Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Januari 2015

Trip Malang

Liburaan.... !!! Mari kita kemon!!!!! (Tulisan ini sudah telat sebulan. Ekspresi tersebut sudah  hadir ketika tanggal 22 Desember 2014 kemarin).

 Iya.. tanggal itu adalah tanggal liburan gue dimulai.

Tanggal segitu jugalah gue ke Malang sama temen-temen kampus. 

Sebenernya liburan gue hampir gagal, karena harus mengikuti pelatihan di sekolah. Tapi karena Yosi mau di ajak pulang lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan (dan kita sepakat cancel tiket pulang dari tanggal 29 menjadi tanggal 27) jadi gue tetep ke Malang dengan bekal seadanya..

 Go..go...go..go...!!!!

Gue memutuskan untuk "Ok.Gue jadi ikut!" di jam-jam terakhir jadwal pemberangkatan kereta. Itulah yang membuat gue hampir telat sampai stasiun Senen waktu itu. 

Kampung Rambutan-Senen....... jalannya nggak nyantai Men. 
Maceeett paraahhh....!!!!

Jadi pikiran gue saat menuju stasiun Senen adalah "Ok. Klo emang nanti gue ketinggalan kereta, itu artinya gue diizinin hang out ke Atrium Senen. Itu artinya Tuhan mengarahkan gue kesitu. Kali aja bisa kenalan sama cewek-cewek mall. Itu kan keren banget. Ha ha ha ...Terus kita tabrakan, terus kita jadian deh...Atau?? Kita terkunci berdua bareng di lift sambil main tebak-tebakan gitu. Keren kan, ya?ya?" #plak

Hayalan gue buyar ketika kondektur nyolek-nyolek gue buat nagih ongkos.

"Bang...kira-kira stasiun Senen berapa lama lagi?"
"Duh..masih lama, Mas. Tidur lagi aja?"
What?? Tidur? Baru kali ini ada kernek nyuruh gue tidur. Cie perhatian, cie..

Dan gue juga nggak sadar, dia nyolek gue dibagian mana ya.

Aaaaggghhhhhhhh.........aku kotor mama!!! Ok. Itu lebay.

 ===========
Sampai stasiun Senen untungnya gue nggak telat-telat banget.  Temen-temen gue lagi pada ngantri di pintu masuk. Antrian panjang bagai ular tangga itu (Uler tangga?Emang uler tangga panjang?) membuat gue inget masa-masa mudik lebaran. 
Ya..lebaran dan liburan emang nggak jauh beda, sama-sama menuai kemacetan dan antrian panjang dimana-mana.


Nyok..ah...kita kemon..!!!

Matarmaja sudah siap berangkat. 
Kereta ekonomi itu membuat gue merasa ditarik lagi ke zaman purbakala. Jadi teringat lagi sama film jadul Tragedi Bintaro yang diputar ulang di TV baru-baru ini. Wah seru. Untung gue nggak jadi naik pesawat. Bener kata temen gue lebih seru menikmati perjalanan seperti ini. Naik ekonomi desek-desekan, antri-antrian. Merakyat banget kan bro..


Ekonomi rasa eksekutif.....



Iya, merakyat.... tapi gue bukan malah merakyat, malah ngegembel gini. 
Tepatnya kayak gembel yang habis ngelem aibon....

Kapal goyang Kapten....!! Mikir!!!

 Setelah menghabiskan perjalanan hampir tujuh belas jam. Akhirnya kita sampai di Malang.

Dan gue udah sampai di Puncak BROMOOOOOO....!!!


Puncak Pananjakan Bromo. Njir..dinginnya nggak nahan
 Bromo, saat liburan udah kayak di Jakarta aja Men..Penuh.

Dan berikut inilah saat-saat menunggu matahari terbit.. Oh.. matahari kedatanganmu ditunggu-tunggu kawan...



Tapi sayang kita udah nunggu berjam-jam, matahrinya tak kunjung muncul, ia terhalang awan hitam. Yahhh...jarang-jarang padahal ke sini

 Habis dari Puncak kita langsung menuju kawah Bromo...Yeyyyyyy....!! Kawah...!



Untuk menuju kawah, kita bisa berkuda, Bro. Penyewaan kuda hanya 125 ribu. 
Dan saat gue berkuda, gue berasa lagi hijrah dari Mekah ke Madinah melewati padang pasir yang puanasssnya pool...
Kuda: Mimpi apa gue semalem ampe ditunggangin orang aneh.Cih


Oia, kalo ke Malang Men, jangan hannya ke Bromo. Masih buanyak banget tempat-tempat keren lainnya yang bikin mupeng orang kalo kita jadiin pose-pose alay atau unyu di DP BBM..ha ha ha ha

Foto berikut ini adalah Pulau Sempu. Ya..kita juga ke Sempu.







Dan kalo kalian mau mengingat-ngat masa lalu atau menapaktilas sejarah bangsa khususnya transfortasi, kalian bisa lho ke Batu. Di sana ada yang namanya museum Angkut. Tempatnya keren abis dan gak kayak museum-museum yang freak dan ngebosenin yang cuma enak dijadiin tempat pacaran saking sepinya..






Ini video amatir jalan-jalan kemarin bro. Monggo di pantengin dulu..


Ok segitu dulu postingan jalan-jalan kali ini.
Thank klo udah mau comment..



SELANJUTNYA >>

Senin, 14 April 2014

Lebih Baik Gagal Pulang dari Pada Gagal Hidup

Gagal Ke Jakarta
Gue gagal pulang bareng Nisa dan orang tuanya ke Jakarta. Padahal tawaran Nisa gue sambut dengan hati penuh gegap gempita pagi itu. (Ya, selain hemat ongkos, kali aja ada snack gratisannya juga sepanjang perjalanan ke Jakarta. Ngarep). 

Murid gue yang ramai (walaupun sendiri) kalau di kelas itu ternyata tetangga gue di Jakarta. Jarak rumah kita nggak begitu jauh, sekitar lima jam (Itu kalo gue ke rumahnya menggunakan ala suster ngesot, tapi kalo naik motor sekitar 5 menitan). 

Penyebab kegagalan itu sederhana, gue dapat tugas dadakan dari Pak Kepsek, dan hari itu juga gue mesti menghadiri workshop di Selabintana, Sukabumi. Gue sedih, pohon-pohon terkekeh, kupu-kupu terharu hinggap di dahan keruh, dan gue memang lebay.

Seketika itu juga gue langsung packing. Ini packing tercepat yang pernah gue lakukan. Iya karena gue cuma bawa satu stel pakaian dan dua celana dalem. 

Setelah selesai packing, gue langsung menuju parkiran sekolah. Sopir yang mau mengantar gue sudah siap, tapi hati gue belum siap, karena pikiran mau pulang ke Jakarta belum lenyap sepenuhnya di tempurung otak.

Tapi walau bagaimana pun ini pertama kalinya gue menghirup udara bebas Sukabumi, setelah sekian lama terjerembab di asrama. Dan ini kesempatan gue untuk mengenal Sukabumi lebih jauh lagi. Hahaha...Gue coba menghibur diri

"Selama jadi sopir, paling jauh ke mana Pak?" Tanya gue sok akrab sama sopir sekolah. Sementara mobil terus bergerak meninggalkan gerbang sekolah melintas bebatuan dan jalan berlubang yang kiri kanannya terbentang persawahan dan rumah warga. Untuk sebuah pemandangan indah, tempat gue ngajar itu emang juaranya. Pesawahan yang membentang luas serta gunung yang serasa lima kali salto saja bisa sampai ke puncaknya adalah pemandangan sehari-hari di sini. Tapi kehiruk-pikukan Jakarta kerap kali bikin rindu, apalagi memadu secangkir kopi dengan roti bakar di kafe tempat biasa gue duduk sendiri adalah hal yang belum bisa gue tinggalkan secara ihklas.

"Kalau perjalanan dinas paling ke Bandung dan Jogja, tapi kalau pribadi saya pernah ke Kebumen, Pak" Jawab sopir dengan tidak meninggalkan logat sundanya.

"Oh gitu" Jawab gue sambil manggut, dan terus memperhatikan rumah-rumah warga yang terlintas.

"Kalau kerja di Alkausar sudah berapa lama Pak?" Inilah jurus basa-basi gue yang super basi. Gue percaya basa basi itu bisa juga membangun keakraban.

"Dari tahun sembilan-sembilan, Pak" Gue tahu maksudnya 1999.

Gue mangut-mangut lagi.

Gue melirik jam tangan. "Oia, kalau masih ada waktu kita cari makan dulu, Pak. Tempat makan yang enak di Sukabumi di mana ya? Kalo bisa soto" Tetep di mana pun gue berada soto tetap menjadi makanan favorite. Lebih tepatnya gue gak bisa makan sembarangan, apalagi sambel dan makanan yang digoreng. Kampret. Jadi soto adalah makanan yang pas di lidah apalagi di perut. 

Gue emang sengaja berangkat pagi supaya banyak waktu buat mampir-mapir dulu, dan menjamah Sukabumi lebih lama lagi. 

===
Setengah jam kemudian, mobil berbelok dan parkir tepat di depan warung-warung tenda.

"Ini, namanya kantor dinas, Pak" Kata Pak Sopir sambil mengangkat rem tangan mobil

"Warung-warung ini, Pak?" 

"Bukan, eta!" Pak sopir menunjuk gedung yang berada di sebelah kanan warung-warung tenda berjejer itu. Rupanya becandaan gue dianggap serius.

"Ooh" Kata gue sambil manggut lagi.

Gue menuju salah satu warung tenda itu. 

"Aya, ada soto Bu?"
Gue sadar bahasa sunda gue hancur berantakan. Tapi bodo, dia nggak kenal gue. Dan gue juga sadar ada dan aya itu sama artinya.

"Aya. Sabaraha?"

"Siji, Bu". Sumpah gue nggak tahu itu bahasa sunda atau jawa. Tapi otak gue langsung komplen. Hiji kali, bukan siji

"Pak, mau pesen apa?" Tanya gue sambil menyeret bangku hingga berderit, supaya orang-orang yang barusan mendengar kekeliruan gue langsung teralihkan.

"Samain aja" Kata Pak sopir sopan.

"Bu, hiji deyi" Gue ngomong agak pelan (mungkin lebih terdengar biji), karena takut terdengar salah, tapi tangan gue cukup menjelaskan kalau gue pesen satu lagi. Gue ngelirik seorang ibu dan anaknya yang masih memakai seragam SMA, mereka menutup mulutnya, menahan tawa. Sementara gue menahan malu. Agghhhhh.....!!

Seusai makan soto di warung tenda, kita melanjutkan perjalanan lagi.

"Ini, Pak"  Gue menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan ke Pak Sopir.

"Dari Pak Henda?" Tanya sopir itu

"Ya, dari saya dong, Pak. Kan saya yang ngasih" Kata gue sambil becanda. " Itu uang pribadi saya, Pak, bukan uang sekolah"

"Oh, terima kasih Ya" kata sopir itu senang.


Hotel, Selabintana

"Permisi, bu. Kalau workshop guru matematika di mana ya?" tanya gue sama seorang ibu gemuk berkerudung yg sedang sibuk dengan handphonenya.

"Di sini, Pak" Sambil tidak melepaskan handphonenya dari telinganya. "Tapi belum pada dateng. Dari SMA mana?" Katanya melanjutkan, sambil menunjuk ke arah muka gue.

"Al Kausar, Bu" Jawab gue pelan, dan agak ketakutan.

"Nah!!"

Ibu itu langsung senang. Mimik mukanya tiba-tiba berubah.

"Ngaji nya?" (ngaji ya?)

"Ngaji?" Gue agak sedikit kaget. Apa gara-gara gue pake baju koko?. Gue ngelirik baju yang gue kenakan.

"Iya, ngaji buat pembukaan nanti. Dari Al Kausar mah bisa lah. Itukan sekola pesantren" Kata ibu itu menggampangkan persoalan.

"Mhhm...nggak bisa bu. Saya nggak bisa ngaji (lebih tepatnya gue demam panggung kalo ngaji di depan orang banyak). Saya masih baru di Alkausar" Gue ngeles.

"Kamu masih mahasiswa?" Ibu itu tiba-tiba memperhatikan muka gue. Gue takut kuadrat.

Sebelum gue menjawab, ibu itu langsung nyeletuk. " Yaudah jadi dirigen aja nya. Buat Indonesia Raya?"

Emang nggak ada cewek? Tanya gue dalam hati. Tapi tentu gue nggak bisa nolak untuk yang kedua kalinya.

"Iya, bu. Bisa" Jawab gue melas.

"Ya sudah, sok cari kamar sendiri atuh" Ibu itu memang benar-benar menggampangkan persoalan.

"Di mana, Bu?" Sebagai orang yang nggak tahu apa-apa, jelas gue dalam masalah besar. Ke workshop tentang guru pun gue baru saat ini, Sukabumi pula, dengan bahasa sunda yang minim pula, ditambah gue dateng seorang diri, tanpa guru-guru yang lain.

"Eta, pilih aja salah satu. Tapi satu tempat untuk enam orang nya".  Kata ibu itu, sambil me list nama gue sebagai dirigen

Gue diem beberapa saat.

"Yaudah jalan sana. Eta di ditu, aya kok kunci na"

Tanpa banyak berkomentar gue langsung mencari kamar di lingkungan hotel itu. Hotel yang klasifikasinya resort hotels membuat gue agak excited sebenarnya. Selabintana, mungkin sebagian dari kita banyak yang tahu. Tempat wisata yang berada di kaki gunung Pangrango memang menawarkan keindahan alam yang memukau. Tapi masalahnya gue bukan untuk senang-senang di sini, gue mau ikut workshop. Persis kayak lagi dikasih makan enak tapi kondisi gusi lagi sariawan. Damn. Percuma.


Di Kamar Hotel

"Pak sudah berapa orang di diyeu?" Tiga orang bapak mengetuk pintu sambil sesekali mengintip jendela.

"Saya, baru sendiri, Pak" Jawab gue sambil membuka pintu.

"Yaudah kita di sini aja" Kata satu dari mereka, dengan memakai bahasa sunda yang mudah gue pahami.

Mereka masuk tanpa persetujuan gue. Mungkin hak mereka, suka nggak suka kalau mereka mau memililih di sini, siapa juga yang larang. Aku rapoo..


Mereka langsung duduk di ruang tamu, menyandarkan badannya ke bangku, meletakan tas mereka masing-masing di sebelahnya. Gue persis pelayan meraka. Kampret. Akhirnya gue duduk di samping mereka menyamakan strata.

Nama saya, Ahmad, Pak" kata gue mengulurkan tangan satu-satu ke mereka.

Seorang bapak yang tepat di samping gue berbicara ke gue dengan nada emosi, tapi sayang. gue nggak ngerti, tapi gue ngerti maksudnya kalau dia sedang komplen sama pelayanan panitia workshop itu.

Gue manggut-manggut, tanda mengerti, walaupun sejujurnya nggak ngerti sama sekali apa yang dibicarakannya, karena selain dia berbicara sangat cepat, pake bahasa sunda pula. Aggghhhh.....!!

Bapak itu terus melanjutkannya pembicaraan dengan semangat empat lima kali sepuluh

"Kang, saha tadi namina?"

"Ahmad"

Bapak 1 : Nyaho teu, Kang Ahmad ...%$^@$%^*$E65$#$%^&*7$..... "
Bapak 2: Nya kitu,.....ggsf$#@%&*57767%5546^*%%#%#7^67...."
Bapak 3: Lain atuh,...%$^&*(&&&#$#!#$FHJGDFG()09877 ....."
Gue : "??????????????????????????????????????????????????"
(30 menit berlangsung. Tiga bapak itu penuh luka tusukan. Gue kayang mundur mengitari mayat mereka.)

Gue lelah mikir. Mereka malah makin seru ngajak ngomong gue. Dan kampretnya, dia nggak ngerti kalau gue lagi nggak ngerti. Dua puluh menit itu juga gue cuma mangut-mangut, tanpa berdaya, hingga akhirnya.: "Silahkan Pak ke kamar, beres-beres dulu" Terpaksa gue putus obrolan mereka, dan kayaknya mereka baru sadar kalo yang sedang di ajak ngomong nggak ngerti bahasa mereka, karena gue menawarkan secara sopan dengan bahasa Indonesia

=======

Karena kita keasyikan ngobrol, lebih tepatnya tiga bapak-bapak itu keasyikan ngobrol, akhirnya kita telat ke aula untuk ngikutin workshop. Hikmahnya. Ada yang gantiin gue jadi dirigen. ahayyy...!! *Salto

Seusai workshop sesi pertama gue kembali ke kamar. Udara mulai menusuk tulang-tulang persendian, pori-pori kulit mulai membesar. Gue menggigil kedinginan. Packing yang super kilat membuat gue lupa membawa jaket atau sweater, dan hasilnya gue nggak bisa tidur semaleman.

Singkat cerita, workshop selesai. Dan yang paling nggak disangka-sangka, setiap peserta workshop dapat amplop yang isinya dua ratus ribu rupiah. Subhanallah, gue dapet rezeki Rp 200.000. Apakah itu kebetulan? Gue mikir agak lama. Gue rasa nggak. Masih inget, gue kasih sopir dengan uang pribadi berapa? Rp 20.000. Besok itu juga sedekah gue diganti sama Allah sepuluh kali lipatnya. Yey. Yang gue sesalkan, kenapa nggak gue kasih seratus ribu aja tuh Pak Sopir. Kalau kasih seratus ribu kan bisa jadi satu juta. Wahh..keren!

Ketemu Kenalan Lama

Cek out dari hotel gue langsung bergegas ke Jogja departement store yang berada di kota Sukabumi. Di tempat inilah gue janjian sama Mas Ikhsan, seorang entrepreneus Sukabumi yang juga memiliki outlet kopi di swalayan tersebut. Ilmu pengetahuan gue mengenai tongkrongan di Sukabumi memang minim, tapi untuk sebuah tempat kongkow-kongkow yang lumayan di Sukabumi yang gue tahu ya Swalayan ini. Mungkin sengaja Mas Ikhsan ngajak ketemuan di sini, selain foodcouartnya memang ramai, mungkin sekalian memperkenalkan aoutlet kopinya.

Kenal Mas Ikhsan sudah lama sebenarnya, kita sama-sama jebolan dari Moslem Millionaire IV Ippho Santosa. Bedanya gue memutuskan untuk menjadi guru di Alkausar (entah dalam waktu berapa lama), sementara beliau terus menggeluti dunia entrepreneurnya.

"Ahmad..!" Suara mas Ikhsan memanggil gue yang hampir beberapa menit celingukan sana-sini di foodcourt itu.

"Halo, Mas apa kabar?" Sapa gue senang. "Wah akhirnya bisa ketemu juga ya"

Mas Ikhsan langsung mengajak gue ke outlet kopinya, dan mempersilahkan gue untuk memesannya.

Menyeruput secangkir kopi, membuat gue teringat teman-teman gue di Jakarta, bukan hanya suasana food court yang ramai itu, tapi pembicaraan mengenai dunia usaha membuat gue ngerasa ada di Jakarta. I'm like home again.

Seketika gue galau, mau dibawa kemana tujuan hidup gue. Apakah selamanya gue terus tinggal di lingkungan asrama. Rasannya seperti mengubur mimpi hidup-hidup. Apakah gue benar-benar di lingkungan yang benar. Apakah STUDIO5 benar-benar bisa besar nanti (semoga di Tangan dingin M.Tulus bisa). Duh gue rindu STUDIO5. Pikiran-pikiran itu terbelesit di sela-sela obrolan gue dengan Mas Ikhsan. Ngobrol dengan Mas Ikhsan sempat memicu jiwa entrepreneur muncul lagi di hati ini. Dan hati gue bilang

"Gue pergi untuk sementara"



SELANJUTNYA >>

Sabtu, 04 Januari 2014

Kamar Hotel yang menyimpan banyak pertanyaan

Tanggal 25 Desember 2013 yang lalu saya ke jogja. Lagi-lagi ini di luar rencana saya sebelumnya. Saya ikut rombongan tetangga yang tempo lalu juga ngadain Jiarah Ke Tasik. DISINI postingnya.

Masih dengan permasalahan yang sama. Peserta ada yang cancel. Demi menutupi anggaran yang sudah terlanjur dikeluarkan panitia untuk booking penginapan dan segala macamnnya, panitia dengan susah payah mengajak orang-orang yang mungkin bisa diajak, termasuk saya.

Ok. Saya tidak akan menceritakan bagaimana perjalanan menuju tempat yang menjadi pusat perhatian para turis asing maupun lokal itu. Tidak juga membeberkan tempat-tempat wisata apa saja yang rupawan disana. Siapapun tahu Jogja, apalagi anak-anak SMA sekarang, dimana tiap tahun setiap sekolah berbondong-bondong menuju kota itu.
 Video ini rasanya sudah cukup menggambarkan tempat apa saja yang saya kunjungi di sana

Terus Anda nulis blog ini?

Saya ingin menceritakan dari sisi yang berbeda. Dari pengalaman pribadi yang tidak begitu pandai diceritakan secara afik, Dari kejadian yang mungkin di luar nalar tapi memang benar terjadi, dan mungkin malah bisa menyebabkan terkesan biasa dan melemahkan kejadian aslinya akibat kurang pandai mengolah kata. Tapi saya tidak peduli. Saya cuma ingin mengabadikan kejadian yang benar-benar saya alami di blog ini. Menceritakan sebisa mungkin, setulus mungkin. Agar kelak anak cucu cicit saya mengetahui suatu kejadian yang saya alami dengan membaca blog ini. Oke saya terlalu lebai.


Jadi begini ceritanya.
Menurut pengakuan tetangga saya yang ikut juga dalam rombongan tour tersebut, kamar hotel yang saya tempati katanya angker. Ya angker. Serem.

Syukurlah, saya mengetahuinya setelah sampai di Jakarta.(Telat merinding)

 Oke lanjut ya!
Rombongan ke Jogja itu adalah rombongan yang teridiri dari para keluarga dan beberapa anaknya.(Emak-emak, bapak-bapak sama bocah-bocah kecil-kecil super berisik ketika mereka terjaga di dalam bus sepanjang perjalanan. Grrr...!!). Ada tiga cewek yang ikut rombongan tour itu, salah satunya adek kelas saya di SMA.

Jalan-jalan tersebut rencana lama buat mereka dan tentu rencana baru buat saya. Jadi tujuh kamar hotel yang di booking panita tersebut tidak bisa menampung saya, bukan karena kurang tapi karena nggak mungkin panitia menempatkan saya dalam satu kamar bareng tiga cewek termasuk adek kelas saya itu, apalagi  bareng sama salah satu keluarga dari rombongan itu. Jelas itu nggak mungkin.


Akhirnnya saya di tempatkan di kamar yang agak beda baik lokasi maupun ukuran kamarnya. Ya kamar itu hanya terdiri satu tempat tidur, sementara kamar lain masing-masing memiliki dua tempat tidur. Letaknya pun agak tersendiri di pojokan yang harus melalui lorong sempit.
Mungkin panitia merasa tidak enak atas ketidaknyamanan tersebut. Akhirnya untuk malam pertama di hotel itu saya ditemani salah satu anak laki-laki panitia untuk tidur bareng di kamar itu. Untung tempat tidurnya cukup buat berdua. Malam pertama di hotel itu nggak ada yang aneh buat saya, selain mimpi basah. *Ups!

Paginya setelah sarapan, saya bersama rombongan pergi ke Pantai Parangtritis dan ketempat wisata lainnya.
Pantai Parangtritis

Nah, malam keduanya nih..
Malam kedua saya nggak mau buru-buru untuk tidur. Saya lebih memilih keluar hotel menikmati suasana malam jogja tanpa rombongan. Sekitar jam sebelas malam baru saya memutuskan untuk kembali ke hotel dan masuk kamar. Saya pikir anak laki-laki panitia itu sudah masuk kamar dan sudah tertidur pulas, ternyata kamar itu masih sepi. Akhrinya saya memutuskan untuk tidur duluan. Mungkin anak itu juga tengah keluar hotel melakukan apa yang saya lakukan tadi.Oke gpp.

Saya tidur tanpa mengunci pintu kamar, karena saya tidak mau diganggu dengan ketukan pintu oleh anak itu ketika dia balik dan saya lagi asyik tidur.

Saya tidur normal seperti biasanya. Kaki di atas, kepala di bawah, plus sambil ngupil. Di pertengahan malam saya terbangun karena saking kegerahannya, kamar serasa panas dan.... kampreeett...!! Saya  tidur sendirian ternyata. Tidur di mana tuh bocah.

Saya melihat jam di handphone waktu sudah menunjukan jam tiga pagi. Dan saya baru ingat. Ya. Malam itu malam Jumat. Seketika itu juga saya mensuges diri untuk menjadi seorang yang positif dan pemberani. Oke gak ada apa-apa bhadick! Hantu itu hanya hayalan manusia. Sebelum selesai membatin, tiba-tiba saya mendengar suara aneh. Ya suara aneh. Saya dengar lagi secara seksama. Ok no problem, itu suara radio. Ya suara radio yang tengah memutar cerita serem dan saya hanya mendengar suara soundtracknya saja semacam kuntilanak ketawa dan anak kecil menangis.

Tapi... wait! Jam tiga pagi???
(Teman-teman yang di jogja tolong konfirmasi ya ada nggak cerita serem kayak di Ardan fm tapi siarannya jam 3 pagi? Saya sih coba berpikir positif aja itu emang suara radio)

Pagi harinya saya bangun agak telat. Subuh mepet. Semua rombongan sudah siap-siap packing buat melanjutkan perjalanan ke Borobudur.  Agendanya dari sana kita langsung ke Jakarta.

Di bus beberapa orang bercerita tentang suara aneh yang terjadi di hotel semalam. Saya hanya mendengarkan tanpa komen. Karena saya tidak begitu akrab sama mereka, sementara adek kelas saya dan tetangga yang saya kenal duduk dibangku depan. Saya lebih memilih memejamkan mata sambil mendengarkan celotehan mereka.

Singkat cerita saya sudah tiba di Jakarta. Sudah nyuci pakaian kotor, sudah pindahin file-file foto dari HP ke laptop, sudah selesai juga goyang oplosan. loh?


Ketika saya mengantar foto-foto yang sudah saya cetak ke tetangga yang juga ikut ke Jogja. Tetangga saya nanya

T    :  Dick kemarin tidur di kamar hotel itu gak ada apa-apa?
S     : Nggak ada Bu. Emang ada apaan?
T     : Soalnya Malik kemarin pindah tidurnya.
S     : Nah itu diah, kemarin Malik pindah kapok Bu, tidur bareng saya?
T     :Katanya ada yang narik kakinya. Makanya pas malam ke dua dia nggak berani lagi    tidur di kamar itu. Dia milih tidur sama Emaknya di kamar utama.
S     : Oh gitu.(saya jadi penasaran)
T    : Pas malam kedua juga waktu lo keluar hotel, ada dua petugas masuk kamar lo. Bawa apa gitu. Sebelumnya dia nanya, bu itu kamar ada yang nempatin? Pas kita bilang ada, dia balik lagi dan  ngambil sesuatu. Salah satu petugas itu bisik pelan ke kita ; kamarnya bau amis bu, makanya harus di semprot.
S      : Serius bu? (Pantes kamar itu bau anyir. Tapi saya lebih memilih nggak cerita karena berpikir positif bau yang ditimbulkan akibat kamar yang jarang dipakai)


Tapi okelah..semua telah berlalu.
Segala yang telah berlalu sudah tidak bisa kita apa-apakan lagi, selain cuma bisa kita syukuri atau kita beri arti..tentu arti yang positif.baiknya..

Tapi jujur saya masih banyak menyimpan pertanyaan tentang kamar hotel itu. Pertanyaan yang tidak mudah terjawab dengan mudah, dan mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengetahui semua itu. Inilah pertanyaan-pesrtanyaan penuh misteri itu:
Berapa sih harga permalam kamar hotel itu? Kamar yang saya tempati free kah? Atau memang free dan merupakan bonus dari manager hotel karena telah menyewa tujuh kamar?  Pernah nggak ya pasangan mesum menyewa kamar yang saya tempati kemarin?  Terus kalau saya ingin menyewa kamar itu bisa nggak melalui internet? dan masih banyak lagi pertanyaan yang belum terjawab dipikiran saya #GagalFokus




Sumber gambar: http://inikeramat.com/
                           http://uniknya.com/2011/12/5-kamar-jenazah-angker-di-dunia/

SELANJUTNYA >>

Selasa, 17 Desember 2013

Sukses. Gue pipis sambil lari

Hal absurd yg pernah gue alamin.
Yang pertama. Ini baru semalem. Gue lagi pulang menuju rumah. Jalan kaki. Gue jalan tepat di belakang anak muda. Tiba-tiba dia berenti. Dan... dia langsung pipis di depan gue. Eh sinting. Bisa langsung cepet gitu pipisnya tanpa menghayati dulu. Gue baru ngeh kalo di depan gue adalah anak autis. Gue takut banget. Bukan hanya takut dipipisin, gue takut dia ngikut pulang ke rumah gue. Gue punya pengalaman sama anak autis yang gak pernah berhenti ketawa di depan hidung gue. Hasilnya gue gak boleh pulang dan anak itu maunya main sama gue.


Yang kedua. Kejadian ini di Bandung. Gue lagi naik angkot hijau orange jurusan Caringin. Kebetulan gue duduk samping sopir.  Saat angkot itu berhenti menaikan penumpang, ada bapak-bapak pipis di pohon. Ya pipis di pohon gak aneh sih. Tapi masalahnya dia pipis bukan ke arah pohon, tapi membelakangi pohon, dan ke arah angkot, hasilnya sukses seangkot ngeliat semua senjata saktinya.

Yang ketiga 
Kalo yang ini gue sendiri yang pipis. Waktu itu kejadiannya di Sukabumi. Sumpah saat itu lagi kebelet pipis tingkat kabupaten. Di mana toilet-toilet susah dicari.  Cuma ada kiri kanan jurang. Dan lo tau sendiri nahan pipis adalah hal yang paling gak enak banget. Akhirnya disaat tak tertahankan gue minta temen gue berenti nyetir. Biar gak keliatan orang gue pipis di belakang mobil. Kampreeeettt... lagi enak-enaknya pipis temen gue jalanin mobilnya. Disaat yang bersamaan rombongan mobil bak yang isinya warga yang mau jalan2 menikmati indahnya pelabuhan ratu atau ujung genteng atau entahlah melihat ke arah gue dengan kondisi masih pipis. Tidaaaaaakkk....aku kotor mama..

Nb: kalo diantara pembaca blog ini ada yang ngeliat anak muda keren lagi pipis sambil lari-larian di pinggir jurang, itu bukan gue ya. Atau kalo Anda salah seorang dari rombomgan di dalam mobil bak tersebut, dan mengenali anak muda tersebut...mbak, mbak... mas..mas.. Pak, Pak.. Kita gak kenal kan ya?


Oia kalo kalian punya pengalaman atau pengalaman temen yg kebelet pipis share di comment box ya. ..
SELANJUTNYA >>

Rabu, 22 Mei 2013

Pamijahan Tasikmalaya


Hari sabtu 18 Mei 2013 kemarin saya ikutan wisata ziarah ke Pamijahan Tasikmalaya. Ini di luar rencana tentunya. Saya hanya melengkapi bangku kosong yang sayang kalau tidak dimanfaatkan. Beberapa peserta ziarah ada yang cancel. Panita dengan segenap usaha kerasnya, akhirnya dapat merekrut orang termasuk saya untuk mengisi bangku-bangku kosong tersebut. Dengan tujuan agar panitia tidak menderita terlalu besar kerugian, akibat pengcancelan tersebut. (Tentu di otak saya hanya ada kata "lumayan liburan murah setelah sabtu minggu secara terus menerus mesti ngajar bimbel). 

Sungguh sebuah perjalanan wisata ziarah yang membuat saya tercengang-cengang. Kita disuguhkan sebuah keajaiban alam yang luar biasa hebat. Sebuah goa.(Ini untuk pertama kalinya saya masuk goa). Goa yang saya pikir hanya ada di dongeng-dongeng penghantar tidur serta di buku-buku sejarah kuno. Oh, This is real.

Memasuki goa serasa memasuki mulut hewan yang besar. Mulut goa tersebut terdapat banyak gigi-gigi halus seperti gigi hewan.(Yang kebayang waktu itu saya serasa masuk mulut ular Basilisk yang ada di film Harry Potter. Damn... kemakan film..). Mulut goa yang sempit membuat para pengunjung mesti berjejal dan berdesakan untuk memasukinya. Suasana yang gelap gulita di dalam goa juga mengharuskan kita menggunakan penerangan agar mempermudah menyelusuri setiap peristiwa-peristiwa yang dulu pernah terjadi di goa tersebut. Kita akan diperkenalkan tempat di mana Wali Allah melakukan ritual seperti bertapa di sana. Konon di dalam goa tersebut juga terdapat lubang yang bisa menuju Mekah. Otak saya benar-benar sulit mencerna akan kebenaran hal itu, apalagi ketika lobang di dalam goa tersebut sangatlah kecil berdiameter kurang lebih 30an senti. Logika saya dan siapapun pasti tidak akan sampai kesana. Tetapi itulah hebatnya sebuah keyakinan. Ia bisa menggapai semua hal yang tidak bisa digapai hanya melalui sebuah logika. (Apa jadinya sebuah agama jika diterapkan berdasarkan logika. Bukankah Iman itu penting. Iman itu keyakinan).
Orang berdesakan untuk memasuki mulut goa


Posisi di dalam goa. Ternyata luas
Perjalanan menuju Pamijahan tidak sesederhana yang saya bayangkan rupanya. Jalan berlubang dan penuh kelokan terkadang membuat pusing dan mual. Belum lagi truk-truk pasir dan truk-truk kayu berlalu lalang seenak jidat membuat perjalanan tidak maksimal. Tetapi pemandangan indah nan asri sepanjang jalan menuju Pamijahan tidak bisa kita abaikan begitu saja. Sesawahan serta pohon-pohon besar sepanjang perjalanan membuat perjalanan cukup mengasyikan. Maklum. Jakarta bisa dipastikan tidak memiliki pemandangan yang demikian.

Sesampainya di lokasi ziarah kita akan disambut oleh tempat parkiran yang lumayan besar yang sering disebut terminal oleh warga setempat.
Berikut adalah foto pintu masuk terminal khusus wisata ziarah itu.

Terminal




Di depan Makam Syeikh Abdul Muhyi
Daaaann....Ini hal yang nggak boleh di lupakan kalau kita plesiran, ziarah atau jalan-jalan............................................






































Oia sekedar info. Kalau Anda berniat berziarah ke Pamijahan sebisa mungkin siapkan recehan (Ratusan ribu juga boleh sih) karena kalau tidak Anda akan kerepotan sendiri untuk menghadapi anak-anak kecil penyambut rezeki seperti foto-foto di bawah ini





Ini temen gue tulus lagi di todong sama bocah penyambut rezeki





























SELANJUTNYA >>

Rabu, 13 Maret 2013

Pantai Ujung Genteng Sukabumi

Postingan ini telat beberapa tahun yang lalu. Sebenernya gue udah pernah posting hal semacam ini di blog gue yang pake dot.cc yang kabarnya entah ke mana. Tapi kali ini gue coba posting ulang lagi. Gpp kan? (Siapa juga yang ngelarang. Blogmu dewe. Kamu mau tidur-tiduran, harlem shake, gangnam style, atau salto ala capoeira di blog mu, ya nda papa...cuma pesenku satu. ....klo bisa yo toh nulis blog yang bagus. Yang gak asal nulis...biar klo ada yang baca blogmu enak ngebacanya)
 ====================================================================

Yap. Postingan gue yang udah pernah gue share via blog gue yang raib itu adalah tentang jalan-jalan gue ke Pantai Ujung genteng sama temen-temen kampus yang awalnya adalah acara tahun baruan...tapi nyatanya kita berangkat setelah tahun baruan.(Eh, tahun baruan itu abisnya sampe kapan sih? Tapi kita berangkat masih sekitar bulan Januari lho.)

Ini adalah bentuk penampakan pantainya:



Awalnya gue ngebayangin pantai Ujung Genteng itu kaya Pantai Kute Di Bali. Banyak pengujung dan kudapan enak yang bisa kita makan sehabis berenang di Pantai. Berjemur santai sembari memakai kaca mata hitam memandai indah ke langit biru. Tapi ternyata praduga gue meleset..haha.. 

Pantai Ujung Genteng sepi (itu waktu gue ke sana. Mungkin sekarang udah rame) yang banyak hanya para nelayan pencari ikan dengan perahu-perahu kecilnya. Udah gitu pantainya penuh karang-karang tajem. Klo kita gak hati-hati bisa melukai kaki kita. 
So far, pantai ini keren buat gue. Pantainya masih asri banget. Belum banyak jamahan manusia. Beda banget, apalagi sama pantai Ancol yang penuh sampah-sampah pembungkus makanan, bekas pengujung.

Di sekitar pantai itu ada sebuah gubuk yang sengaja di buat, untuk kita neduh atau menikmati ikan bakar yang sengaja dijual sama nelayan di sana. Dan rasa ikannya itu lho... bikin gue nambah tiga piring....secara cape juga abis berenang.


Selain pantai yang asri, di sekitar lokasi pantai itu kita bisa ngeliat-ngeliat tempat penakaran penyu. Wih..penyu. Sumpah.!

Untuk bisa ngeliat penyu-penyu itu kita mesti dateng pada malem hari, di waktu yang gelap... ada sinar bulan aja, tuh penyu nggak akan menepi ke pantai.

Tapi sial ,ketika gue dateng, bulan lagi terang-terangnya....jadi susah buat ngeliat penyu itu nongol di sekitar pantai. Untungnya ada seekor penyu yang terjebak. Ya. Dia nongol ketika cahaya bulan belum terang. Jadi sebelum penyu itu balik lagi ke laut, kita udang ngepung duluan. Hahaha...

 Penyu akan ke pantai klo dia mau bertelur.
Ya walau hewan ini tinggal di laut, tapi untuk urusan nelur dia mesti ke daratan.
Yang hebat ketika penyu kecil di lepas ke laut dan ketika sudah besar dan kepengen nelur dia akan kembali ke pantai dimana dia dilepaskan dulu. Keren kan?? Dia gak kaya kacang yang lupa kulitnya. (Iya lah... secara dia panyu, bukan kacang). Tapi sayang, dari ratusan anak penyu yang di lepai ke laut paling hanya satu, dua yang bisa bertahan sampe besar....sisanya tidak bisa bertahan. Sebagian besar di mangsa oleh predatornya. Makanya penyu merupakan binatang yang dilindungi. Ya, karena hewan ini rawan akan kepunahan.

Ini adalah tempat penakaran penyunya. Yuk, kita liat-liat sebentar..


Demikian jalan-jalan gue ke Ujung Genteng.

NB: Aksesnya susah banget. Selain bisa mengocok-ngocok perut yang sampe bikin mual perut, karena jalanannya hancur sehancur-hancurnya. Daaaannn..... satu lagi.... klo nginep jangan kaya kita-kita. Dari penginepan sampe pantai butuh waktu satu jam. Temen gue salah rekomen penginapannya (ups..ini curcol sih)



SELANJUTNYA >>

Senin, 11 Maret 2013

JCC SENAYAN. Akhirnya ada Tab di tangan gue

    Setelah kerja siang dan malam ditambah nggak jajan-jajan, akhirnya gue bisa beli Samsung Galaxy Tab2 (10.1) juga. Eh ternyata apa pun yang kita pengenin klo kita sungguh-sungguh menginginkannya, pasti terwujud juga ya.
    Klo emang ternyata ada hal yang kita pengen gak kesampean, bisa jadi, kita kepengennya gak sungguh-sungguh tuh. Atau gak, hal tersebut nantinya akan menjadi  mudharat, baik buat kita atau orang lain. *Ya, berpikir positif aja lah.

    Awalnya gue kepengen Tab tersebut supaya lebih simpel aja, baik gunainnya maupun bawa-bawanya. Cape juga ternyata bawa laptop (Toshiba Satellite L645), kemana-mana tiap hari, yang beratnya gak ketulungan.
    Tapi kok gue curiga, kayanya gue bakal tetep menggunakan laptop jadul gue itu deh, buat kerjaan gue. Karena di laptop itu ada MathTypenya yang bisa memperlancar kerjaan gue (entahlah, kecuali gue nemuin aplikasi semacam MathType di Tab tersebut. Aminn).

    Dengan semangat 45 x 2 akhirnya gue pergi juga ke JCC Senayan pada tanggal 9 Maret yang bertepatan hari Sabtu. Yap di sana ada pameran komputer yang di gelar dari tanggal 6-10 Maret 2013 lalu. Dan karena gue paling risih pergi kemana-mana sendiri, akhirnya gue ngajak ade kelas gue. Nih, nih orangnya :

Saras dan Firda fotonya gunain Blackberry Gemini

Cie, Ka Ahmad modus deh..

Gak lah, mereka-mereka itu ade kelas gue yang sekaligus murid gue. Jadi no modus diantara kita. hahaha...

Nah, selain mereka, temen gue juga ikut. Tanpa temen gue yang satu ini kegilaan gue berkurang beberapa persen. Gak percaya? Nih gue tampilin penampakannya..



Seru gak? Seru gak...?
"Walau gak hafal lirik... tapi penghayatannya, totalitas dan seru. Klo menurut saya kamu layak maju ke babak berikutnya (Ahmad Dhani Say)


==============
      Sumpah, pas sampe JCC pusing gue. Orang banyak beud di dalem sana, sampe membludak. Gila ya, daya konsumtif orang Indonesia.
     Padahal klo masalah harga gak jauh beda sama di Harco Mangga Dua tuh. Tapi dengan adanya pameran tersebut orang serasa tersihir untuk berlomba-lomba ngures ATM nya. Bayangin gue udah 4 kali ngatri ATM yang begitu panjangnya, dan 4 kali itu juga pas giliran gue masukin kartu ATM, ternyata duitnya udah ludes duluan.

      Orang-orang (termasuk gue) beralih jadi beli dengan cara cash ketimbang tarik tunai via ATM lantaran discountnya yang lumayan gede, sekitar 300 rebu. Wihh lumayan kan buat beli kuaci.
          Hati gue mengebuh-ngebuh ketika SPG cantik ngejelasin klo ada discount menarik jika kita beli dengan cara cash. Mata gue berbinar ngeliat SPG cantik itu, hidung serasa mimisan. lidah serasa kaku. Halah lebay.
        Tanpa pikir panjang gue ikut ngatri ATM tepat di belakang ibu-ibu gemuk yang nafasnya kerasa banget di kuping gue.(kasian jadi orang gemuk). Sekitar setengah jam akhirnya gue sampe di depan mesin ATM, dan sialnya duitnya abis. Gila gue di PHP in mesin ATM. Setelah empat kali mengatri dengan durasi antrian yang sama, akhirnya gue ngantri lagi bayarnya. Hado.hado..cuapeee dehh.
       Setelah lama nunggu, sampe-sampe sip-sip an sama Saras, karena gue mesti sholat Magrib, akhirnya Tab itu ada di tangan gue. Horeeee...!!!

          Mungkin bagi sebagian orang, begitu mudah mendapatkan seperti barang yang gue kepengenin ini. Tapi bagi gue, barang itu mesti gue dapetin dengan jerih payah serta keringan bercucuran, antrian panjang seperti ngantri raskin. Tapi selama keringet gue gak habis buat diperas, gue akan peras lebih keras lagi demi mendapatkan hidup yang lebih baik lagi.(terdengar lebay mungkin).

Tapi apapun itu jika kita mendapatnya dengan sebuah perjuangan, kita akan puas mendapatkannya serta akan memperlakukan hal tersebut dengan sebaik-baiknya. *Begitu juga kaya pacar kali.


Nah, sebelum pulang kita nggak akan lupa sebuah ritual foto-foto. Tanpa foto-foto rasanya ada moment yang hilang. Hahaha...emang narsis aja.

Hahahhahahahahahaha.............................................
Sampe jumpa di cerita berikutnya..!!


SELANJUTNYA >>