super cerewet dan kepo terhadap keadaan bapak

"Sudah, tapi perbannya belum boleh dilepas. Tadi cuma diganti yang baru" kata bapak dari ujung telepon

Itulah saya. Mungkin agak melow. Tapi buat saya keluarga adalah di atas segalanya dalam rana habluminanas. Semoga baik saya maupun Anda yang sekarang tengah menyimak tulisan ini bisa memberikan yang terbaik buat keluarga. Memberikan kebanggaan buat keluarga. Tuhan tidak secara kebetulan mengirimkan kita di keluarga kita yang sekarang ini, apapun kondisi keluarga kita. Tetap harus disyukuri. Dan temukan apa tujuan Tuhan menciptakan Anda di dalam keluarga Anda sekarang ini.


Dan doa saya semoga keluarga kita selalu senantiasa dalam lindungan Allah Swt. Selalu mendapatkan ridho dari setiap tindakan-tindakan yang kita lakukan.

Semoga bapak saya segera diberi kesembuhan. Mohon doanya ya teman.






SELANJUTNYA >>

Minggu, 25 Januari 2015

Trip Malang

Liburaan.... !!! Mari kita kemon!!!!! (Tulisan ini sudah telat sebulan. Ekspresi tersebut sudah  hadir ketika tanggal 22 Desember 2014 kemarin).

 Iya.. tanggal itu adalah tanggal liburan gue dimulai.

Tanggal segitu jugalah gue ke Malang sama temen-temen kampus. 

Sebenernya liburan gue hampir gagal, karena harus mengikuti pelatihan di sekolah. Tapi karena Yosi mau di ajak pulang lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan (dan kita sepakat cancel tiket pulang dari tanggal 29 menjadi tanggal 27) jadi gue tetep ke Malang dengan bekal seadanya..

 Go..go...go..go...!!!!

Gue memutuskan untuk "Ok.Gue jadi ikut!" di jam-jam terakhir jadwal pemberangkatan kereta. Itulah yang membuat gue hampir telat sampai stasiun Senen waktu itu. 

Kampung Rambutan-Senen....... jalannya nggak nyantai Men. 
Maceeett paraahhh....!!!!

Jadi pikiran gue saat menuju stasiun Senen adalah "Ok. Klo emang nanti gue ketinggalan kereta, itu artinya gue diizinin hang out ke Atrium Senen. Itu artinya Tuhan mengarahkan gue kesitu. Kali aja bisa kenalan sama cewek-cewek mall. Itu kan keren banget. Ha ha ha ...Terus kita tabrakan, terus kita jadian deh...Atau?? Kita terkunci berdua bareng di lift sambil main tebak-tebakan gitu. Keren kan, ya?ya?" #plak

Hayalan gue buyar ketika kondektur nyolek-nyolek gue buat nagih ongkos.

"Bang...kira-kira stasiun Senen berapa lama lagi?"
"Duh..masih lama, Mas. Tidur lagi aja?"
What?? Tidur? Baru kali ini ada kernek nyuruh gue tidur. Cie perhatian, cie..

Dan gue juga nggak sadar, dia nyolek gue dibagian mana ya.

Aaaaggghhhhhhhh.........aku kotor mama!!! Ok. Itu lebay.

 ===========
Sampai stasiun Senen untungnya gue nggak telat-telat banget.  Temen-temen gue lagi pada ngantri di pintu masuk. Antrian panjang bagai ular tangga itu (Uler tangga?Emang uler tangga panjang?) membuat gue inget masa-masa mudik lebaran. 
Ya..lebaran dan liburan emang nggak jauh beda, sama-sama menuai kemacetan dan antrian panjang dimana-mana.


Nyok..ah...kita kemon..!!!

Matarmaja sudah siap berangkat. 
Kereta ekonomi itu membuat gue merasa ditarik lagi ke zaman purbakala. Jadi teringat lagi sama film jadul Tragedi Bintaro yang diputar ulang di TV baru-baru ini. Wah seru. Untung gue nggak jadi naik pesawat. Bener kata temen gue lebih seru menikmati perjalanan seperti ini. Naik ekonomi desek-desekan, antri-antrian. Merakyat banget kan bro..


Ekonomi rasa eksekutif.....



Iya, merakyat.... tapi gue bukan malah merakyat, malah ngegembel gini. 
Tepatnya kayak gembel yang habis ngelem aibon....

Kapal goyang Kapten....!! Mikir!!!

 Setelah menghabiskan perjalanan hampir tujuh belas jam. Akhirnya kita sampai di Malang.

Dan gue udah sampai di Puncak BROMOOOOOO....!!!


Puncak Pananjakan Bromo. Njir..dinginnya nggak nahan
 Bromo, saat liburan udah kayak di Jakarta aja Men..Penuh.

Dan berikut inilah saat-saat menunggu matahari terbit.. Oh.. matahari kedatanganmu ditunggu-tunggu kawan...



Tapi sayang kita udah nunggu berjam-jam, matahrinya tak kunjung muncul, ia terhalang awan hitam. Yahhh...jarang-jarang padahal ke sini

 Habis dari Puncak kita langsung menuju kawah Bromo...Yeyyyyyy....!! Kawah...!



Untuk menuju kawah, kita bisa berkuda, Bro. Penyewaan kuda hanya 125 ribu. 
Dan saat gue berkuda, gue berasa lagi hijrah dari Mekah ke Madinah melewati padang pasir yang puanasssnya pool...
Kuda: Mimpi apa gue semalem ampe ditunggangin orang aneh.Cih


Oia, kalo ke Malang Men, jangan hannya ke Bromo. Masih buanyak banget tempat-tempat keren lainnya yang bikin mupeng orang kalo kita jadiin pose-pose alay atau unyu di DP BBM..ha ha ha ha

Foto berikut ini adalah Pulau Sempu. Ya..kita juga ke Sempu.







Dan kalo kalian mau mengingat-ngat masa lalu atau menapaktilas sejarah bangsa khususnya transfortasi, kalian bisa lho ke Batu. Di sana ada yang namanya museum Angkut. Tempatnya keren abis dan gak kayak museum-museum yang freak dan ngebosenin yang cuma enak dijadiin tempat pacaran saking sepinya..






Ini video amatir jalan-jalan kemarin bro. Monggo di pantengin dulu..


Ok segitu dulu postingan jalan-jalan kali ini.
Thank klo udah mau comment..



SELANJUTNYA >>

Selasa, 20 Januari 2015

Sakit dan Sendiri.

Sakit. Sendiri. Jauh dari keluarga. Adalah hal yang nggak mudah dilalui. 

Disinilah betapa pentingnya peran-peran keluarga. Ibu gue misalnya, kalo manja gue kumat, mana pernah gue malu untuk minta disuapin makan. Nyokap gue emang udah paling the best.

Bapak juga keren. Bokap jadi super baik kalo gue lagi sakit. Suka bawaain makan ke kamar. Ini kalo emang gue udah super mager dan nggak keluar-keluar dari kamar. Beliau emang inisiatif

Ade gue. Tiba-tiba jadi orang yang paling baik sedunia dengan mau gue suruh-suruh buat beliin apa aja. Tapi kalo gue lagi sehat. Kupingnya tiba-tiba serasa budek pas ketika gue suruh.

Tapi hari ini. Sakit dan sendiri, harus gue lalui.. tanpa mereka. 

Gue nggak mau selamanya menjadi anak manja dan serba ketergantungan. Cih

Gue pasti bisa (tarik nafas)..

Gue coba mengingat-ingat lagi tentang syair Imam Syafi'i tentang musafir, yang tak lain tak bukan untuk memotivasi diri. Meng-upgrade kembali semangat musafir yang di sarankan Beliau. Beliau adalah musafir.Dan gue? Sekarang status gue juga musafir.

Kira-kira seperti ini syairnya:

Merantaulah....
(Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman)
(Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang)

Pergilah kau, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air yang diam menjadi rusak kerena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak 'kan keruh menggenang
Singa takkan pernah memangsa jika tidak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur takkan kena sasaran
Jika saja matahari diorbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Rembulan jika terus menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tidak akan menunggu saat munculnya datang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
Jika dibawa ke bandar berubah mahal menjadi perhatian hartawan

Jadi kalo cuma sakit dan sendiri, jalanin aja. Nikmatin. Lagian gue juga nggak benar-benar sendiri kok. Ada Allah dan para malaikatnya yang senantiasa menjaga kita.

Semangat. Sehat, dan Produktif!!


 

SELANJUTNYA >>

Sabtu, 17 Januari 2015

Selamat Datang Bidadari Kecil Kami

Di awal tahun 2015 ini gue kedatangan bidadari kecil.
Keponakan gue bertambah satu. 
Disaat negara ini sedang sibuk mencaci para pemimpin, disaat semburan mulut rakyat penuh dengan hina dina atas kebijakan carut marut para pemimpin bangsa ini, ia lahir dengan membawa kebahagiaan sekitar. Ia membuat lupa sejenak akan harga bbm yang naik disaat harga minyak dunia turun, ia mengalihkan pandangan dari kenyataan bahwa harga LPG 3kg merangkak naik. Ia benar-benar menyuguhkan kebahagiaan kepada kami. Melupakan berita-berita negatif yang disuguhkan televisi.
Ia juga membuat kami berkumpul menjadi satu. Menyaksikan tangis yang keluar dari mulut yang masih suci dan bersih dari kepalsuan.
Semoga ini simbol bahwa bidadari kecil keponakan gue datang untuk menyelamatkan kami yang senantiasa lupa akan kebahagiaan karena begitu derasnya kemunafikan di negara ini, kealfaan pemimpin akan janjinya, keegoisan kaum pejabat. Sekali lagi ia datang untuk mengajarkan kami untuk tidak lupa dengan kebahagiaan yang semakin terkikis oleh kebijakan yang memberatkan.

Selamat datang putri cantik keponakan om. Mari kita hadapi dunia ini dengan kesabaran dan kebahagiaan. Jangan ragu untuk menagis ketika kamu mengingkinkan sesuatu. Ada mamamu yang senantiasa mengerti bahasamu. Dan ada om mu ini yang akan menuliskan kisahmu di blog ini.





SELANJUTNYA >>

Selasa, 06 Januari 2015

Waktu

Udah lama nggak ngeblog. Udah lama nggak nulis. Entah gue sibuk atau apa, faktanya gue nggak dapet apa-apa. Waktu kebuang begitu aja. Berlari begitu cepat, dan gue sama sekali nggak berdaya akan hal itu.

Manusia diciptkan untuk bernegosiasi dengan waktu. Ada yang bilang, hati-hati dengan waktu. Ia ibarat air tenang namun menghanyutkan. Berapa banyak kata "tau-tau" dalam hidup kita

"tau-tau udah mau lulus"
"tau-tau udah udah jomblo lagi aja"
"tau-tau udah menikah"
"tau-tau udah punya anak"
"tau-tau udah besar anaknya"
"tau-tau...."

Betapa beruntung manusia-manusia yang bisa mengatur waktu.

Walaupun setiap waktu yang diberikan kepada manusia itu sama, yaitu sama-sama dua puluh empat jam. Tapi bagaimana memanfaatkan waktu itulah yang membedakan satu sama lain.

Semoga aja kita bisa dengan bijak memanfaatkan waktu itu



SELANJUTNYA >>

Sabtu, 18 Oktober 2014

Pria Idaman Wanita

Sebut aja namanya Darto seorang anak muda dengan badan kurus muka tirus. Ia begitu menggilai Reni wanita idamanya. Demi Reni, Darto rela melakukan apa saja buat wanita gebetannya itu. Menemani Reni belanja, menjemput dan mengantar pulang ke rumah. Beda-beda tipis sama tukang ojeg. Makan dan nonton selalu Darto yang bayar. Segalanya Darto lakukan hanya untuk agar Reni mengetahui kalo Darto adalah pria yang baik, terutama terhadap dirinya. Ia merasa yakin dengan begitu Reni bisa ia dapatkan.

Faktanya? Di belakang Darto, Reni selalu jalan dengan preman pasar Tanah Abang yang memiliki banyak tato di sekujur tubuhnya. Yang menyedihkan, Renilah yang mengejar-ngejar preman itu, bahkan hampir mirip yang Darto lakukan kepadanya. Jika makan di warteg, Reni yang selalu bayar. Reni selalu nyamperin mas-mas preman itu ke tempat di mana dia mangkal.(Damn.. Kayak FTV ya)

This is not fair. Kenapa bisa begitu?

Itulah uniknya seorang wanita, sehingga kadang kita (seorang pria) sulit membedakan mana baik mana guooblook..

Apakah lo tau yang bikin wanita tertarik sama laki-laki?

Ganteng? Tajir? Nggak seratus persen bener, bro..

Mas-mas preman yang dideketi Reni jelas nggak tajir apalagi ganteng. Terus apa yang membuat Reni tertarik?

Klo bukan tajir dan ganteng yang diinginkan wanita, lalu apa lagi? Pertanyaan itu adalah pertanyaan seribu mas-mas jomblo yang juga pesimis dapet cewek.

Ketahuilah bahwa ada yang paling utama mengenai daya tarik seorang pria. Apa itu?

Kemapanan mental dan kekuatan sosial

Beda dengan seorang wanita. Daya tarik seorang wanita adalah FISIKNYA. Wanita CANTIK lebih disukai pria mana pun.

Alasan utama Darto mengejar-ngejar Reni adalah karena Reni begitu cantik dan seksi. Reni begitu gemulai dengan bibir selalu basah mengkilap kayak puding strawberi, yang membuat Darto selalu mikir jorok klo lagi berduaan dengan Reni.

Kemapanan mental dan kekuatan sosial adalah daya tarik yang utama bagi seorang Pria. Untuk hal itu Darto kalah jauh dengan preman pasar Tanah Abang tersebut

Darto harus belajar mengendalikan segala sesuatu dalam dirinya, mulai dari emosi, sifat, pembawaan, kesadaran, kedewasaan, tanggung jawab, sampai dengan sikap, dan paradigma. Jelas semua itu bukan perkara mudah untuk Darto. Ia harus terus belajar, apalagi Ia hanya seorang pria yang cuma ngandalin duit kantong orang tuanya.

Mungkin berat untuk belajar mengenai semua itu. Ya, memang tidak ada yang mudah untuk mendapatkan sesuatu yang berharga. No free lunch. Tapi jika Darto bisa menguasai semua itu, maka ia akan memiliki daya tarik bahkan sampai ia usia 70 tahun sekali pun.

 
Coba lihat Sukarno, Obama, dan Nelson Mandela. Meraka adalah orang yang memiliki karismatik dan kekuatan sosial yang baik. Apakah karena mereka terkenal? Rumusnya tidak begitu. Ia memiliki sifat-sifat itu dulu baru ia terkenal. Sama seperti  wanita. Wanita cantik dulu baru terkenal, bukan terkenal dulu baru cantik.

Jadi, Semoga kita tidak mengikuti jejak Darto, ya genk dan buatlah wanita tertarik pada kalian.

Nb: Jangan jadi preman juga, cuma gara-gara kepengen dapetin wanita. Jangan salah rumus, nanti bisa remedial.









SELANJUTNYA >>

Sabtu, 07 Juni 2014

Mengingat Bapak

Tidak seperti biasanya saya naik bus memilih duduk di bangku yang paling depan. Dari zaman kuliah hingga sekarang ini, duduk di bangku belakang adalah favorite saya. Di bangku belakang itulah saya bisa mengamati orang-orang di depan saya berada. Entah mereka yang sedang menawar minuman dingin di dalam bus, entah mereka yang sedang memilih tempat duduk, atau apapun termasuk beberapa penumpang yang tidak kebagian tempat duduk yang sedang terkantuk kantuk sambil berdiri. Apapun gerak gerik kegiatan di depan saya di dalam bus, tak luput dari sorot mata saya yang kandang menyodorkan persoalan tersendiri dalam tempurung otak ini. 

Malam itu (tanggal 1 Juni 2014) saya memilih duduk di barisan paling depan, persis di sebelah seorang bapak. Dengan nada sopan saya meminta izin untuk permisi duduk di sebelahnya. 

"Silahkan, Mas!" Sambut bapak itu ramah. Saya menyandarkan badan ke bangku bus sambil memangku tas yang berisi laptop kesayangan. 

"Ini lewat ciawi kan, Pak?" Tanya saya kepada bapak itu, memastikan. 

"Iya, benar, Mas. Memang tujuan, Mas mau ke mana?"

"Ke Sukabumi, Pak" 

"Oh, sama. Saya juga mau ke Sukabumi. 

Kira-kira seperti itu percakapan awal kami yang akhirnya berbuntut panjang hingga bus itu benar-benar sampai di Ciawi. (Walaupun faktanya saya lebih banyak terdiam dan cuma manggut-manggut)

Kalau berbicara soal anak, saya rasa bukan hanyak bapak tua di dalam bus itu yang sanggup bercerita panjang sambil penuh semangat. Para bapak di muka bumi ini sudah tentu akan begitu excited jika menceritakan keberhasilan anaknya.

"Alhamdullilah... Anak saya sekarang sudah berhasil semua, Mas."

"Alhamdulillah ya, Pak"

Sepanjang perjalan itu kadang saya mengutuk diri sendiri. Ya, saya teringat bapak, orang tua saya di rumah. Yang sampai saat ini belum bisa saya bahagiakan. Entahlah kebahagiaan macam apa yang bisa saya persembahan untuk beliau. Wajahnya yang penuh kerutan perjalanan hidup, membuat saya paham benar ia adalah sosok lelaki pekerja keras. Semakin saya memandang wajah bapak, semakin saya bersalah.  Terakhir saya melihat wajah bapak penuh kebahagiaan adalah ketika saya berhasil masuk Universitas Negeri, selebihnya pancaran wajah itu tak tampak lagi. Mungkin ia kecewa, namun tak tega ia utarakan. Saya belum bisa seperti apa yang bapak inginkan.

Obrolan di dalam bus membuat saya sadar, bahwa saya sudah terlalu lama hidup dalam kesantaian. Rasa nyaman dan aman adalah jelas musuh kesuksesan saya saat ini.

Semoga saja bapak saya di rumah suatu saat nanti akan meceritakan  kepada pria di dalam bus prihal kebarhasilan saya. Dengan excited dan dengan penuh semangat 45x2 tentunya.

Thanks to bapak tua di dalam bus. Selain menyadarkan saya akan sebuah pencapaian, dirimu juga udah bayarin ongkos Rambutan-Ciawi. Semoga kita bisa ketemu lagi.





SELANJUTNYA >>

Kamis, 15 Mei 2014

Penutup Ketersiksaan


Tinggal di asrama itu bukanlah suatu yang mengenakan, apalagi dengan segala keterbatasan. Sebut saja susah makan. Ini bukan masalah soal uang yang berada di kantong, tapi soal alat masak yang hanya rice cooker di kamar. Minimnya peralatan masak membuat saya selalu pergi ke warung nasi yang jaraknya hampir satu kilo setiap jam tujuh malam. Lagi-lagi ini bukan soal jarak. Ini soal kebebasan. Keluhan ini akan meluas menjadi saya yang sering terkunci di asrama saat hendak jam makan itu tiba. Asrama hanya soal nama, kenyataannya saya seperti tinggal di sebuah kosan namun tanpa kebebasan. Kadang saya tidak habis pikir dengan petugas asrama yang menyamaratakan keadaan. Jelas saya bukan siswa. Asrama sering di kunci supaya siswa tidak sering keluar masuk asrama terutama di jam sekolah dan sholat. Lalu kenapa saya tidak menduplikat kunci? Tidak semudah itu nampaknya, banyak persoalan yang kadang sepele membuat terlihat rumit kalau berbicara mengenai lingkungan sekolah itu.

Baiklah akan saya ceritakan sedikit kenapa saya berada di tempat yang mengagumkan itu (Kira-kira begitu jika saya mau berbohong mengenai asrama itu).

Sudah hampir tiga bulan saya mengajar di sebuah sekolah boarding school pinggiran desa. Atas saran managemen saya di tempatkan di asrama bersama siswa, sementara sebagian guru yang lain tinggal di mess masing-masing yang telah di sediakan sekolah tersebut. Hal ini tidak masalah bagi orang baru macam saya untuk tinggal di manapun. Apapun itu saya mengjunjung tinggi keputusan managemen. Tapi seiring waktu yang terus berjalan, ketidaknyamanan dan ketidakbebasan datang, salah satunya yang saya sebutkan di atas. Terkunci di kamar sendiri. Rasanya tersiksa sekali. Saya jadi mulai tidak suka dengan kondisi itu. Mulai tidak menyukai lingkungan di sana. Mulai tidak menyukai pekerjaan. Karena tidak suka pekerjaan, saya jadi tidak suka dengan orang-orang di sekitarnya. Maka gandalah penderitaan saya. Sudah tersiksa dengan pekerjaan, tersiksa pula dengan lingkungan.

Namun saya percaya, semua penderitaan itu pasti akan ada manfaat kelak. Modal itu akan menjadi bekal dikemudian hari. Tidak ada yang sia-sia dari sebuah penderitaan yang saya jalani. Saya jadi mulai terbiasa bangun pagi karena pengeras suara yang mengganggu setiap jam setengah lima pagi. Mulai terbiasa sholat berjamaah walau diawali cuma karena rasa tidak enak. Mulai menyukai olahraga. Mulai terbiasa ke masjid. Mulai-mulai itulah yang kini bisa sedikit menutupi ketersiksaan saya kini.



SELANJUTNYA >>

Minggu, 11 Mei 2014

VIDEO JARTOP

Kali ini gue cuma mau posting hasil video bikinan gue. Cupu sih. Tapi buat orang awam macam gue video ini adalah karya iseng yang mesti gue simpan di blog gue supaya nggak ilang ditelan masa (lebay), secara bikinnya syusah. Hehe.
Yang pertama adalah video treasure hunt yaitu acara jaringan topik di tempat gue ngajar, Insan Cedikia Al Kausar. Dimana para siswa harus mencari sebuah harta karun yang tersimpan di sudut-sudut lingkungan sekolah.  Langsung simak aja ya.


Yang ke dua, masih dalam rangka jaringan topik. Para siswa di ajak untuk mengunjungi OISCA yang masih terletak di Sukabumi. Apa itu OISCA? Simak lagi aja ya






SELANJUTNYA >>

Senin, 14 April 2014

Lebih Baik Gagal Pulang dari Pada Gagal Hidup

Gagal Ke Jakarta
Gue gagal pulang bareng Nisa dan orang tuanya ke Jakarta. Padahal tawaran Nisa gue sambut dengan hati penuh gegap gempita pagi itu. (Ya, selain hemat ongkos, kali aja ada snack gratisannya juga sepanjang perjalanan ke Jakarta. Ngarep). 

Murid gue yang ramai (walaupun sendiri) kalau di kelas itu ternyata tetangga gue di Jakarta. Jarak rumah kita nggak begitu jauh, sekitar lima jam (Itu kalo gue ke rumahnya menggunakan ala suster ngesot, tapi kalo naik motor sekitar 5 menitan). 

Penyebab kegagalan itu sederhana, gue dapat tugas dadakan dari Pak Kepsek, dan hari itu juga gue mesti menghadiri workshop di Selabintana, Sukabumi. Gue sedih, pohon-pohon terkekeh, kupu-kupu terharu hinggap di dahan keruh, dan gue memang lebay.

Seketika itu juga gue langsung packing. Ini packing tercepat yang pernah gue lakukan. Iya karena gue cuma bawa satu stel pakaian dan dua celana dalem. 

Setelah selesai packing, gue langsung menuju parkiran sekolah. Sopir yang mau mengantar gue sudah siap, tapi hati gue belum siap, karena pikiran mau pulang ke Jakarta belum lenyap sepenuhnya di tempurung otak.

Tapi walau bagaimana pun ini pertama kalinya gue menghirup udara bebas Sukabumi, setelah sekian lama terjerembab di asrama. Dan ini kesempatan gue untuk mengenal Sukabumi lebih jauh lagi. Hahaha...Gue coba menghibur diri

"Selama jadi sopir, paling jauh ke mana Pak?" Tanya gue sok akrab sama sopir sekolah. Sementara mobil terus bergerak meninggalkan gerbang sekolah melintas bebatuan dan jalan berlubang yang kiri kanannya terbentang persawahan dan rumah warga. Untuk sebuah pemandangan indah, tempat gue ngajar itu emang juaranya. Pesawahan yang membentang luas serta gunung yang serasa lima kali salto saja bisa sampai ke puncaknya adalah pemandangan sehari-hari di sini. Tapi kehiruk-pikukan Jakarta kerap kali bikin rindu, apalagi memadu secangkir kopi dengan roti bakar di kafe tempat biasa gue duduk sendiri adalah hal yang belum bisa gue tinggalkan secara ihklas.

"Kalau perjalanan dinas paling ke Bandung dan Jogja, tapi kalau pribadi saya pernah ke Kebumen, Pak" Jawab sopir dengan tidak meninggalkan logat sundanya.

"Oh gitu" Jawab gue sambil manggut, dan terus memperhatikan rumah-rumah warga yang terlintas.

"Kalau kerja di Alkausar sudah berapa lama Pak?" Inilah jurus basa-basi gue yang super basi. Gue percaya basa basi itu bisa juga membangun keakraban.

"Dari tahun sembilan-sembilan, Pak" Gue tahu maksudnya 1999.

Gue mangut-mangut lagi.

Gue melirik jam tangan. "Oia, kalau masih ada waktu kita cari makan dulu, Pak. Tempat makan yang enak di Sukabumi di mana ya? Kalo bisa soto" Tetep di mana pun gue berada soto tetap menjadi makanan favorite. Lebih tepatnya gue gak bisa makan sembarangan, apalagi sambel dan makanan yang digoreng. Kampret. Jadi soto adalah makanan yang pas di lidah apalagi di perut. 

Gue emang sengaja berangkat pagi supaya banyak waktu buat mampir-mapir dulu, dan menjamah Sukabumi lebih lama lagi. 

===
Setengah jam kemudian, mobil berbelok dan parkir tepat di depan warung-warung tenda.

"Ini, namanya kantor dinas, Pak" Kata Pak Sopir sambil mengangkat rem tangan mobil

"Warung-warung ini, Pak?" 

"Bukan, eta!" Pak sopir menunjuk gedung yang berada di sebelah kanan warung-warung tenda berjejer itu. Rupanya becandaan gue dianggap serius.

"Ooh" Kata gue sambil manggut lagi.

Gue menuju salah satu warung tenda itu. 

"Aya, ada soto Bu?"
Gue sadar bahasa sunda gue hancur berantakan. Tapi bodo, dia nggak kenal gue. Dan gue juga sadar ada dan aya itu sama artinya.

"Aya. Sabaraha?"

"Siji, Bu". Sumpah gue nggak tahu itu bahasa sunda atau jawa. Tapi otak gue langsung komplen. Hiji kali, bukan siji

"Pak, mau pesen apa?" Tanya gue sambil menyeret bangku hingga berderit, supaya orang-orang yang barusan mendengar kekeliruan gue langsung teralihkan.

"Samain aja" Kata Pak sopir sopan.

"Bu, hiji deyi" Gue ngomong agak pelan (mungkin lebih terdengar biji), karena takut terdengar salah, tapi tangan gue cukup menjelaskan kalau gue pesen satu lagi. Gue ngelirik seorang ibu dan anaknya yang masih memakai seragam SMA, mereka menutup mulutnya, menahan tawa. Sementara gue menahan malu. Agghhhhh.....!!

Seusai makan soto di warung tenda, kita melanjutkan perjalanan lagi.

"Ini, Pak"  Gue menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan ke Pak Sopir.

"Dari Pak Henda?" Tanya sopir itu

"Ya, dari saya dong, Pak. Kan saya yang ngasih" Kata gue sambil becanda. " Itu uang pribadi saya, Pak, bukan uang sekolah"

"Oh, terima kasih Ya" kata sopir itu senang.


Hotel, Selabintana

"Permisi, bu. Kalau workshop guru matematika di mana ya?" tanya gue sama seorang ibu gemuk berkerudung yg sedang sibuk dengan handphonenya.

"Di sini, Pak" Sambil tidak melepaskan handphonenya dari telinganya. "Tapi belum pada dateng. Dari SMA mana?" Katanya melanjutkan, sambil menunjuk ke arah muka gue.

"Al Kausar, Bu" Jawab gue pelan, dan agak ketakutan.

"Nah!!"

Ibu itu langsung senang. Mimik mukanya tiba-tiba berubah.

"Ngaji nya?" (ngaji ya?)

"Ngaji?" Gue agak sedikit kaget. Apa gara-gara gue pake baju koko?. Gue ngelirik baju yang gue kenakan.

"Iya, ngaji buat pembukaan nanti. Dari Al Kausar mah bisa lah. Itukan sekola pesantren" Kata ibu itu menggampangkan persoalan.

"Mhhm...nggak bisa bu. Saya nggak bisa ngaji (lebih tepatnya gue demam panggung kalo ngaji di depan orang banyak). Saya masih baru di Alkausar" Gue ngeles.

"Kamu masih mahasiswa?" Ibu itu tiba-tiba memperhatikan muka gue. Gue takut kuadrat.

Sebelum gue menjawab, ibu itu langsung nyeletuk. " Yaudah jadi dirigen aja nya. Buat Indonesia Raya?"

Emang nggak ada cewek? Tanya gue dalam hati. Tapi tentu gue nggak bisa nolak untuk yang kedua kalinya.

"Iya, bu. Bisa" Jawab gue melas.

"Ya sudah, sok cari kamar sendiri atuh" Ibu itu memang benar-benar menggampangkan persoalan.

"Di mana, Bu?" Sebagai orang yang nggak tahu apa-apa, jelas gue dalam masalah besar. Ke workshop tentang guru pun gue baru saat ini, Sukabumi pula, dengan bahasa sunda yang minim pula, ditambah gue dateng seorang diri, tanpa guru-guru yang lain.

"Eta, pilih aja salah satu. Tapi satu tempat untuk enam orang nya".  Kata ibu itu, sambil me list nama gue sebagai dirigen

Gue diem beberapa saat.

"Yaudah jalan sana. Eta di ditu, aya kok kunci na"

Tanpa banyak berkomentar gue langsung mencari kamar di lingkungan hotel itu. Hotel yang klasifikasinya resort hotels membuat gue agak excited sebenarnya. Selabintana, mungkin sebagian dari kita banyak yang tahu. Tempat wisata yang berada di kaki gunung Pangrango memang menawarkan keindahan alam yang memukau. Tapi masalahnya gue bukan untuk senang-senang di sini, gue mau ikut workshop. Persis kayak lagi dikasih makan enak tapi kondisi gusi lagi sariawan. Damn. Percuma.


Di Kamar Hotel

"Pak sudah berapa orang di diyeu?" Tiga orang bapak mengetuk pintu sambil sesekali mengintip jendela.

"Saya, baru sendiri, Pak" Jawab gue sambil membuka pintu.

"Yaudah kita di sini aja" Kata satu dari mereka, dengan memakai bahasa sunda yang mudah gue pahami.

Mereka masuk tanpa persetujuan gue. Mungkin hak mereka, suka nggak suka kalau mereka mau memililih di sini, siapa juga yang larang. Aku rapoo..


Mereka langsung duduk di ruang tamu, menyandarkan badannya ke bangku, meletakan tas mereka masing-masing di sebelahnya. Gue persis pelayan meraka. Kampret. Akhirnya gue duduk di samping mereka menyamakan strata.

Nama saya, Ahmad, Pak" kata gue mengulurkan tangan satu-satu ke mereka.

Seorang bapak yang tepat di samping gue berbicara ke gue dengan nada emosi, tapi sayang. gue nggak ngerti, tapi gue ngerti maksudnya kalau dia sedang komplen sama pelayanan panitia workshop itu.

Gue manggut-manggut, tanda mengerti, walaupun sejujurnya nggak ngerti sama sekali apa yang dibicarakannya, karena selain dia berbicara sangat cepat, pake bahasa sunda pula. Aggghhhh.....!!

Bapak itu terus melanjutkannya pembicaraan dengan semangat empat lima kali sepuluh

"Kang, saha tadi namina?"

"Ahmad"

Bapak 1 : Nyaho teu, Kang Ahmad ...%$^@$%^*$E65$#$%^&*7$..... "
Bapak 2: Nya kitu,.....ggsf$#@%&*57767%5546^*%%#%#7^67...."
Bapak 3: Lain atuh,...%$^&*(&&&#$#!#$FHJGDFG()09877 ....."
Gue : "??????????????????????????????????????????????????"
(30 menit berlangsung. Tiga bapak itu penuh luka tusukan. Gue kayang mundur mengitari mayat mereka.)

Gue lelah mikir. Mereka malah makin seru ngajak ngomong gue. Dan kampretnya, dia nggak ngerti kalau gue lagi nggak ngerti. Dua puluh menit itu juga gue cuma mangut-mangut, tanpa berdaya, hingga akhirnya.: "Silahkan Pak ke kamar, beres-beres dulu" Terpaksa gue putus obrolan mereka, dan kayaknya mereka baru sadar kalo yang sedang di ajak ngomong nggak ngerti bahasa mereka, karena gue menawarkan secara sopan dengan bahasa Indonesia

=======

Karena kita keasyikan ngobrol, lebih tepatnya tiga bapak-bapak itu keasyikan ngobrol, akhirnya kita telat ke aula untuk ngikutin workshop. Hikmahnya. Ada yang gantiin gue jadi dirigen. ahayyy...!! *Salto

Seusai workshop sesi pertama gue kembali ke kamar. Udara mulai menusuk tulang-tulang persendian, pori-pori kulit mulai membesar. Gue menggigil kedinginan. Packing yang super kilat membuat gue lupa membawa jaket atau sweater, dan hasilnya gue nggak bisa tidur semaleman.

Singkat cerita, workshop selesai. Dan yang paling nggak disangka-sangka, setiap peserta workshop dapat amplop yang isinya dua ratus ribu rupiah. Subhanallah, gue dapet rezeki Rp 200.000. Apakah itu kebetulan? Gue mikir agak lama. Gue rasa nggak. Masih inget, gue kasih sopir dengan uang pribadi berapa? Rp 20.000. Besok itu juga sedekah gue diganti sama Allah sepuluh kali lipatnya. Yey. Yang gue sesalkan, kenapa nggak gue kasih seratus ribu aja tuh Pak Sopir. Kalau kasih seratus ribu kan bisa jadi satu juta. Wahh..keren!

Ketemu Kenalan Lama

Cek out dari hotel gue langsung bergegas ke Jogja departement store yang berada di kota Sukabumi. Di tempat inilah gue janjian sama Mas Ikhsan, seorang entrepreneus Sukabumi yang juga memiliki outlet kopi di swalayan tersebut. Ilmu pengetahuan gue mengenai tongkrongan di Sukabumi memang minim, tapi untuk sebuah tempat kongkow-kongkow yang lumayan di Sukabumi yang gue tahu ya Swalayan ini. Mungkin sengaja Mas Ikhsan ngajak ketemuan di sini, selain foodcouartnya memang ramai, mungkin sekalian memperkenalkan aoutlet kopinya.

Kenal Mas Ikhsan sudah lama sebenarnya, kita sama-sama jebolan dari Moslem Millionaire IV Ippho Santosa. Bedanya gue memutuskan untuk menjadi guru di Alkausar (entah dalam waktu berapa lama), sementara beliau terus menggeluti dunia entrepreneurnya.

"Ahmad..!" Suara mas Ikhsan memanggil gue yang hampir beberapa menit celingukan sana-sini di foodcourt itu.

"Halo, Mas apa kabar?" Sapa gue senang. "Wah akhirnya bisa ketemu juga ya"

Mas Ikhsan langsung mengajak gue ke outlet kopinya, dan mempersilahkan gue untuk memesannya.

Menyeruput secangkir kopi, membuat gue teringat teman-teman gue di Jakarta, bukan hanya suasana food court yang ramai itu, tapi pembicaraan mengenai dunia usaha membuat gue ngerasa ada di Jakarta. I'm like home again.

Seketika gue galau, mau dibawa kemana tujuan hidup gue. Apakah selamanya gue terus tinggal di lingkungan asrama. Rasannya seperti mengubur mimpi hidup-hidup. Apakah gue benar-benar di lingkungan yang benar. Apakah STUDIO5 benar-benar bisa besar nanti (semoga di Tangan dingin M.Tulus bisa). Duh gue rindu STUDIO5. Pikiran-pikiran itu terbelesit di sela-sela obrolan gue dengan Mas Ikhsan. Ngobrol dengan Mas Ikhsan sempat memicu jiwa entrepreneur muncul lagi di hati ini. Dan hati gue bilang

"Gue pergi untuk sementara"



SELANJUTNYA >>

Rabu, 02 April 2014

Orang-orang Bertopeng dan Berselimut

Pagi ini Alkausar berkabut. Entah kabut-kabut itu turun sejak pukul berapa tadi. Yang pasti ketika azdan Subuh berkumandang kabut itu sudah mengepul putih membanjiri lingkungan Alka. Putihnya terurai indah di balik-balik pohon dan di atap-atap asrama, dan yang paling menjadi misteri di tempurung otak ini, kenapa kabut-kabut tersebut tidak masuk menyeruak ke dalam asrama tempat di mana saya tinggal. Tidak seperti di rumah di Jakarta yang selalu termasuki asap pembakaran sampah jika tetangga kerap membakar sampah di samping rumah yang bisa membuat saya terbatuk-batuk lantaran asap-asap itu dengan sukses masuk kamar. Kabut itu tetap pada posisinya, mengepul indah di jalan-jalan, di atas pohon, dan di atap asrama. Mungkin faktor suhu kamar dan di luar kamar yang berbeda membuat kabut tidak masuk. Itu pemikiran cetek saya.

Saya terbangun memang terlampau pagi. Bukan kabut itu yang membangunkan saya pagi ini, tetapi suara orang mengaji dipengeras suara  membuyarkan semua mimpi indah namun semu. Rasa malas dan kantuk yang memadu satu menjadi alasan indah untuk terus mengumpat di balik tebal selimut asrama. Atas dasar rasa malu dan tidak enak, kantuk serta malas untuk bergegas ke masjid dan melaksanakan Sholat Subuh hilang. Bukan hanya malu kepada murid-murid di sini yang setiap subuh dipaksa ke masjid tetapi juga kepada Tuhan yang telah menciptakan Adam untuk bumi yang kini menjadi tugas kita untuk meneruskan amanah luhur tersebut yang tidak lain sebagai khalifah di bumi ini.

Saya turun dengan gontai melawan kantuk yang hebat dari kamar menuju masjid. Anak tangga serasa hal yang menyebalkan jika setengah kesadaran saya harus dipaksa konsen menginjak tepat satu anak tangga supaya tidak tergelincir. Rasannya ingin belajar parkour supaya tidak melalui anak tangga yang menyebalkan itu.  Loncat dari kamar ke lobi bahkan ke masjid dengan mudah dan ringan. Jangankan parkour, untuk melangkahkan kaki saja sudah malas luar biasa menembus kabut. Dan berbicara parkour, di alka itu sebenarnya enak untuk belajar parkour, gedung-gedung asrama, kantor, dan sekolah sambung menyambung menjadi satu. Tapi memang sih pepohonannya juga nggak sedikit, nanti bukan keren yang ada kayak monyet sedang kabur diserang warga karena kedapatan mencuri.

Saya terperanjat ketika benar-benar sudah di luar asrama. Saya melihat segerombolan orang-orang berkuda keluar dari kabut tebal yang semakin turun. Tidak begitu jelas jumlah mereka. Tapi pastinya banyak sekali. Suara gaduh ringkik kuda dan derap kaki kuda membumbung tinggi ke angkasa. Saya kaget bukan main, ternyata segerombolan kuda itu mendekati saya. Iya mendekati saya. What?? Orang-orang bercadar penunggang kuda itu mengangkat pedangnya dan terus mendekati saya. Saya mundur beberapa meter kebelakang. Semakin lama penunggang kuda itu semakin banyak, seolah tidak pernah habis keluar dari gumpalan kabut itu. Mereka berteriak mengangkat pedanganya dan siap menebas leher saya. Tidaaaaaakkkk..................................!!!!!





Draaaakkkkkk......................!!!

Saya terkapar di lantai.

Kepala pusing dan seolah bumi berputar.

Baju yang saya kenakan basah akibat cucuran keringat.

(Hening untuk beberapa detik)

Pelan-pelan saya memberanikan membuka mata. Lampu kamar yang semakin redup, gitar, laptop, dan handphone yang tetap pada posisinya. Saya mengangkat kepala dan meletakannya di atas bantal yang ikut terjatuh dari kasur. Saya menutup muka dengan selimut membayangkan muka yang bertopeng 



Sumber gambar :
https://www.facebook.com/note.php?note_id=192157994162264
SELANJUTNYA >>

Selasa, 25 Maret 2014

Mirip Yang Bikin Miris.

Entah untuk yang keberapa sekian kalinya gue dibilang mirip si inilah.. atau si itulah. Hadeh.. face market banget. Kalau dimiripin sama orang-orang keren sih nggak papa, kayak Mario Maurer misalnya, itu lho pemeran Khun Shone dalam film Crazy Little Thing (Hahahaha ngarep dot com. Ups..! ketahuan deh tontonan gue. Sumpah demi apapun itu gue dicekokin ade kelas buat nonton film gituan *hmmm.... bagus sih filmnya. Gubrak)

Tuh..mirip sama gue kan?? Ya nggak? ya nggak?

Tapi faktanya memang selalu ada saja stok orang-orang yang mirip kita lho. Nggak percaya? Nih contohnya:

Sophie Candiex, 29 tahun dan Catherine Trudeau, 31 tahun. Keduanya aktris dari Kanada. Beuh sebelas dua belas mukanya.


Kalau yang di bawah ini namanya Sylvie Gagnan dan Caroline Dhavernas. Gila mirip abis.


Nah kalau kakek yang dua ini namanya Rudi Kistler dan MaurusOehman. Bener-bener kayak kembar dari dalam perut.

Dan masih banyak lagi sebenernya orang-orang mirp di dunia ini. Di Indonesia pun banyak. Pak Jokowi misalnya. Atau  Untuk jelasnya liat aja blog INI, yang kebetulan gue juga ngambil gambar-gambar di atas dari situ.

Tapi yang lebih sinting lagi, di suatu forum Kompas Online ada yang mengatakan bahwa kita juga memiliki kembaran gaib dan malah disitu dijelaskan bagaimana caranya mengetahui kembaran gaib tersebut. Geblek. Karena temanya gue nggak mau berbau mistis jadi gue nggak bahas itu. 

Oke. Terus kalau lo mirip sama siapa, Dick?

Menurut teman rumah gue yang sekarang stay di Bandung (Hai apa kabar? Masih kenal gue? Mungkin dia bakal jawab. Siapa loh?), katanya gue mirip sama Duta Sheila On7. Gue juga bingung mirip dari mananya. Gue rasa temen gue itu ngidap mata katarak deh. Atau pas bilang gue mirip Duta dia baru aja kejedot tembok Berlin.

Nah, kalau menurut beberapa teman kamupus gue. Katanya gue mirip Ryan D'masiv. What? Ryan De'nasib mungkin? Duh, penderitaan apa lagi ini.
Makanya pas D'masiv tampil di tivi dengan lagu-lagu super galaunya, emaknya temen gue teriak-teriak manggil anaknya yang lagi nyapu di halaman rumahnya, "Teteh, Teteh, si Ahmad masuk tivi ya?" Temen gue lari ke ruang tamu, pas di liat bukan gue. Dia narik napas panjang. "Cuma mirip, Miii" katanya sambil mengatur napas."Emang iya?" kata emaknya dengan nada polos.

Terus, menurut Ibunya Eka Nanda, adek kelas gue di SMA dulu, gue dibilang mirip Abidzar anaknya Alm Uje. Hado ini dari mana miripnya ya? Tapi gue coba berpikir postif. Abidzar? tuh anak kan imut banget. Berarti gue imut dong? Huek. Muntah Keong.

Ibunya Eka mikir agak lama sambil menatap muka gue yang agak memelas "Kak, Ahmad mirip siapa yaa? sambil dia mikir gue deg-degan kayak mau nungguin pengumuman lomba. "Hmmm.. oooh iyaa? Anaknya Uje" kata ibunya dengan nada seneng bukan main kayak abis nemuin jawaban matematika yang super susah. "Ooh..iya semua ade-adenya mengamini pernyataan ibunya. Dan gue kepengen rasanya jadi liliput mengicil dan menghilang dari rumah itu. Ting! Ok. Gue lebay.

Sedangkan menurut temen gue si Tommy ade kelas gue sekaligus patner mengajar di STUDIO5, katanya gue mirip Ariel Noah, dan dia sampai nulis diblognya tentang masalah kemiripan gue itu. Kampret!! Entah gue harus merasa terhina atau terhibur. Ariel? Lo tau Ariel kan? Siapa dia? Iya artis yang main adegan film gituan *Bukan pemain film Crazy Little Thing yeaah.  Kali ini mendapat lo salah kawan. Gue nggak mirip Ariel, gue lebih mirip Luna Maya.

Daaannnn... yang paling males banget adalah ketika gue dimirip-miripin sama murid gue sendiri. Di Sudirman misalnya, ketika gue masuk kelas yang katanya ada yang mirip gue, kelas selalu gaduh, neriakin gue "Kaakk... ada adenya tuh!". Setiap kali mereka ngomong gitu rasanya pengen gue keluarin tuh anak, terus diiket di pohon biar nggak gangguin abangnya ngajar. Atau gue suruh ke warung beliin Pop mie di warung Tante Olen.(Ups..faktanya gue nggak pernah berhasil nyuruh ade kandung gue ke warung kalau lagi di rumah. Abang yang baik kan?)

Nah, di tempat gue ngajar sekarang, katanya ada murid SMP  yang mirip gue. Ya Tuhan.. sampai di gunung gini pun masih ada aja yang mirip gue.

Apapun alasannya dimirip-miripin itu nggak enak brader. Jangankan masalah muka, masalah baju aja kalau ada yang mirip malunya lumayan. Gue pernah ngalamin kejadian itu. Baju gue mirip cewek, di postingan ini gue pernah nulis masalah itu di SINI 

======================================================================

Gue. Di kafe. Sendiri

"Mas, Mas, vokalisnya Sheila On7 ya?"
"Bukan, Mbak. Mbak salah orang"
"Mas, Mas kan vokalisnya Sheila On7?"
"Bukan, Mbak. Saya bukan vokalisnya Sheila On7!!"
"Tuh, kan bener, Mas ini vokalisnya Sheila On7"
(Hening)
"Mas, kok nggak dijawab. Mas kan volisnya Sheila On7?"
"Iya, saya vokalisnya Sheila On7. Emang kenapa, ah??"
"Kok, ndak mirip?"
(ZZZzzzzzZzZzzzz...)




SELANJUTNYA >>

Rabu, 19 Maret 2014

MANTRA PENGHIBUR DIRI

Wahai Tuhanku Yang Maha Agung..TOLONG ingatkan kepadaku tujuan Engkau menciptakan diriku..

 
MANTRA PENGHIBUR DIRI:

"Ahmad Bhadick, perkenalkan ini Ahmad Bhadick- Orang penting, benar-benar penting. Bhadick, Kamu pemikir besar. BERPIKIRLAH BESAR mengenai segalanya. Kamu memiliki banyak kemampuan melakukan pekerjaan dengan sangat baik, jadi lakukanlah pekerjaan dengan SANGAT BAIK.

Bhadick, Kamu percaya akan KEBAHAGIAAN, KEMAJUAN, dan KEBERHASILAN.

Jadi:
Berbicaralah hanya tentang KEBAHAGIAAN

Berbicaralah hanya tentang KEMAJUAN

Berbicaralah hanya tentang KEBERHASILAN

Kamu memiliki banya PENDORONG, Dik, banyak PENDORONG. Jadi manfaatkan PENDORONG itu. Tidak ada yang dapat menghentikan Kamu, Dik, tak satupun

Dik, Kamu ANTUSIAS. Biarkan ANTUSIAS kamu terlihat.

Kamu tampak baik, Dik, dan Kamu merasa baik. Tetaplah begitu.

Ahmad Bhadick, Kamu orang HEBAT kemarin dan kamu akan menjadi HEBAT hari ini. Sekarang MAJU terus , Dik. MAJU TERUS!!
SELANJUTNYA >>

Jumat, 14 Maret 2014

Belajar Biola. Iri sambil berdiri

Sore ini gue abis belajar biola. Sendiri. Dan dapat dipastikan suara biolanya jadi memprihatikankan. Ternyata nggak semudah main gitar. Di tengah kejengkelan gue akibat suara biola yang terdengar fales, akhirnya gue coba cari-cari tutorial di youtube, kali aja gue biasa belajar dengan mudah. Untuk zaman sekarang itu apa sih yang susah. Gak bisa panggil guru privat tinggal tongkrongin aja internet, dan lo bebas belajar biola sambil kayang.

Alih-alih belajar biola via internet gue malah nongkrongin youtubenya JuNCurrtAhn. Kampret..., kapan gue bisa main biola kayak gitu ya. Coba aja liat kepiawaiannya dia dalam bermain alat gesek itu. Sebenernya gue juga kepengen rekam hasil pembelajaran gue sore ini kayak dia, tapi atas nama tenggang rasa, demi kuping kalian untuk menjaga agar tidak stroke, akhirnya gue urungkan niat itu. Dan gue lebih memilih upload videonya si Jun, dan dijamin nggak bakalan stroke kalau kalian denger suara dari permainannya.

Selamat menikmati. Doakan gue biar bisa main kayak gitu juga, biar bisa gue taro di youtube juga. Oke, gue lanjut belajar lagi nih...Semangat!!

Someone like you

 Lighters- Eminem


When i was your man- Bruno

A Thousand years- Christina


 Dan masih banyak lagi. Langusung aja ke youtubenya ya. Semoga menginsprirasi!!



SELANJUTNYA >>

Minggu, 09 Maret 2014

Putus? Gapapa, Asal Jangan Kaya Gini


"Aku mau kita putus!!" 
Suara seorang wanita di ujung telepon.

"Emang salah aku apa?" Tanya seorang pria penuh kebingungan dan hampir berlinangan air mata karena tidak kuat dengan kenyataan yang ada di depannya.

"Kamu nggak salah. Aku ngerasa hubungan kita ini memang udah nggak cocok aja" kata wanita itu santai namun cukup menghujam jantung.

"Nggak cocok dimananya?"  Air mata pria ini mulai deras membasahi pipi hingga ke kaki dan mengalir ke got-got di depan rumahnya.

"Ya, nggak cocok aja. Lagian juga aku harus konsentrasi belajar. Aku nggak mau nilai aku jelek cuma gara-gara kita pacaran. Semoga kamu bisa ngertiin aku. Plis!"

"Iya aku ngerti kok. Tapi kenapa solusinya harus putus? Emang nggak ada cara lain?"

"Aku sudah mikir matang-matang soal ini. Dan... ya, itu, solusi terbaiknya kita nggak berhubungan dulu"

"Sampai kapan?" Air mata pria itu keluar semakin deras yang hampir membuat lepas kedua bola matanya yang coklat

"Aku juga nggak tahu"

"Jadi sekarang kita putus?" Tanya pria itu melemah.

"Iya. Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dari aku"

Pria itu pingsan dan hanyut kebawa arus air matanya sendiri, menghilang bersama harapan-harapan dan mimpi yang ia ukir selama ini bersama sang pujaan hatinya."

Haloo..!! haloo.. hallo!! suara seorang wanita di corong telepon yang tergantung membentur lemari pendingin yang terletak di sudut ruangan rumah itu.

=========================================================================

Ada yang bilang cinta itu nggak berlogika, sampai-sampai untuk putusnya pun kadang ada juga yang nggak masuk akal. Tapi apapun alasannya. Benar atau salah. Masuk akal atau tidak. Kalau memang mesti putus, ya putus aja. Cinta itu nggak bisa kayak poninya Andhika Kangen Band keleus. Udah nggak pantes di cocok-cocokin. Sekeras apapun sepasang kekasih mempertahankan hubungannya, kalau memang belum jodoh ya pasti akan lepas juga. Begitu sebaliknya, sekeras apapun rintangan, halangan serta cobaan terhadap hubungan mereka, kalau memang mereka berjodoh, yang akan bisa juga mereka lalui.


Simple menurut gue. Jalanin aja cinta yang sudah ada di depan mata sambil kita terus berusaha mencitai pasangan dengan penuh ketulusan. 
Nanti kalau terlalu tulus, kalau diputusin nggak nyesek? Itu hanya soal mindset. Nyesek atau nggak, tergantung kita yang mengartikan.

Kok, kamu bijak Bhadick?

Siapa bilang? Gue cuma pernah jadi korban, sampai akhirnya gue menemukan titik untuk berdamai sama diri sendiri. Dan gue selalu bilang sama diri gue sendiri "Bhadick, nggak boleh ada yang bisa nyakitin diri lo, tanpa seizin diri lo sendiri!!"

Kata itu muncul ketika gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri, dimana seorang teman dekat menyayat-nyayat tangannya dengan sebuah silet setelah beberapa jam diputusin pacarnya. Darah yang keluar begitu banyak dari tangannya. Gue membisu sepersekian detik sebelum akhirnya ia benar-benar pingsan berlumuran darah, terkapar di depan gue.

Itu sinting, Men. Cukup temen gue aja yang ngalamin peristiwa na'as kayak gitu. Sampai detik ini, sampai dengan gue nulis blog ini. Bekas luka itu masih ada di tangan teman gue itu. Sementara pujaan hatinya sudah nikah dengan orang lain yang mungkin nggak lebih baik dari temen gue. (Iya, karena temen gue diputusin akibat terlalu baik) 

Terlalu baik saja kadang suka salah. Dan selalu saja menjadi alasan pasangan untuk memutuskan pasangan yang lain. Oke. Mungkin niat baiknya ingin putus secara baik-baik. Tapi mau baik atau nggak, yang pasti putus itu menyakitkan.

Gue nggak tahu kenapa gue nulis ini, dan ceritain itu. Yang pasti semoga kita bisa mengambil hikmahnya saja. Kalau kita pacaran, resiko yang udah pasti adalah putus. Pacarmu itu adalah calon mantanmu, kecuali keduanya mempunyai niat dan komitmen yang berbalut doa untuk kejenjang yang lebih serius

Oke. Gue bukan dewa yang nggak sedih kalau diputusin pacar. Tapi gue juga nggak mau kejadian yang menimpah kawan gue itu terjadi juga sama gue atau sama pembaca blog ini. Nah mungkin tulisan gue ini, klik aja Tips Mengatasi Patah Hati bisa membantu. Kalau nggak bisa membantu mungkin bisa nambahin gitu, biar yang lain kebantu.  Pokoknya gitu deh, sorry aja kalau tips dari gue nggak memuaskan. Jelas, karena gue bukan alat pemuas. Hihihi..





SELANJUTNYA >>