Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Juni 2014

Mengingat Bapak

Tidak seperti biasanya saya naik bus memilih duduk di bangku yang paling depan. Dari zaman kuliah hingga sekarang ini, duduk di bangku belakang adalah favorite saya. Di bangku belakang itulah saya bisa mengamati orang-orang di depan saya berada. Entah mereka yang sedang menawar minuman dingin di dalam bus, entah mereka yang sedang memilih tempat duduk, atau apapun termasuk beberapa penumpang yang tidak kebagian tempat duduk yang sedang terkantuk kantuk sambil berdiri. Apapun gerak gerik kegiatan di depan saya di dalam bus, tak luput dari sorot mata saya yang kandang menyodorkan persoalan tersendiri dalam tempurung otak ini. 

Malam itu (tanggal 1 Juni 2014) saya memilih duduk di barisan paling depan, persis di sebelah seorang bapak. Dengan nada sopan saya meminta izin untuk permisi duduk di sebelahnya. 

"Silahkan, Mas!" Sambut bapak itu ramah. Saya menyandarkan badan ke bangku bus sambil memangku tas yang berisi laptop kesayangan. 

"Ini lewat ciawi kan, Pak?" Tanya saya kepada bapak itu, memastikan. 

"Iya, benar, Mas. Memang tujuan, Mas mau ke mana?"

"Ke Sukabumi, Pak" 

"Oh, sama. Saya juga mau ke Sukabumi. 

Kira-kira seperti itu percakapan awal kami yang akhirnya berbuntut panjang hingga bus itu benar-benar sampai di Ciawi. (Walaupun faktanya saya lebih banyak terdiam dan cuma manggut-manggut)

Kalau berbicara soal anak, saya rasa bukan hanyak bapak tua di dalam bus itu yang sanggup bercerita panjang sambil penuh semangat. Para bapak di muka bumi ini sudah tentu akan begitu excited jika menceritakan keberhasilan anaknya.

"Alhamdullilah... Anak saya sekarang sudah berhasil semua, Mas."

"Alhamdulillah ya, Pak"

Sepanjang perjalan itu kadang saya mengutuk diri sendiri. Ya, saya teringat bapak, orang tua saya di rumah. Yang sampai saat ini belum bisa saya bahagiakan. Entahlah kebahagiaan macam apa yang bisa saya persembahan untuk beliau. Wajahnya yang penuh kerutan perjalanan hidup, membuat saya paham benar ia adalah sosok lelaki pekerja keras. Semakin saya memandang wajah bapak, semakin saya bersalah.  Terakhir saya melihat wajah bapak penuh kebahagiaan adalah ketika saya berhasil masuk Universitas Negeri, selebihnya pancaran wajah itu tak tampak lagi. Mungkin ia kecewa, namun tak tega ia utarakan. Saya belum bisa seperti apa yang bapak inginkan.

Obrolan di dalam bus membuat saya sadar, bahwa saya sudah terlalu lama hidup dalam kesantaian. Rasa nyaman dan aman adalah jelas musuh kesuksesan saya saat ini.

Semoga saja bapak saya di rumah suatu saat nanti akan meceritakan  kepada pria di dalam bus prihal kebarhasilan saya. Dengan excited dan dengan penuh semangat 45x2 tentunya.

Thanks to bapak tua di dalam bus. Selain menyadarkan saya akan sebuah pencapaian, dirimu juga udah bayarin ongkos Rambutan-Ciawi. Semoga kita bisa ketemu lagi.





SELANJUTNYA >>

Selasa, 25 Maret 2014

Mirip Yang Bikin Miris.

Entah untuk yang keberapa sekian kalinya gue dibilang mirip si inilah.. atau si itulah. Hadeh.. face market banget. Kalau dimiripin sama orang-orang keren sih nggak papa, kayak Mario Maurer misalnya, itu lho pemeran Khun Shone dalam film Crazy Little Thing (Hahahaha ngarep dot com. Ups..! ketahuan deh tontonan gue. Sumpah demi apapun itu gue dicekokin ade kelas buat nonton film gituan *hmmm.... bagus sih filmnya. Gubrak)

Tuh..mirip sama gue kan?? Ya nggak? ya nggak?

Tapi faktanya memang selalu ada saja stok orang-orang yang mirip kita lho. Nggak percaya? Nih contohnya:

Sophie Candiex, 29 tahun dan Catherine Trudeau, 31 tahun. Keduanya aktris dari Kanada. Beuh sebelas dua belas mukanya.


Kalau yang di bawah ini namanya Sylvie Gagnan dan Caroline Dhavernas. Gila mirip abis.


Nah kalau kakek yang dua ini namanya Rudi Kistler dan MaurusOehman. Bener-bener kayak kembar dari dalam perut.

Dan masih banyak lagi sebenernya orang-orang mirp di dunia ini. Di Indonesia pun banyak. Pak Jokowi misalnya. Atau  Untuk jelasnya liat aja blog INI, yang kebetulan gue juga ngambil gambar-gambar di atas dari situ.

Tapi yang lebih sinting lagi, di suatu forum Kompas Online ada yang mengatakan bahwa kita juga memiliki kembaran gaib dan malah disitu dijelaskan bagaimana caranya mengetahui kembaran gaib tersebut. Geblek. Karena temanya gue nggak mau berbau mistis jadi gue nggak bahas itu. 

Oke. Terus kalau lo mirip sama siapa, Dick?

Menurut teman rumah gue yang sekarang stay di Bandung (Hai apa kabar? Masih kenal gue? Mungkin dia bakal jawab. Siapa loh?), katanya gue mirip sama Duta Sheila On7. Gue juga bingung mirip dari mananya. Gue rasa temen gue itu ngidap mata katarak deh. Atau pas bilang gue mirip Duta dia baru aja kejedot tembok Berlin.

Nah, kalau menurut beberapa teman kamupus gue. Katanya gue mirip Ryan D'masiv. What? Ryan De'nasib mungkin? Duh, penderitaan apa lagi ini.
Makanya pas D'masiv tampil di tivi dengan lagu-lagu super galaunya, emaknya temen gue teriak-teriak manggil anaknya yang lagi nyapu di halaman rumahnya, "Teteh, Teteh, si Ahmad masuk tivi ya?" Temen gue lari ke ruang tamu, pas di liat bukan gue. Dia narik napas panjang. "Cuma mirip, Miii" katanya sambil mengatur napas."Emang iya?" kata emaknya dengan nada polos.

Terus, menurut Ibunya Eka Nanda, adek kelas gue di SMA dulu, gue dibilang mirip Abidzar anaknya Alm Uje. Hado ini dari mana miripnya ya? Tapi gue coba berpikir postif. Abidzar? tuh anak kan imut banget. Berarti gue imut dong? Huek. Muntah Keong.

Ibunya Eka mikir agak lama sambil menatap muka gue yang agak memelas "Kak, Ahmad mirip siapa yaa? sambil dia mikir gue deg-degan kayak mau nungguin pengumuman lomba. "Hmmm.. oooh iyaa? Anaknya Uje" kata ibunya dengan nada seneng bukan main kayak abis nemuin jawaban matematika yang super susah. "Ooh..iya semua ade-adenya mengamini pernyataan ibunya. Dan gue kepengen rasanya jadi liliput mengicil dan menghilang dari rumah itu. Ting! Ok. Gue lebay.

Sedangkan menurut temen gue si Tommy ade kelas gue sekaligus patner mengajar di STUDIO5, katanya gue mirip Ariel Noah, dan dia sampai nulis diblognya tentang masalah kemiripan gue itu. Kampret!! Entah gue harus merasa terhina atau terhibur. Ariel? Lo tau Ariel kan? Siapa dia? Iya artis yang main adegan film gituan *Bukan pemain film Crazy Little Thing yeaah.  Kali ini mendapat lo salah kawan. Gue nggak mirip Ariel, gue lebih mirip Luna Maya.

Daaannnn... yang paling males banget adalah ketika gue dimirip-miripin sama murid gue sendiri. Di Sudirman misalnya, ketika gue masuk kelas yang katanya ada yang mirip gue, kelas selalu gaduh, neriakin gue "Kaakk... ada adenya tuh!". Setiap kali mereka ngomong gitu rasanya pengen gue keluarin tuh anak, terus diiket di pohon biar nggak gangguin abangnya ngajar. Atau gue suruh ke warung beliin Pop mie di warung Tante Olen.(Ups..faktanya gue nggak pernah berhasil nyuruh ade kandung gue ke warung kalau lagi di rumah. Abang yang baik kan?)

Nah, di tempat gue ngajar sekarang, katanya ada murid SMP  yang mirip gue. Ya Tuhan.. sampai di gunung gini pun masih ada aja yang mirip gue.

Apapun alasannya dimirip-miripin itu nggak enak brader. Jangankan masalah muka, masalah baju aja kalau ada yang mirip malunya lumayan. Gue pernah ngalamin kejadian itu. Baju gue mirip cewek, di postingan ini gue pernah nulis masalah itu di SINI 

======================================================================

Gue. Di kafe. Sendiri

"Mas, Mas, vokalisnya Sheila On7 ya?"
"Bukan, Mbak. Mbak salah orang"
"Mas, Mas kan vokalisnya Sheila On7?"
"Bukan, Mbak. Saya bukan vokalisnya Sheila On7!!"
"Tuh, kan bener, Mas ini vokalisnya Sheila On7"
(Hening)
"Mas, kok nggak dijawab. Mas kan volisnya Sheila On7?"
"Iya, saya vokalisnya Sheila On7. Emang kenapa, ah??"
"Kok, ndak mirip?"
(ZZZzzzzzZzZzzzz...)




SELANJUTNYA >>

Rabu, 19 Maret 2014

MANTRA PENGHIBUR DIRI

Wahai Tuhanku Yang Maha Agung..TOLONG ingatkan kepadaku tujuan Engkau menciptakan diriku..

 
MANTRA PENGHIBUR DIRI:

"Ahmad Bhadick, perkenalkan ini Ahmad Bhadick- Orang penting, benar-benar penting. Bhadick, Kamu pemikir besar. BERPIKIRLAH BESAR mengenai segalanya. Kamu memiliki banyak kemampuan melakukan pekerjaan dengan sangat baik, jadi lakukanlah pekerjaan dengan SANGAT BAIK.

Bhadick, Kamu percaya akan KEBAHAGIAAN, KEMAJUAN, dan KEBERHASILAN.

Jadi:
Berbicaralah hanya tentang KEBAHAGIAAN

Berbicaralah hanya tentang KEMAJUAN

Berbicaralah hanya tentang KEBERHASILAN

Kamu memiliki banya PENDORONG, Dik, banyak PENDORONG. Jadi manfaatkan PENDORONG itu. Tidak ada yang dapat menghentikan Kamu, Dik, tak satupun

Dik, Kamu ANTUSIAS. Biarkan ANTUSIAS kamu terlihat.

Kamu tampak baik, Dik, dan Kamu merasa baik. Tetaplah begitu.

Ahmad Bhadick, Kamu orang HEBAT kemarin dan kamu akan menjadi HEBAT hari ini. Sekarang MAJU terus , Dik. MAJU TERUS!!
SELANJUTNYA >>

Senin, 13 Januari 2014

Jakarta Butuh Pahlawan Kebanjiran

Horeee...!!!  Banjir datang lagi. Sebagian senang, sebagian sedih, sebagian lagi bingung harus senang atau sedih..Nah loh?

Rentetan keluhan terpampang panjang di sosial media bernama twitter. Resent update BlackBerry menyuarakan hal yang sama. Ada yang memaki,  ada yang menyalahkan golongan tertentu, bahkan menyalahkan pemerintah. Kalau seperti ini saya jadi kangen Pak Jokowi. Kami menunggu seorang pahlawan Jakarta untuk menanggani banjir Pak. Bapak kah orangnya?

Adakah seseorang yang brilliant hadir di Jakarta ini khusus untuk menangani banjir? Tanpa butuh waktu lama pastinya.

Kalau memang tidak ada kenapa masalah banjir selalu menjadi bahan materi klasik kampanye para wakil rakyat? Faktanya siapapun yang naik belum pernah benar-benar bisa mengatasi banjir tuh.

Harusnya dalam mengatasi banjir diperlukan badan khusus seperti densus 88 atau KPK agar masalah banjir ini benar-benar ditangani secara khusus dan serius oleh badan tersebut. Halah tahu apa saya.  

Untuk menghindari keluh kesan terhadap banjir, saya lebih memilih BBMan sama orang-orang yang menyenangkan saat banjir tiba. Berselimut tebal sembari menyeruput susu coklat buatan ibu  adalah cara saya agar terhindar dari kekesalan terhadap banjir (walau saya sempat memaki lantaran buku-buku kesayangan saya nyemplung ke lantai yang sudah tergenang air)

Anak-anak kecil  tetangga beda lagi. Mereka gembira luar biasa kalau banjir datang. Masih pagi sekali mereka sudah siap dengan baju renangnya (maksudnya sudah telanjang dada mendorong-dorong sesuatu yang dianggapnya perahu)

Saya menyaksikan dari balik jendela rumah ikutan senang melihat keluguan mereka. Ada rindu yang mendalam. Ada kenangan yang tertinggal dikeriangan mereka. 

Ya, selama ini saya lupa bergembira terhadap hal-hal yang tidak saya inginkan. Saya lupa mendesain toh kalau gembira itu tidak hanya untuk sebuah kebahagiaan. Saat masalah rumit datang pun ada saatnya kita perlu bergembira, kali aja bisa memperingan masalah tersebut. Kini saya lupa terhadap teknologi pikiran semacam itu.

Dimana jika ia marah ia cepat memaafkan dan melupakan, jika ia sedih ia mudah terhibur hanya dengan satu batang coklat, jika ia melihat kubangan (masalah) ia menghampirinya tidak menghindarinya. 

Kini saya kehilangan teknologi pikiran semacam itu. Dan gara-gara anak tetangga dengan suka cita menyambut banjir walaupun rumahnya sudah tenggelam setengah, saya jadi berpikir dari pada mengeluh mending lepas baju ikutan mereka. Tapi otak dewasa saya melarangnya atas definisi rumit bernama "tahu diri"
SELANJUTNYA >>

Sabtu, 31 Agustus 2013

Kematian Nenek

Tepat hari Rabu tanggal 28 Agustus 2013 jam 09.30, Nenek dipanggil Sang Pemilik Nyawa, Allah SWT. Sedih. Sudah tentu. Siapapun di dunia ini wajar sedih jika kehilangan apalagi kehilangan orang-orang yang kita cintai.Namun sebatas mana kesedihan itu menyelimuti diri? Sebesar keikhlasan kita masing-masing tentunya. Manusia memang pasti mati, tetapi dengan yang pasti saja kita cenderung memperlakukannya seperti tidak pasti, malah terkadang tidak terima dengan kematian orang-orang yang kita cintai, bahkan ada yang jatuh meratap pinsan karena tidak kuat menghadapi kenyataan. Jawabannya sederhana; waktu kematian itu yang tidak pasti. Kematian yang pasti dengan waktu yang tidak pasti itulah yang membuat manusia harus senantiasa menjaga diri dari segala bentuk hal-hal yang merugikan diri, dan doa saya semoga ketika kematian itu menimpah diri kebaikan-kebaikan dan kriteria yang dibutuhkan sudah saya miliki. Khusunul Khotimah.

Usia nenek memang sudah terbilang tua. Hampir 90 tahunan. Allah memberinya bonus usia sekitar 30 tahun. Semoga nenek senantiasa disayang Allah di sana.Kami mencintaimu, nek. Ini sebenarnya adalah alasan buat kita sedih, tapi karena kecintai kami padamu kami berusaha tegar dan ikhlas. Terima kasih Tuhan, Engkau hadirkan kami untuknya walau terutama saya belum bisa berbuat banyak berbakti padanya ketika ia masih berada di tengah-tengah kami

SELANJUTNYA >>

Kamis, 16 Mei 2013

WARISAN RASA TAKUT.....

Ini gue kopas dari tulisan gue yang gagal diterbitkan. Karena ada sesuatu hal. Kalian akan tau kenapa tulisan itu menjadi tulisan gagal. Ini hanya berbagi pengalaman sama kalian. Ambil baiknya, buang buruknya.
Cekidot!!!

====== WARISAN RASA TAKUT ======
Saya amatlah penakut. Dari kecil hingga sekarang rasa takut itu masih ada. Rasa takut yang dipupuk oleh lingkungan yang cenderung alfa, membuat daftar ketakutan saya kian bertambah. Mulai dari takut ondel-ondel, takut gelap, takut setan, sampai takut ngelewatin pohon kecapi yang berada di pinggir jalan dekat rumah. What? Takut pohon kecapi?

Saya akan mulai dari ketakutan-katakuan saya yang nggak penting. Takut ondel-ondel. Boneka besar berwajah kayu itu bikin saya menjerit histeris dan spirin tanpa intruksi. Di otak saya, boneka besar itu serasa hidup. Hal itu membuat saya tak peduli kalau ternyata dibaliknya adalah manusia. Penyutradaraan otak begitu mencekam jika melihat goresan-goresan wajahnya yang tak wajar menurut akal. Saya tidak tahu kenapa saya takut sama ondel-ondel. Tapi itulah kenyataan saat saya kecil dulu.
Apakah lingkungan sangat berpengaruh? Saya rasa iya.
Saya masih ingat ketika teman-teman saya lari tunggal-langgang gara-gara sepasang ondel-ondel yang datang dari kejahuan. Akibatnya saya juga ikutan lari. Saya juga tidak tahu kenapa meski lari. Pokoknya saya harus lari.
Kalau melihat teman-teman lari seperti itu pasti ada hal yang membahayakannya, dan tidak menutup kemungkinan akan membahayakan saya juga. Makanya saya ikutan lari. Daripada mati konyol, pikir saya waktu itu. Dari pada saya diterkam, begitu yang terlintas dibenak saya dulu. Kalau sudah begitu, saya akan menutup pintu rumah rapat-rapat dan menarik nafas panjang sambil bersandar di balik pintu. Jika dirasa sudah aman, baru saya akan keluar rumah lagi.
Saat kecil praduga-praduga saya akan ondel-ondel begitu negatif. Sehingga jika ada ondel-ondel datang, mesti saya lari dan menutup pintu rumah rapat-rapat. 

Belakangan ini saya baru ngeuh kenapa anak-anak di lingkungan saya pada takut ondel-ondel. Tetangga saya, misalnya. Jika sedang menyuapi anaknya makan, dan jika satu suapan saja ditolak, orang tua ini kerap bilang “Ayo, abisin, nanti ada ondel-ondel lho”
Tentu saja otak anak ini akan mengkaitkan sesuatu yang buruk terhadap ondel-ondel. Dan benar saja, ketika terdengar suara tetabuhan, dan anak yang lain teriak “Ada ondelll-ondelllll!!!!!” Sontak semua anak di lingkungan saya lari. Yang tengah main bola, bolanya ditinggal. Yang tengah main kelereng, kelereng ditinggal. Duh, cape deh...

Belum lagi ketika malam hari datang. Selain takut ondel-ondel, saya juga takut ngelewatin pohon kecapi yang berada di pinggir jalan dekat rumah. Jelas-jelas kalau siang hari pohon kecapi itu suka saya panjat, mengambil buahnya yang begitu manis dan empuk di lidah. Atau sekedar bermain bersama teman sambil menyaksikan Keoang Mas Taman Mini Indonesia yang dapat terlihat dari atas pohon besar tersebut. Tetapi justru ketika magrib tiba semua anak takut untuk melewati pohon kecapi itu. Kesaksian Bapak dan beberapa tetangga tentang bersemayamnya kuntilanak di pohon besar itu membuat kami tidak berani berjalan santai jika harus melewati pohon besar itu. Khususnya saya, akan lari sekencang mungkin jika harus melewati pohon kecapi tesebut. Dan sampai pohon kecapi itu di tebang, saya belum pernah mendengar atau melihat sedikit pun kuntilanak tersebut. Aneh kenapa saya takut. Tapi itu fakta yang terjadi.

Ini yang sampai saat ini saya tidak habis pikir, kenapa juga saya mesti takut ke kamar mandi malam hari pada waktu itu. Kalau terpaksa ingin ke kamar mandi pada malam hari saya pasti minta diantar dengan tidak menutup pintu kamar mandi tersebut. Untung tidak sampai saya sebesar ini rasa takut itu hadir. Sumpah. Ribet jika selamanya kita menjadi seorang penakut. Mandi terus pintunya dibuka? Sinting!!

Emang ada apa sih dengan malam hari? Akhirnya saya bertanya juga sama diri sendiri.
Malam hari identik dengan hal-hal menyeramkan, apalagi malam jumat. Konon kalau malam hari setan-setan pada keluar. Entah saya mendapatkan teori dari mana waktu itu.
 Tapi yang menambah horor dikehidupan saya kecil, almarhum kakek setiap malam jumat sering mengadakan ritual terhadap benda-benda pusakanya. Pasti di sekitar rumah (Yang kebetulan rumah kakek hanya bersebelahan dengan rumah saya) tercium bau kemenyan yang sangat menyengat. Menurut saya bau kemenyan identik dengan horor.
 Ibu tidak pernah alfa menyuruh semua anaknya masuk ke dalam rumah jika magrib datang. sembari berkata “Ayo masuk!! Nanti ada setan di luar.” 

Emang kalau magrib datang hantu-hantu pada keluar? Terus siangnya pada kemanaaa?? 

Pasti ada niat baik diantara larangan-larangan orang tua. Mungkin caranya saja yang salah. Karena walau niat yang benar, tapi caranya salah, akan rawan kesalahan. 
 Gadis perawan nggak boleh duduk di depan pintu, nanti jodohnya jauh. Begitu pesan orang tua-tua dulu. Padahal jelas-jelas kalau duduk di depan pintu akan mengganggu orang yang lewat, bukan jodohnya jauh. Hadeh.

 Tetapi tidak bisa dipungkiri, rata-rata orang, bahkan di zaman penerangan seperti sekarang ini orang masih cenderung percaya pada mitos-mitos serta dongeng-dogeng zaman dulu. 

Pertanyaan yang menggelitik di otak saya adalah kenapa para hantu tidak keluar siang hari? Apakah hantu takut sama matahari, seperti yang saya lihat di film-film horor?
Beberapa minggu lalu saya membicarakan hal ini bersama teman kampus di sebuah tempat makan di Bekasi.
“Emang lo yakin kalau siang hari nggak ada hantu?”
Film-film horor, sudah mendotrin saya untuk takut ke kamar mandi sendiri. Penyutradaraan otak saya ketika kamar mandi begitu liar.
Nanti ada tangan dalam closet
Ada rambut-rambut panjang di bak mandi. Ketika saya menyiduk air jangan-jangan air berubah menjadi darah. Atau apalah. 
Yang pasti saya takut ke kamar mandi sendirian pada malam hari waktu itu. 
 
Terkadang rasa khawatir berlebihan para orang tua terhadap anaknya dapat memupuk rasa takut dalam diri anak itu sendiri. Dari rasa khawatir anak ke sekolah sendirian sampai rasa khawatir anak mendapat pasangan yang salah.
Tentu orang tua sayang terhadap anaknya. Mereka tidak mau terjadi apa-apa terhadap anaknya. Apalagi menyangkut hal-hal yang buruk. Tetapi volume rasa khawatir itu sendiri mesti dikecilkan.
Intinya rasa takut itu kerap kali dipupuk di dalam kehidupan kita. Entah melalui orang tua, teman, bahkan televisi dan film-film. Hingga secara tidak sadar rasa takut itu lebih banyak mengendap di dalam diri ketimbang rasa keberanian.
Yang pasti rasa takut itu tidak boleh dihadirkan secara berlebihan di dalam diri kita. Karena rasa takut itu dapat mengalahkan ketekunan serta dapat mengundang kegagalan dalam setiap bentuk yang bisa dipikirkan. Rasa takut juga dapat mengkaburkan ingatan, mengakibatkan orang tidak bisa tidur, serta mendatangkan kesengsaraan
Tetapi apakah memiliki rasa takut itu salah? Belum tentu.
Tuhan menciptakan rasa takut di dalam diri manusia tidak lain pasti hanya untuk beribadah kepadaNya. Takut pada dosa membuat enggan mendekati kepada perbuatan dosa.
Ketakutan yang dikelola dengan baik akan melahirkan kekuatan yang menggerakan kebangikitan. Ketakutan yang dibarengi rasa keinginan hidup yang lebih baik dan terus bergerak ke arah perbaikan, saya rasa akan menguntungkan ketimbang diam di tempat menunggu keburukan-keburukan menghujam.
Yang jelas semua orang pemberani di dunia ini bukan berarti ia tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah pengusaan rasa takut, bukan ketiadaan rasa takut. Rasa takut tidak lebih dari keadaan pikiran belaka.
Pasti ketakutan-ketakutan saya di atas bisa iya, bisa tidak, mewakili ketakutan-ketakutan pada manusia. Dan yang pasti tidak semua orang demikian. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk sepenuhnya mengontrol pikirannya sendiri.
Ketakutan itu akan hilang dengan sendirinya, seiring waktu serta pemahaman terhadap hal-hal yang dianggap menakutkan.
Ada yang lebih mendasar dari ketakutan-ketakuan tersebut sebenarnya. Salah satunya takut akan kemiskinan
Rasa takut akan kemiskinan tumbuh dari kecenderungan manusia yang diwarisi dari leluhurnya untuk memangsa manusia di bidang ekonomi. Jelas gambaran-gambaran kesengsaraan serta kehinaan muncul bersama datangnya kemiskinan. Karena itu pula manusia begitu takut akan kemiskinan. Tidak heran begitu banyak manusia yang berhasrat untuk memperoleh kekayaan, entah melalui cara halal atau sebaliknya katakanlah korupsi seperti bapak-bapak yang terhormat itu.
Seberapa jauh batas harapan saya terhadap negeri ini. Sulit dimengerti. 
Kendati demikian segala yang menyangkut kebaikan-kebaikan diri wajib terus berjalan. Saya terkadang begitu terbelenggu terhadap masa lalu, baik prihal buruk maupun baik. So,ada lho keinginan saya memainkan ondel-ondel. Kira-kira berat nggak ya??

By: Ahmad Bhadick

SELANJUTNYA >>

Selasa, 30 April 2013

Kado Sang Pacar


Siapa sih yang nggak senang kalau dikasih kado? Apalagi yang ngasih kado pacar sendiri. Harga bukan lagi menjadi ukuran pastinya. Kado apapun terasa sangat istimewa tentunya. Mau topi kek, sendal jepit, atau kaos oblong yang harganya lima belas ribuan sekalipun, dapat dipastikan barang tersebut, barang berharga dari sang pacar. Dan menjadi barang keramat klo udah putus.

Dan sebagai seorang cowok yang punya wajah nggak jelek cuman gagal dikatakan ganteng, gue pernah berada diposisi itu. Pacaran, dan dikasih kado. Saking senangnya, gue nggak mampu menguraikan kesenangan itu ditulisan ini *Ngelap ingus. Banting tisu

Tapi senang dan sedih itu memang tidak pernah bisa diprediksi. easy come easy go. Padahal pikiran kita sendirilah yang menciptakan senang dan sedih tersebut. Otaklah yang menerima segala bentuk penyebab senang dan sedih. Kalau nggak mau sedih ya sudah, beri penyebab sedih itu sebagai suatu hal yang menyenangkan. Duh ribet...

-Apapun yang terjadi tidak ada artinya sampai kita sendiri yang memberi arti.
-Otak hanya melaksanakan apa yang diberitahukan kepadanya.

Kalimat-kalimat itu yang kira-kira cocok buat gue saat itu.
Kado istimewa dari sang pacar begitu cocok di badan rupanya. Ya. Gue baru aja dikasih hadiah t-shirt hijau bergaris putih. Keren. Tingkat kepedean gue naik beberapa persen setelah mengenakan t-shirt tersebut. It's cool..


Serasa nggak mau menyia-nyiakan kesempatan. Kepedean gue limited edition masalahnya. Gue pake t-shirt itu ke kampus. Ahaayyy...serasa punya wajah baru, namun semu.

Tepat jam 10 pagi, seusai perkuliahan mata kuliah khusus, gue langsung lanjut kuliah mata kuliah umum. Gue harus ke kampus pusat kalau mau ngikutin mata kuliah umum tersebut. Dan asal lo tau. Kampus pusat variasi cewek-ceweknya lebih cakep-cakep. Makanya gue selalu axcited kalau ada kuliah umum. Rumput tetangga memang selalu hijau. (Ini yang nggak perlu kalian tiru. Plis deh, masa hadiah pacar buat tebar pesona ke cewek lain)

Untuk sampai ke kampus pusat, mahasiswa bisa naik metro mini ukuran tiga perempat yang ongkosnya masih seribu rupiah (itu tahun barapa Ahmaaadd??). Sebenernya dulu ada bus kampus yang bisa dimanfaatin buat hilir mudik menuju kampus pusat. Tapi entah lah, hanya Tuhan dan supir bus itu yang tau.

Gue turun dari metro mini dengan kaki duluan. (pengen sekali-kali langsung salto. Cuma mikir.. gue belum nikah)

Gue masuk gerbang kampus dengan slow motion. Angin dingin menyisir setiap wajah gue. Menembus hati yang penuh warna. Gue berjalan tegap saking percaya dirinya. Udara cerah. Pohon-pohon besar kampus itu serasa mengugurkan daunnya. Gue terus menerobos dedaunan kering menuju kelas perkuliahan.


"Met, liat sebelah lo" Tiba-tiba temen gue menggugurkan khayalan gue.
Gue menoleh dengan muka males. Damn...mahasiswi gemuk dengan.. gue rasa itu senyum termanisnya, pake baju yang ternyata mirip baju gue. Tiba-tiba kepala gue pusing. Mata gue berkunang-kunang. Badan gue mengecil kaya liliput.

Dari kejauhan beberapa temen mahasiswi gemuk itu pada cekikikan gak karuan.
What???.. Ini makhluk aneh dari mana datengnya? Gue nengok ke atas. Pohon besar seolah tersenyum puas.

Baju gue? Baju gue? Duh kenapa sama persis.

Sumpah, apapun itu, rasanya nggak enak banget klo ada orang yang bajunya mirip dengan kita. Percayalah, kecuali semua itu udah direnanakan sebelumnya. Misalnya kaya gambar di bahwa ini:

atau ini
 Atau paling nggak, cewek itu kaya foto di bawah ini..(ngarep.com)


Dan begonya gue, kenapa mesti gue sapa tuh cewek gemuk sinting. Awalnya gue mau menetralisir keadaan, supaya terliat biasa aja kalee. Tapi nggak buat temen-temen cewek gemuk sinting itu. Mereka nggak asyik banget.

Dasar cewek-cewek sinting. Mereka histeris kekenceng-kencengnya sampai suaranya ke langit. Gue tambah kikuk bukan main.

Terbukti sudah, ternyata perubahan itu datangnya seketika.

Beberapa puluh menit yang lalu gue betapa pedenya, tapi sekarang ini betapa malunya.

Singkat cerita, tetep aja gue ambil langkah serbu lari kaya di kejar Wewe Gombel. Lagi dengan zig zag nggak karuan menuju kelas perkuliahan.

Oke. Mungkin bagi sebagian orang pernah ngalamin kasus kaya gue, dan mungkin komen; biasa aja sih. Mungkin gue lebay. Tapi kenyataannya gue emang malu tingkat dewa saat itu. Lagian kenapa juga nih baju miripnya sama cewek. Klo pun sama cewek kenapa juga sama cewek gendut itu. Intinya kita emang nggak pernah bisa memilih atau mengetahui situasi yang bakal terjadi.

Menurut pemikiran tolol gue.
Kemungkinan t-shirt yang gue pakai adalah t-shirt cewek. Atau cewek gemuk itu yang pakai t-shirt cowok. Atau t-shirt itu emang buat cewek cowok.
Kemungkinan lain. T-shirt ini kan dari pacara gue. Pacar gue adalah cewek. Ada kemungkinan t-shirt ini emang selera cewek.
Ketika gue perdalam lagi, This-t itu memiliki kancing yang berada di sebelah kanan. Itu artinya... t-shirt yang gue pake t-shirt cewek. Karna pakaian cowok itu kancingnya selalu di sebelah kiri. Kecuali ada perubahan passion.
Pemikiran yang mendalam: Kenapa t-shirt itu tampak keren di badan gue??
Ah, sudalah,,


SELANJUTNYA >>

Kamis, 21 Maret 2013

Baru Suka Sama Orang, eh Orang Lain Udah pada Tau

Nggak enak banget kan suka sama orang, tapi sebelum orangnya tau, semua orang udah pada tau....dan yang mengenaskan adalah orang-orang yang pada tau itu tak lain tak bukan adalah murid-murid gue sendiri sang manusia ababil dengan tingkat level pubersitas yang sangat akut...sehingga tanpa dosa tereak-tereak nggak jelas (sebagian dari mereka ada yang narik-narik gue, dan ada juga yang dorong gue dari belakang *sumpah ini adalah bentuk ma comblang yang gagal segagal gagalnya) ketika orang yang gue suka lewat di depan idung gue...dan apapun dari maksud semua itu, ini adalah hal yang nggak enak banget buat gue bersikap apapun juga. *Kayang jalan mundur 

Berawal dari bisik-bisik sama temen klo gue interest sama seseorang (sorry gue nggak sebutin nama seseorang itu siapa. Lagian udah masa lalu juga.. Tapi perlu gue ceritain, kali aja bisa buat pelajaran kalian)....... Daaannn..... ternyata gue salah curhat sama orang. Damn!!

Jadi pelajaran pertama buat kalian... Pliss..jangan curhat ke sembarang orang, apalagi sama temen yang notabennya ember banget. Bisa-bisa curhatan lo belum kelar, setengah curhatan lo udah sampe ke kuping orang-orang.
 
Mungkin maksud temen gue ini becanda dengan ngecengin gue di depan murid-murid gue. Dan lo tau? Tingkat ke kepo an anak-anak SMA zaman sekarang nggak diragukan lagi. Akhirnya dengan sukses anak-anak tuyul itu tau siapa yang gue suka. Ini mala petaka besar buat kelangsungan hubungan gue sama sang gebetan.

Klo aja temen gue ini gak cerita atau ngomong-ngomong sama murid gue. Atau malah insiden ngecengin gue di depan anak-anak gak dia lakuin, kejadian tarik menarik dan dorong mendorong gak akan ternjadi juga pastinya, dan besar kemungkinan, minggu ini gue udah dinner bareng doi..*Tiba-tiba lagu India terdengar mendayu-dayu di kuping gue.

========================================================================
Ini bukan di FTV yang segalanya senantiasa happy ending. Ini di kehidupan nyata bro. Di mana bad ending siap selalu untuk hadir di setiap perjalan cinta sang manusia. Klo semuanya happy ending, lakon soal cinta manusia di dunia ini sudah barang tentu punah. Manusia sudah tidak akan lagi menghargai cinta, lantaran runtuhnya sebuah perjuangan dalam percintan.

Cinta sulit di definisikan orang-orang normal. Cinta punya arti tersendiri bagi siapa saja yang tengah merasakannya. Dan setiap manusia pernah merasakan jatuh cinta. Dan inilah satu-satunya jatuh yang kepengen diulang lagi oleh setiap manusia. 

Jadi pelajaran ke dua buat kalian. Jika kalian toh akhirnya nanti ketemu bad ending dalam urusan cinta, seperti yang pernah dialami temen gue sampe akhirnya ingin melakukan aksi bunuh dengan meloncat dari tinang jemuran, maka syukurilah semua itu, karena dengan demikian, kematangan kalian dalam urusan perasaan naik satu level. Kalian akan mudah peka terhadap perasaan orang lain yang tengah senasib sama kalian. 

Oke.. balik kecurhatan gue semula. 

Nah, gara-gara peristiwa itu, cewek yang gue taksir akhirnya tau klo gue suka sama dia. Dan yang bikin gue bingung seribu gaya adalah..... gue harus gimanaaaa? 

Tembak? Ngeliat gue aja dengan suka cinta ia menyingkir. Sikap gue malah mungkin hanya terlihat caper di matanya. *padahal emang iya.

Jadi, inti cerita gue adalah jangan pernah ngarep cinta lo bakal seperti cerita di FTV


SELANJUTNYA >>

Jumat, 08 Maret 2013

Ada yang salah nggak sih dengan kepo


"Sendainya kepo itu di bayar gue bakal jadi milyader pertama di bidang perkepoan"

Dulu sebelum orang-orang ribut masalah kepo, seperti sah-sah aja klo kita penasaran sama sesuatu bahkan sama orang lain. Gak ada yang nereakin kita (woooo keppoooo deehh!!!).
Pertanyaan yang sering nongol di otak gue "Emang salah klo kita kepo?"

Oke, gue gak akan ngebahas apa itu kepo atau semacamnya, karena tentunya banyak orang yang kompeten di bidang ini. Selain gak gahol, gue juga minim pengetahuan bahasa-bahasa semacam itu.

Ada yang bilang kepo singkatan Knowing Every Particular Object atau bahas lainnya 'mau tau banget' tapi sudahlah, gue hanya tau sebatas itu

Semenjak bahasa kepo itu muncul ke muka bumi ini, gue kadang jadi keki sendiri. Ngelirik orang lagi ngetik bbm, langsung dibilang : Apa sih kepo banget. Ngelirik bapak-bapak lagi baca koran di bis, bapaknya langsung ngelipet korannya (mungkin dalem hati bilang. Duh kepo banget sih, Mas).

Belum lagi klo gue nanya kabar mantan sama temennya, langsung dibilang: Dih, kepo.
Nanya tukang batagor;
Berapa, bang?
Abangnya jawab, gak usah kepo gitu, mas. Nanti juga saya kasih tau harganya.*gerobaknya langsung gue tebalikin

Bete gak sih, ketika kita lagi nanya serius, cuma dapet jawaban santai; duh kepo bet sih.

Klo emang bentuk kepo itu diperjelas dalam hal kepengen tau banget, gue adalah orang yang kepo akut pastinya. Dari mulai ngepoin mantan sama ngepoin mantan orang. Ahaaa. *Salto.

Menurut gue itu salah satu bentuk usaha. Ketimbang gue langsung ngedeketin tanpa tau dia udah punya pacar belum, mending gue kepoin dulu.

Emang sih palingan ujung-ujungnya nyesek klo si doi teryata nggak sesuai apa yang kita inginkan, misalnya, kaya waktu itu, gue suka sama orang, sampe-sampe gue ubek-ubek folower yang menurut gue dia temennya, dan akhirnya ketemu juga tuh cewek. Dengan khusyu gue baca TL nya dari atas sampe dari awal dia ngetwit. Buhahahaha...

Belum puas ngebaca tuit-tuit nya sampe mata beler, gue langsung cari tau tentang facebooknya. Perkepoan gue berakhir, ketika gue liat foto-foto praweding tertera cantik di album foto facebooknya. *Gue langsung ngambang di laut.

Disitu gue nemuin korelasi antara kepo dan galau. Orang yang kepo rentan galau. Orang yang galau, susah tidur. Karena susah tidur, akhirnya ngepoin orang. Gara-gara ngepoin orang, ujung-ujungnya galau. Gitu terus sampe kiamat.

Jadi, menurut lo salah nggak dengan kepo?




SELANJUTNYA >>

Senin, 04 Maret 2013

Pacaran lo norak nggak?

Siapa pun di dunia ini pernah jatuh cinta. Nggak terkecuali sama orang-orang penyuka lawan jenis. Tapi karena gue bukan termasuk salah satu di antara mereka, jadi gue nggak akan ngebahas tentang bagaimana kelakuan orang-orang penyuka lawan jenis yang sedang kasmaran di sini.

Dan siapa pun yang lagi kasmaran rasa-rasanya halal untuk ngelakuin hal-hal norak sekali pun. Misalnya, klo ngedate selalu pake baju couple. Atau nggak, foto-foto facebooknya isinya ngumbar kemesraan sama pacarnaya. Hmmm... (Tapi masalahnya orang norak yang lagi kasmaran nggak merasa norak tuh)

Dan ini adalah pengalaman gue sama orang-orang yang sedang berkasmaran, yang kadang bikin gue apa banget

Oke, kita mulai dari kenoraan temen SMP gue dulu.
Namanya Jono (bukan nama sebenernya. Ini gue samarkan demi kelangsung hidup gue dalam menjalankan pertemanan yang baik). Dia sering banget ngajak gue nginep di rumahnya ketika masih sekolah dulu. Tiap gue nginep pasti si Jono curhatnya nggak putus-putus klo udah nyeritain pacarnya. Dari mulai jam sembilan malem sampe subuh dijamin gak akan putus klo dia udah ceritain masalah pacarnya. *Gue merem melek dengerinnya. Kadang masuk dalam mimpi buruk gue curhatan-curhatan basinya.

Jono juga sering banget nangis klo udah berantem sama pacarnya. Yang bikin geli nangisnya selalu di pundak gue, dengan ingus turun naik di idungnya. *banting tisu*

Pernah suatu kali si Jono menyayat-nyayat tangannya sendiri dengan silet di depan gue dan di depan pacarnya. (maklum gue sering banget jadi nyamuk klo mereka lagi pacaran). Pacarnya kabur. Gue panik setengah mati. Darah nggak berhenti-berhenti ngucur di tangan kirinya. Akhirnya dengan sigap gue ambil getah pepaya buat menyumbat darahnya, terus gue balut dengan dasi SMPnya.

Kadang klo gue lagi bae, sering banget gue doain supaya mereka cepet putus. Gilaaaa...type pacarannya nyusahin orang.


"Gue gak tau hidup gue gimana klo tanpa dia" kata Jono suatu kali, saat gue nginep di rumahnya.
"Emangnya dia berarti banget buat lo?" tanya gue sambil matiin lampu kamar, karena gue udah mau siap-siap tidur.
"Lo tau sendiri dik. Dia udah bikin gue sakit hati, tapi tetep aja gue sayang sama dia" Dia nyalahin lampu kamarnya lagi.
"Eh, dodol gue mau tidur. Gue gak bisa tidur klo terang gini"
 "Bentar, dik. Dengerin cerita gue dulu napa"
"Yaudah cerita aja. Tapi gak usah dinyalahin juga kali lampunya"
"Gue tau lu pasti tidur dik, klo lampunya dimatiin"

Klo dia lagi cerita sering banget gue tinggal tidur. Apa-apaan, tiap kali gue nginep ceritanya sama aja. Yang paling bete, minta solusi, pas dikasih solusi malah ngeyel.

Tapi kita emang win-win solution sih. Dia nyuruh gue nginep cuma dijadiin tempat curhatnya, tapi gue juga mau nginep demi perbaikan gizi gue. Maklum cuma di tempat Jono doang gue bisa makan enak. Hihihi..

"Iya, gue gak tidur. Udah cepet cerita. Sampe jam 11 ya. Besok kita masuk pagi Jon.!" Gue coba bernegoisasi sama Jono.
"Iya. Tadi gimana menurut lo. Dia udah sering banget nyakitin gue, tapi tetep aja gue makin sayang sama dia"
 "Duh, repot urusannya. Klo gue jadi lo mah, mending gue cari cewek lain" Gue yakin saran gue ini gak guna buat dia. Tapi demi menghormati curhatan dia, gue jawab sebisa gue.

"Lo tau sendiri kan gue udah pernah putus sama dia, trus gue jadian sama Sumi. Tapi tetep aja nggak ada yang bisa gantiin posisi dia di hati gue. Makanya gue mutusin buat balikan lagi sama dia"
"Jadi intinya lo mentok sama dia, nih?. Yaudah nikmatin aja. Hanya waktu yang bisa bikin otak lo sadar klo dia itu belum tentu yang terbaik buat lo"


............................................... zzzz.......zzz...zzzZZZ......ZZZzzzz

Sorry cerita ini terpaksa gue putus karena bakal sampe pagi juga lo bacanya. Intinya kadang memang begitu cinta. Hanya bisa dimengerti sama orang-orang yang lagi jatuh cinta juga. Autis dalam bercinta lebih parah dari autis beneran. Dunia hanya milik dia berdua. Belum lagi klo udah telpon-telponan, mereka serasa yang punya salah satu providernya. Klo belum meledak tuh hape gak akan berenti telpon-telponannya. Klo belum di usir sama tukang es kelapa, nggak akan pindah-pindah mereka berduaan sambil mengelus elus pipi satu sama lain. Jono juga gitu, klo lagi akur sama pacarnya.

Klo yang berikuti ini cerita ade kelas gue. Namanya Rini. Rini justru belom jadian sama gebetannya. Dia cuma jadi seorang secret admirer sejati. Dia bakal gebuk gue sekeras mungkin ketika kebetulan gebetannya lewat di depan kita berdua.
"Kakak liat! Kakak liat!" sambil mukul-mukul badan gue. Gue meringis nahan sakit. Dia gak peduli saking senengnya. Gue suka aneh sendiri sama ade kelas gue yang satu ini. Ngeliat gebetan, kaya ngeliat setan tobat. Tapi gue cukup maklum dalam hal ini, makanya gue rela dipukul gak jelas sama dia.

"Kak, ada berita bagus nih, kak" Kata ade kelas gue di Minggu sore.
"Pokonya gue seneng banget kak hari ini". Tiba-tiba di mukul gue nggak jelas. *Gue berharap malah dia gak bahagia aja sekalian. Biar gak mukulin badan gue terus.
"Oyah? Lo ditembak sama Doni?" Tanya gue penasaran
"Bukan kak. Tadi pagi gue lewat depan rumahnya. Gue seneng bangeeeet. Sumpah seneng banget. Gue bisa ngeliat adenya. Trus ternyata pager rumahnya warna ijo. Temboknya warna pink. Ternyata pas banget sama warna kesukaan gue" *gue mendadak gila.

Gue bingung siapa yang waras diantara kita berdua. Tapi seperti yang gue udah bahas di atas. Rasa-rasanya halal melakukan hal aneh buat orang lagi kasmaran. Tapi tetep mestinya otak juga harus cerdas, logika juga harus jalan. Masa iya lo rela ngelepas keperawanan demi orang yang lo sayang. Menyesal itu memang selalu dateng belakangan.
Berapa banyak bukti nyata yang ada disekitar kita. Atas nama cinta, atas nama sayang, orang mudah melepas keperawanan yang ujung-ujungnya banyak banget penyesalan sesudahnya.Menurut gue ini kenoraan pacaran yang sesungguhnya.

SELANJUTNYA >>

Kamis, 28 Februari 2013

Manusia yang Kuat adalah...

Manusia yang kuat adalah manusia yang mampu mengendalikan rasa emosi serta kesabarannya. Bukan semata-mata hanya karena fisik serta otot-otot yang kadang nggak wajar di sekujur tubuhnya.

Saya bukanlah Paul Anderson sang atlet angkat besi terkuat di dunia. Saya juga bukan Arnold Schwarzenegger sang Gubernur California yang ternyata masuk dalam urutan ke lima orang terkuat di dunia. Saya hanya Ahmad Bhadick yang memiliki segala keterbatasan termasuk urusan fisik. Tapi apakah dengan kondisi saya seperti itu, saya mesti meratap meraung-raung menyesali diri? Mungkin sangat beralasan jika saya mau, tentunya. Tapi manusia memiliki kemampuan untuk menentukan pilihannya. Dan saya memilih untuk tidak memanfaatkan alasan picisan semacam itu.

Untuk apa memiliki badan segede Dwayne Johnson (The Rock) tapi emosi gampang kepacing. Kesenggol dikit ngamuk, kesindir dikit marah. Untuk mengendalikan diri saja kadang sulitnya setengah mati, bagaimana mau mengedalikan orang lain.

sumber pic: Googling
Saya rasa Jakarta adalah pilihan yang tepat untuk orang-orang yang ingin belajar segala bentuk kesabaran. Mulai dari sabar menembus kemacetan sampai sabar menunggu janji-janji para wakil rakyat yang terhormat. Tentu saya tidak ingin membahas masalah Jakarta, apalagi soal wakil rakyat. Otak saya sama sekali belum tertarik ke arah itu. Mungkin nanti iya. Tapi entahlah.

Dengan menulis artikel ini sesugguhnya saya ingin mengingatkan diri agar senantiasa selalu bersyukur dengan segala bentuk kekurangan. Jika dalam urusan badan saya serba pas-pasan tentu masih banyak cara untuk melakukan yang terbaik serta memaksimalkan potensi yang saya miliki. Hal yang pertama saya lakukan adalah mengkontrol emosinya saya. Saya kerap kali gagal untuk urusan yang satu itu.

Di rabu malam saya sempat kepancing emosinya akibat kecerobohan mobil Xenia di depan saya. Ia mundur tanpa melihat terlebih dahulu kebelakang. Motor saya hampir saja rengsek jika saya tidak gedor kaca mobil Xenia hitam itu sekuat tenaga. Saya marah besar, padahal motor saya nggak kenapa-napa. Tapi tetap saja saya marah. Puas rasanya memaki supir yang ceroboh itu. Terlebih mimik mukanya terlihat lansung pucat sebagai bentuk ketakutan dan rasa bersalah yang besar.

Belum lagi emosi akibat pelayanan salah satu provider yang kurang disiplin. Bagaimana nggak marah, kenapa  saya mengatri duluan dipanggil belakangan. Alasannya sederhana (Hmmm, lebih tepatnya menyederhanakan permasalahan orang yang belumlah tentu sederhana) nomer antrian saya keselip (Tapi nggak sampe ratusan gitu juga kali, mba)

Atas kejadian-kejadian itu lah ternyata masih banyak yang mesti saya benahi terutama masalah emosi. Bukankah orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan emosinya? Jadi menang mana antara orang yang benar-benar kuat dengan orang yang pandai mengontrol emosinya???










 


SELANJUTNYA >>

Jumat, 22 Februari 2013

Rasa Hormat yang Mulai Bergeser


Sebagai seorang pengajar kesabaran kerap kali teruji. Ada aja kelakuan anak yang menyebalkan. Dari mulai tidur di atas meja dengan posisi telentang sambil mangap, sampe murid yang autis sama ipadnya tanpa peduli klo guru sudah dateng. Belum lagi murid yang sibuk sama blackberrynya. (Kayanya lagi sibuk bikin hoax yang siap di BC keseluruh contact BBnya).

Atas kejadian itu kadang gue mikir dan mulai flashback kembali ke masa saat gue sekolah dulu.(Takut-takut ini karma buat gue). Tapi gagal. Gue sama sekali gak nemuin masa sekolah gue se-cuek anak-anak sekarang terhadap gurunya. Gue hormat sama guru. Gue takut sama guru. Kebandelan gue cukup gue tunjukin sama temen-temen tanpa guru harus tau.

Apakah rasa hormat terhadap orang yang lebih tua mulai luntur di zaman sinting sekarang ini?. Terlebih terhadap seorang guru yang jasa-jasanya nggak diragukan lagi. Yang dapat mencetak seorang anak menjadi seperti Obama, Sukarno, bahkan Ahmadinejad dari Iran.

Apakah media sosial yang membuat seseorang menjadi anti sosial (ironis). Banyak orang sibuk dengan dunia maya tanpa peduli dunia nyata. Apa jadinya kalau di dalam kelas semua murid gak peduli lagi terhadap gurunya lantaran peduli cuma sama blackberrynya, ipadnya, dan foto-foto alaynya. Ia sibuk cekakak-cekikikan sama temen dunia mayanya. Buat apa mereka repot-repot bangun pagi dan bermacet-macetan ke sekolah klo akhirnya cuma tidur di sekolah. Login twitter. Sibuk upload foto ke facebook. *Itu bisa lo lakuin di rumah sambil nungging, Man

Awalnya gue berpikir mungkin klo murid cuek sama guru itu lantaran gurunya sendiri yang nggak tegas. Atau akibat dari gurunya sendiri yang cuek terhadap kecuekan mereka. Tapi belakangan ini pendapat gue keliru. Teori ini gak berlaku buat sekolah yang tengah gue ajar murid-muridnya. Murid nampaknya lebih hormat dengan guru galak. Hey, apa jadinya sekolah klo semuanya gurunya galaaak. Duh ribet. *Ini rasa hormat yang menipu. Mereka hanya takut. Bukan hormat.

Berikut ini salah satu dialog gue sama murid ketika gue tegor saat ia lagi sibuk dengan ipadnya. Sebut saja namanya Jono.

"Jon, ipadnya tolong disimpen dong, kita mau belajar nih."
"Woles aja napa, kak"
*Gue sabar
"Klo gak disimpen saya ambil ya. Kecuali klo kamu ngerti gapapa deh" Gue coba bernegoisasi
"Saya nggak mau kaya gayus ,kak"
"Maksudnya?"
"Gayus kan waktu sekolah pinter, eh pas udah kerja korupsi. Nah, karena saya gak mau kaya Gayus, makanya saya gak mau pinter"
"Walaupun gak pinter tapi paling gak, kamu punya rasa hormat dong sama orang"
Jono dengan terpaksa memasukan ipadnya ke kolong meja

 Ini real sebuah pendidikan di kota-kota besar. Pengaruh apa semua ini. Indonesia gak begini. Rasa hormat mulai luntur entah ke mana. Dulu Indonesia dapat dibanggakan soal pendidikannya. Banyak negara tetangga belajar dari kita. Tapi saat ini?

Dulu kesopanan orang Indonesia dapat diajungkan jempol oleh seluruh pelosok dunia. Tapi saat ini?

Dulu sosok guru adalah sosok yang begitu mulia di mata murid. Tapi saat ini?

Seharusnya sekolah adalah tempat penetralan semua lingkupan. Baik miskin maupun kaya, di sekolah sama. Semuanya punya hak dan kewajiban yang sama. Semua pake seragam yang sama, masuk dan pulang dijam yang sama.
Yang biasa di rumah ceuk, seharus tidak berlaku di sekolah. Yang di rumah egois, seharusnya melebur di sekolah. Yang biasa seenak jidat di rumah, seharus gak usah di bawa ke sekolah. Sekolah adalah pabrik untuk tempat-tempat orang intelek, di mana kesopanan mesti dijunjung tinggi. Tempat orang-orang cerdas dalam memperlakukan ego nya.

Mari kita amini bareng-bareng, semoga bangsa ini menjadi bangsa yang penuh orang-orang yang saling menghormati, menjadi bangsa yang cerdas dalam bertindak, menjadi bangsa yang gak seenak jidat dalam berbuat.

Semoga tidak ada lagi murid yang kebablasan bertindak.





SELANJUTNYA >>

Rabu, 06 Februari 2013

Jangan Biarkan Perasaan Berlalu

Apakah kita pernah menyesal?
Apakah masih ada sebuah perasaan di hati yang kerap menyalahkan diri sendiri?
Apakah rasa kecewa senantiasa hadir ketika pengharapan  itu justru makin besar?

========
Sebagai seorang manusia sudah pasti gue pernah suka sama orang. Terkadang rasa suka itu lebih besar ketimbang keberanian itu sendiri dalam mengutarakannya. Hasilnya gue hanya menikmati semua itu dari sisi gelap gue.

Gue kerap kali membiarkan perasaan itu hilang dengan sendirinya tergerus waktu. Perasaan yang tidak diutarakan ternyata memiliki titik jenuh tersendiri buat gue. Terlalu lama memendam perasaan, membuat perasaan itu hilang dengan sendirinya.  Hal inilah yang membuat gue mudah mencintai mudah melupakan.
 
Masa berbunga-bunga itu kini telah lewat begitu aja terbungkus penyesalan gue sendiri. Bagaimana tidak, keberanian itu mengecil justru ketika rasa suka mulai membesar. Hado repooottt...

Perasaan suka yang udah di ubun-ubun kepala namun tersendat di bibir adalah hal yang paling menyengsarakan diri. Kaya mau bersin tapi nggak bersin-bersin. (Duh, ini jenis flu apa ya?)

Entahlah udah berapa kali gue suka sama orang tapi membiarkan orang itu berlalu begitu saja dalam perasaan ini.  Yang kadang bikin ngenes, gebetan gue jadian sama orang yang levelnya di bawah gue (ngenes yang terlalu pede). Kekalahan gue sama orang itu hanya terletak pada keberanian.

"Berarti lo nggak bener-bener mencintai dia dong Dik" Kata seorang temen dengan santainya tapi lumayan jleb di dada gue.
"Bukan gitu" Jawab gue seadanya
"Lho, iya dong. Klo lo bener-bener suka sama tuh orang, pastinya lo memperjuangkannya. Sampe titik darah terakhir, klo bisa" Temen gue mulai menyudutkan. Tapi terdengar lebay di kuping gue.
"Maksud gue. Gue belum dapet cara aja buat ngutarain perasaan gue ini"  Gue mulai ngeles kaya bajaj.
"Sampe kapan lo cari cara. Emang ada cara terbaik buat ngungkapin perasaan seseorang? Bisa jadi cara lo kampungan, tapi belum tentu buat orang yang lo tembak"
"Iya, sih" Kesalahan gue mulai terkoreksi. "Terus gue harus gimana dong?" Mendadak gue bego seratus delapan puluh derajat.
"Ya, besok-besok klo suka sama orang, ya diungkapkanlah. Jangan sampe lo keduluan lagi sama orang lain".
 *hening* *jleb* *tertampar*

Bener-bener menohok omongan temen gue. Gue jadi mikir, terkadang kebenaran itu menyakitkan, yang sulit untuk dijawab dengan kata 'iya'

Tapi sejauh ini gue percaya. Jika Tuhan mengizinkan, tentunya ada cara tersendiri yang bisa jadi di luar cara gue itu. Cinta itu begini kok, bukan begitu (Kode. Cerna sendiri ya. Ini nanti gue jadiin quis. Hehe).
Kesalahan gue emang udah jelas. Ketakutan gue ternyata mengkerdilkan pemikiran gue sendiri. Membatasi tindakan, mengeruhkan bibir. Hasilnya perasaan yang sudah di ubun-ubun kepala ini tak tersalurkan. Ngomong I Love You itu susah banget ternyataaaaaa.... *loncat dari lantai 13*

Oke. Baiklah. Ini udah 2013. Rasa galau itu mestinya mulai dikikis dikit demi sedikit. Kesalahan itu diperbaikin bukan disesali.

Mari kita mulai menjadi pribadi yang mau memaafkan kesalahn diri sendiri.
Mulai menyadari bahwa seorang manusia itu tidak luput dari kesalahan.
Teruslah berjuang menghindari kesalahan yang berulang.

Jadi intinya, mulailah menaklukan ketakutan diri. Gue tau, susah emang buat ngungkapin perasaan. Karena terlalu mudah pun gak baik. Jadi di dalam susah itulah perjuangan dibutuhkan. Kalau pun hasilnya sebuah penolakan, toh tetep kita telah memenangkan dalam hal menaklukan rasa takut. Perasaan pun jadi legah pastinya karena telah terungkapkan.

"Terus jadi gimana kabar gebetan lo, Dik?"
*die*

 

 
SELANJUTNYA >>

Selasa, 05 Februari 2013

Sebuah kode untuk manusia penikmat duit

Kalau ngebayangin sekolah, yang terlintas di otak gue adalah kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Para siswa yang cekakak-cekikikan ketika istirahat berlangsung. Atau lapangan sekolah yang penuh jeritan siswa yang tengah berolahraga lantaran berebutan bola.
Belum lagi jika jam pelajaran telah usai, mendadak parkiran motor gaduh segaduh gaduhnya. Semua serempak menyalahkan motor. Menarik gas berbarengan. Saling sodok kepingin buru-buru pulang. Suara bising knalpot langsung membumbung ke langit seketika. Tidaaaakkkk....!!! Body motor gue pada leceeett!!!

Tapi tenang. Semua itu nggak akan bisa lo temuin kalau pas hari minggu lo dateng ke sekolahnya.
Ya iyalah nenek-nenek ngesot pake poni juga tau, yang namanya hari minggu, sekolah libur. Yang namanya libur, pasti gak ada siswanya. Klo gak ada siswanya, ya sekolah sepi lah, gak jauh beda sama kuburan.

Dan yang pasti kalau kondisi sekolah sepi, bukan hanya siswa yang seneng lantaran sekolahnya diliburin, tapi juga penjaga sekolahnya. Dia mendadak seperti keluar dari sebuah kepenatan hebat setiap minggunya. Bahkan ia bisa bagaikan pemilik rumah tunggal dengan ketenangan yang semu di kala hari minggu datang. Ia juga bisa berleha-leha santai menyaksikan ikan-ikan kecil di kolam sekolah itu. Menikmati tanaman-tanaman obat karya siswa dan guru biologi di sepanjang kebun sekolah. Atau bermain bulu tangkis, volly, basket bersama keluarganya di lapangan sekolah dengan penuh suka cita. Sepertinya ini bakalan jauh lebih asri ketimbang perumahan mewah di Kota Wisata atau di Legenda Cibubur.

Tapi sayang, penyutradaraan itu hanya ada di otak gue doang. Kenyataannya ketika hari minggu gue coba datang ke sekolah, yang gue liat malah banyak pakaian-pakaian serta kasur di lapangan yang sengaja di jemur oleh penjaga sekolahnya. Si penjaga sekolah itu sendiri malah terlihat sibuk mengepak-ngepakin kertas yang sudah gak kepake lagi sama sekolah untuk secepatnya di kiloin menjadi duit. Rupanya gak semua orang bisa benar-benar menikmati keindahan walaupun keindahan itu sendiri ada disekitarnya.
Tau apa gue soal ke indahan toh kalau ternyata urusan perut itu jauh lebih penting ketimbang urusan mata. Iya, ya *hening

Kasus seperti itu juga bukan hanya gue liat di sekolah, tapi juga ketika gue pergi ke vila teman di kawasan puncak. Cuma bermodalkan alamat dan kunci vila gue langsung meluncur ke lokasi tersebut.

"Sori ya gue gak bisa ikut. Nih kunci sama alamatnya"
"Loh, emang gak ada yang nungguin vilanya?"
"Ada. Ini buat jaga-jaga aja. Takutnya pas lo dateng Mang Asepnya lagi pergi. Tapi udah gue telepon kok, klo lo mau dateng"
"Oh gitu. Ya sudah. Bailah!" Gue langsung melempar kunci ke udara saking excitednya. Gue bakalan liburan di puncak Men. *hening lagi

Sampai di sana gue takjub dengan suasana yang indah serta gaya artistik vila tersebut. Belum lagi kolam renang yang menawan, seolah-olah tengah melambaikan tangannya untuk menyuruh gue nyemplung ke kolam renang yang terlihat membiru itu.

Gue pikir enak banget jadi penjaga vila di sini, bisa kapan aja nyemplung sesuka hatinya. Udah di gaji, dapet tempat tinggal tanpa ngontrak pula, bisa menikmati udara segar dan pemandangan indah kapanpun.
Every daaaay and every tiiiiiimmmmmmee.

Tapi, lagi-lagi ironis. Mang Asep penjaga vila itu boro-boro buat nyemplung ke kolam renang. Ia bahkan lupa kalau suasana di vila itu indah. Ia juga gak sadar klo udara yang ia hirup begitu mahal yang kerap kali didamba oleh penghuni kota-kota besar seperti Jakarta.
Ternyata baginya ada yang lebih utama ketimbang soal ke indahan dan udara yang segar. Yap! Perutnya sendiri.

Ketika gue nyampe di vila itu, Mang Asep lagi sibuk metikin kelapa di belakang vila itu, yang katanya mau di jual ke pasar di dekat-dekat daerah itu.
Itu tiap hari lho katanya. Dari pertama kali ia menginjakan kaki di vila tersebut. Entah kelapa, entah rambutan. Pokonya semua buah-buahan yang ada di kebun belakang vila itu kerap kali dijualnya ke pasar.

Ketika ia pertama kali disuruh menjaga vila itu, yang ia lihat bukan soal ke indahan dan kemegahan vila itu, tapi ia lebih melihat banyaknya tanaman buah-buahan di belakang vila itu yang bisa ia jadikan duit.*Lumayan buat tambahan menopang hidup. Walau sebenernya gaji sebagai penjaga vila juga udah cukup. Mang Asep kaya PNS, udah dapat gaji malah sibuk nyari tambahan di luar kerjaannya.

Iya juga sih itu lebih realistis..hehe.
Ya, manusia gak akan pernah cukupnya klo ngomongin duit.

Perut ini membutakan segalanya ya. Ternyata bukan hanya cinta yang membuat buta segalanya. *uhuk uhuk..!!
Bahkan lantaran perut juga orang lupa kalau korupsi itu perbuatan keji yang dapat mengisap darah saudaranya sendiri.
Perut ini memang berukuran kecil tapi jangan salah, ia memiliki tuntutan besar. Makanya banyak orang yang lebih mementingkan perut ketimbang hal lain di luar itu.  Belum lagi jika ia mesti mengurusi perut lagi selain perutnya sendiri. Duh, repot ini.
Sebenernya kalimat "uang tidak kenal saudara" mestinya di ganti jadi "perut tidak kenal saudara"

Jadi mudah saja, jika kita mau melihat isi dompet seseorang, tinggal liat aja bagaimana perutnya. *Maaf bapak polisi yang gendut, saya tidak sedang menyindir Anda kok. Cuma saya heran aja kenapa saya di tilang cuma lantaran saya nannya alamat sama Bapak. Lagian posisi Bapak di situ sih, jadi saya samperin ke situ juga yang ternyata tempat yang gak boleh dilalui kendaraan (Lah kok gue malah curhaaatt...)
SELANJUTNYA >>

Sabtu, 05 Januari 2013

TAMAN MINI INDONESIA INDAH.Care Education


Kamis tanggal 3 Januari 2013
Alhamdulillah gue sama teman-teman kampus mengawali tahun 2013 ini dengan kegiatan yang sangat bermanfaat. Semoga aja berbuat baik itu nggak hanya diawal tahun doang ya Kak, tapi juga untuk seterusnya. Amiiin...
Kali ini gue sama teman-teman kampus plus relawan lain mengadakan kegiatan "Care Educatioan" di PPIPTEK Taman Mini Indonesia Indah.
(Panita Kegiatan)
Apa tuh Care Education?
Karena gue gak mau dibilang sok tau. Jadi gue nggak bisa ngejelasin kegiatan ini secara detail. Ada yang lebih berwewenang untuk ngejelasin kegiatan ini soalnya. (colek Bu Nila. Silahkan tanya-tanya deh). Duh lebay lo Kak, bilang ajak nggak tau.

Intinya kegiatan Cere Education itu adalah kegiatan baik yang perlu terus dilestarikan serta dilakukan oleh manusia-manusia baik yang sudah singgah di muka bumi ini (azeeg.. berat banget omongan gue). Garis besar kegiatan ini adalah peduli terhadap anak-anak yatim dan orang-orang yang kurang beruntung.
Nah, ke Taman Mini dan mengajak mereka mengujungi PPIPTEK adalah salah satu bentuk kegiatan Care Education tersebut. Di sana kita tidak hanya memberi santunan, tetapi juga mengajak mereka untuk bermain sekaligus memberikan edukatif yang positif. Wih keren kan?
Asik kan? Asik kan?

Nih foto kita sama anak-anak yatim. Kurang lebih ada tiga puluhan anak yatim yang narsir bareng kita.
Duh, klo ada foto2 kaya gini pasti posisi Kak Ahmad ada di depan. Emang narsis lo, Kak.

Kalau yang ini ade-ade kita lagi simulasi roket air yang dipandu langsung sama petugas PPIPTEK nya. Kira-kira roket airnya bisa sampe Planet Mars nggak ya?
Lumayan berat ya kak pompanya
Tuh liat dek, roketnya sampe Planet Mars
Eh, bentar! Itu Kak Ahmad Lagi ngapain ya?..
Haha..ini gue lagi siap-siap mau akrobat naek sepeda di atas tambang. Deg-deg-an euy. Tapi bukan karena jalan di atas tambangnya. Itu karena mba-mbanya yang bikin dag-dig-dug gimana gitu.. Jiahahaa..

Nah ini gue kasih videonya juga.
Sumpah ngeri juga bray. Ini gue jadi kelinci percobaan. Penglaris kalau orang-orang jualan bilang mah, karena belum ada yang berani naek. Dengan disaksikan ribuan orang, akhirnya gue berhasil juga menyebrang dengan mengayuh sepeda di atas tambang, ya walau hampir mau pipis di celana...


Nah setelah gue jadi kelinci percobaan, baru yang lain percaya kalau tuh tambang gak akan putus. Siake..!!
Dengan tiket hanya Rp 2.200 gak ada salahnya nguji nyali di atas sepeda unik ini. Murah kan? Hayo siapa lagi yang mau coba?


Selain sepeda yang berjalan di atas tambang ada juga nih 'kursi paku'
Dan kalau kita duduk di atas kursi tersebut dijamin nggak akan ketusuk. Tau nggak kenapa? Ya iyalah karena pakunya banyak. Coba kalau pakunya satu trus berkarat pula, wih ini pasti bisa bikin pantat Anda tetanus.
Tekanan orang yang duduk dikursi merupakan hasil bagi antara gaya orang (berat badan) dengan luas permukaan ujung paku. Jika hanya satu paku, dengan gaya orang yang sama maka akan menghasilkan gaya tekanan yang besar. Nah ini yang menyebabkan orang terluka. Tapi kalau pakunya banyak, disusun dengan rapat, maka luas permukaannya akan sama dengan jumlah dari luas permukaan semua ujung paku, sehingga dengan luas permukaan yang besar akan menghasilkan tekanan yang relatif kecil

Klo yang ini ada yang tau gak replika kapal apa? Sama gue juga gak tau. Di skip aja..haha

Saat masuk ke dalam rumah (simulasi gempa) seperti foto di bawah ini. Kita akan dibuatnya seolah-olah gempa terjadi. Meja, kursi serta lampu di dalam rumah itu berguncang hebaaaat. (tapi sayang, saat gue masuk, gak dapet moment dahsyat itu. Yang gue rasaain malah kaya lagi di atas truk yang lagi jalan di atas kubangan)
Duh itu kenapa penjaganya sadar kamera ya?

Oke! Kita rehat sejenak ya dengan berpose ala-ala Slank getho. Pisss!!

Nah, habis bergaya-gayaan gitu, saatnya kita makaaaaan....
Setelah berkeliling dan bermain di dalam PPIPTEK yang lumayan seru, dari mulai naik sepeda, masuk rumah gempa, sampe masuk toilet karena kebelet pipis, akhirnya kita makan di kantin sebelah. Yuk kita keluar!!

Hey gak jadi di kantin deng makannya. Di taman lebih seru tuh kayaknya.
Hayo siapa yang belum dapet?

Nih setelah makan kita ngadain games yang nggak kalah seru sama permainan di dalam PPIPTEK tersebut. Dari mulai mindahin karet ke gelas sampe permaian petak umpet. Lho, kok petak umpet? Bukan deng. Entahlah nama permainan itu apa. Ada yang tau? Pokoknya semua peserta ditutup matanya kecuali leadernya yang siap mengintruksikan dari belakang barisan. "Kiri, kiri, kanan, kanan..Awas nabraak!!

Stop!! Bentar deh!
Kenapa pas giliran gue yang ngasih hadiah, fotonya begini ya?
Ini kaya mau mengatakan sesuatu. "Maaf saya cuma bisa kasih ini, dek" Cie Kak Ahmad..(Itu kenapa si Eti jadi promokator gitu. Plis nggak usah pake toa juga kali
Hayo dibagi-bagi hadiahnya

Games selesai hadiah juga udah dibagiin. Nah, sekarang tinggal kasih bingkisan sama mereka-mereka ini
Eh, itu kenapa sadar kamera juga si ade?

Tuh seru kan acaranya. Semoga kegiatan ini terus berlanjut ya..
Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk yang sudah nyumbang, baik dana maupun ide, serta pikirannya. Semoga amal ibadah kalian diperhitungkan di mata Gusti Allah. Tembus ke langit. Amiin.

Jadi begitu banyak cara untuk berbagi ya?
Bukankah hal yang bijak adalah berbahagialah dengan cara membahagiakan orang lain.
 Bagaimana menurut Anda?


SELANJUTNYA >>