Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Mei 2014

Penutup Ketersiksaan


Tinggal di asrama itu bukanlah suatu yang mengenakan, apalagi dengan segala keterbatasan. Sebut saja susah makan. Ini bukan masalah soal uang yang berada di kantong, tapi soal alat masak yang hanya rice cooker di kamar. Minimnya peralatan masak membuat saya selalu pergi ke warung nasi yang jaraknya hampir satu kilo setiap jam tujuh malam. Lagi-lagi ini bukan soal jarak. Ini soal kebebasan. Keluhan ini akan meluas menjadi saya yang sering terkunci di asrama saat hendak jam makan itu tiba. Asrama hanya soal nama, kenyataannya saya seperti tinggal di sebuah kosan namun tanpa kebebasan. Kadang saya tidak habis pikir dengan petugas asrama yang menyamaratakan keadaan. Jelas saya bukan siswa. Asrama sering di kunci supaya siswa tidak sering keluar masuk asrama terutama di jam sekolah dan sholat. Lalu kenapa saya tidak menduplikat kunci? Tidak semudah itu nampaknya, banyak persoalan yang kadang sepele membuat terlihat rumit kalau berbicara mengenai lingkungan sekolah itu.

Baiklah akan saya ceritakan sedikit kenapa saya berada di tempat yang mengagumkan itu (Kira-kira begitu jika saya mau berbohong mengenai asrama itu).

Sudah hampir tiga bulan saya mengajar di sebuah sekolah boarding school pinggiran desa. Atas saran managemen saya di tempatkan di asrama bersama siswa, sementara sebagian guru yang lain tinggal di mess masing-masing yang telah di sediakan sekolah tersebut. Hal ini tidak masalah bagi orang baru macam saya untuk tinggal di manapun. Apapun itu saya mengjunjung tinggi keputusan managemen. Tapi seiring waktu yang terus berjalan, ketidaknyamanan dan ketidakbebasan datang, salah satunya yang saya sebutkan di atas. Terkunci di kamar sendiri. Rasanya tersiksa sekali. Saya jadi mulai tidak suka dengan kondisi itu. Mulai tidak menyukai lingkungan di sana. Mulai tidak menyukai pekerjaan. Karena tidak suka pekerjaan, saya jadi tidak suka dengan orang-orang di sekitarnya. Maka gandalah penderitaan saya. Sudah tersiksa dengan pekerjaan, tersiksa pula dengan lingkungan.

Namun saya percaya, semua penderitaan itu pasti akan ada manfaat kelak. Modal itu akan menjadi bekal dikemudian hari. Tidak ada yang sia-sia dari sebuah penderitaan yang saya jalani. Saya jadi mulai terbiasa bangun pagi karena pengeras suara yang mengganggu setiap jam setengah lima pagi. Mulai terbiasa sholat berjamaah walau diawali cuma karena rasa tidak enak. Mulai menyukai olahraga. Mulai terbiasa ke masjid. Mulai-mulai itulah yang kini bisa sedikit menutupi ketersiksaan saya kini.



SELANJUTNYA >>

Senin, 14 April 2014

Lebih Baik Gagal Pulang dari Pada Gagal Hidup

Gagal Ke Jakarta
Gue gagal pulang bareng Nisa dan orang tuanya ke Jakarta. Padahal tawaran Nisa gue sambut dengan hati penuh gegap gempita pagi itu. (Ya, selain hemat ongkos, kali aja ada snack gratisannya juga sepanjang perjalanan ke Jakarta. Ngarep). 

Murid gue yang ramai (walaupun sendiri) kalau di kelas itu ternyata tetangga gue di Jakarta. Jarak rumah kita nggak begitu jauh, sekitar lima jam (Itu kalo gue ke rumahnya menggunakan ala suster ngesot, tapi kalo naik motor sekitar 5 menitan). 

Penyebab kegagalan itu sederhana, gue dapat tugas dadakan dari Pak Kepsek, dan hari itu juga gue mesti menghadiri workshop di Selabintana, Sukabumi. Gue sedih, pohon-pohon terkekeh, kupu-kupu terharu hinggap di dahan keruh, dan gue memang lebay.

Seketika itu juga gue langsung packing. Ini packing tercepat yang pernah gue lakukan. Iya karena gue cuma bawa satu stel pakaian dan dua celana dalem. 

Setelah selesai packing, gue langsung menuju parkiran sekolah. Sopir yang mau mengantar gue sudah siap, tapi hati gue belum siap, karena pikiran mau pulang ke Jakarta belum lenyap sepenuhnya di tempurung otak.

Tapi walau bagaimana pun ini pertama kalinya gue menghirup udara bebas Sukabumi, setelah sekian lama terjerembab di asrama. Dan ini kesempatan gue untuk mengenal Sukabumi lebih jauh lagi. Hahaha...Gue coba menghibur diri

"Selama jadi sopir, paling jauh ke mana Pak?" Tanya gue sok akrab sama sopir sekolah. Sementara mobil terus bergerak meninggalkan gerbang sekolah melintas bebatuan dan jalan berlubang yang kiri kanannya terbentang persawahan dan rumah warga. Untuk sebuah pemandangan indah, tempat gue ngajar itu emang juaranya. Pesawahan yang membentang luas serta gunung yang serasa lima kali salto saja bisa sampai ke puncaknya adalah pemandangan sehari-hari di sini. Tapi kehiruk-pikukan Jakarta kerap kali bikin rindu, apalagi memadu secangkir kopi dengan roti bakar di kafe tempat biasa gue duduk sendiri adalah hal yang belum bisa gue tinggalkan secara ihklas.

"Kalau perjalanan dinas paling ke Bandung dan Jogja, tapi kalau pribadi saya pernah ke Kebumen, Pak" Jawab sopir dengan tidak meninggalkan logat sundanya.

"Oh gitu" Jawab gue sambil manggut, dan terus memperhatikan rumah-rumah warga yang terlintas.

"Kalau kerja di Alkausar sudah berapa lama Pak?" Inilah jurus basa-basi gue yang super basi. Gue percaya basa basi itu bisa juga membangun keakraban.

"Dari tahun sembilan-sembilan, Pak" Gue tahu maksudnya 1999.

Gue mangut-mangut lagi.

Gue melirik jam tangan. "Oia, kalau masih ada waktu kita cari makan dulu, Pak. Tempat makan yang enak di Sukabumi di mana ya? Kalo bisa soto" Tetep di mana pun gue berada soto tetap menjadi makanan favorite. Lebih tepatnya gue gak bisa makan sembarangan, apalagi sambel dan makanan yang digoreng. Kampret. Jadi soto adalah makanan yang pas di lidah apalagi di perut. 

Gue emang sengaja berangkat pagi supaya banyak waktu buat mampir-mapir dulu, dan menjamah Sukabumi lebih lama lagi. 

===
Setengah jam kemudian, mobil berbelok dan parkir tepat di depan warung-warung tenda.

"Ini, namanya kantor dinas, Pak" Kata Pak Sopir sambil mengangkat rem tangan mobil

"Warung-warung ini, Pak?" 

"Bukan, eta!" Pak sopir menunjuk gedung yang berada di sebelah kanan warung-warung tenda berjejer itu. Rupanya becandaan gue dianggap serius.

"Ooh" Kata gue sambil manggut lagi.

Gue menuju salah satu warung tenda itu. 

"Aya, ada soto Bu?"
Gue sadar bahasa sunda gue hancur berantakan. Tapi bodo, dia nggak kenal gue. Dan gue juga sadar ada dan aya itu sama artinya.

"Aya. Sabaraha?"

"Siji, Bu". Sumpah gue nggak tahu itu bahasa sunda atau jawa. Tapi otak gue langsung komplen. Hiji kali, bukan siji

"Pak, mau pesen apa?" Tanya gue sambil menyeret bangku hingga berderit, supaya orang-orang yang barusan mendengar kekeliruan gue langsung teralihkan.

"Samain aja" Kata Pak sopir sopan.

"Bu, hiji deyi" Gue ngomong agak pelan (mungkin lebih terdengar biji), karena takut terdengar salah, tapi tangan gue cukup menjelaskan kalau gue pesen satu lagi. Gue ngelirik seorang ibu dan anaknya yang masih memakai seragam SMA, mereka menutup mulutnya, menahan tawa. Sementara gue menahan malu. Agghhhhh.....!!

Seusai makan soto di warung tenda, kita melanjutkan perjalanan lagi.

"Ini, Pak"  Gue menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan ke Pak Sopir.

"Dari Pak Henda?" Tanya sopir itu

"Ya, dari saya dong, Pak. Kan saya yang ngasih" Kata gue sambil becanda. " Itu uang pribadi saya, Pak, bukan uang sekolah"

"Oh, terima kasih Ya" kata sopir itu senang.


Hotel, Selabintana

"Permisi, bu. Kalau workshop guru matematika di mana ya?" tanya gue sama seorang ibu gemuk berkerudung yg sedang sibuk dengan handphonenya.

"Di sini, Pak" Sambil tidak melepaskan handphonenya dari telinganya. "Tapi belum pada dateng. Dari SMA mana?" Katanya melanjutkan, sambil menunjuk ke arah muka gue.

"Al Kausar, Bu" Jawab gue pelan, dan agak ketakutan.

"Nah!!"

Ibu itu langsung senang. Mimik mukanya tiba-tiba berubah.

"Ngaji nya?" (ngaji ya?)

"Ngaji?" Gue agak sedikit kaget. Apa gara-gara gue pake baju koko?. Gue ngelirik baju yang gue kenakan.

"Iya, ngaji buat pembukaan nanti. Dari Al Kausar mah bisa lah. Itukan sekola pesantren" Kata ibu itu menggampangkan persoalan.

"Mhhm...nggak bisa bu. Saya nggak bisa ngaji (lebih tepatnya gue demam panggung kalo ngaji di depan orang banyak). Saya masih baru di Alkausar" Gue ngeles.

"Kamu masih mahasiswa?" Ibu itu tiba-tiba memperhatikan muka gue. Gue takut kuadrat.

Sebelum gue menjawab, ibu itu langsung nyeletuk. " Yaudah jadi dirigen aja nya. Buat Indonesia Raya?"

Emang nggak ada cewek? Tanya gue dalam hati. Tapi tentu gue nggak bisa nolak untuk yang kedua kalinya.

"Iya, bu. Bisa" Jawab gue melas.

"Ya sudah, sok cari kamar sendiri atuh" Ibu itu memang benar-benar menggampangkan persoalan.

"Di mana, Bu?" Sebagai orang yang nggak tahu apa-apa, jelas gue dalam masalah besar. Ke workshop tentang guru pun gue baru saat ini, Sukabumi pula, dengan bahasa sunda yang minim pula, ditambah gue dateng seorang diri, tanpa guru-guru yang lain.

"Eta, pilih aja salah satu. Tapi satu tempat untuk enam orang nya".  Kata ibu itu, sambil me list nama gue sebagai dirigen

Gue diem beberapa saat.

"Yaudah jalan sana. Eta di ditu, aya kok kunci na"

Tanpa banyak berkomentar gue langsung mencari kamar di lingkungan hotel itu. Hotel yang klasifikasinya resort hotels membuat gue agak excited sebenarnya. Selabintana, mungkin sebagian dari kita banyak yang tahu. Tempat wisata yang berada di kaki gunung Pangrango memang menawarkan keindahan alam yang memukau. Tapi masalahnya gue bukan untuk senang-senang di sini, gue mau ikut workshop. Persis kayak lagi dikasih makan enak tapi kondisi gusi lagi sariawan. Damn. Percuma.


Di Kamar Hotel

"Pak sudah berapa orang di diyeu?" Tiga orang bapak mengetuk pintu sambil sesekali mengintip jendela.

"Saya, baru sendiri, Pak" Jawab gue sambil membuka pintu.

"Yaudah kita di sini aja" Kata satu dari mereka, dengan memakai bahasa sunda yang mudah gue pahami.

Mereka masuk tanpa persetujuan gue. Mungkin hak mereka, suka nggak suka kalau mereka mau memililih di sini, siapa juga yang larang. Aku rapoo..


Mereka langsung duduk di ruang tamu, menyandarkan badannya ke bangku, meletakan tas mereka masing-masing di sebelahnya. Gue persis pelayan meraka. Kampret. Akhirnya gue duduk di samping mereka menyamakan strata.

Nama saya, Ahmad, Pak" kata gue mengulurkan tangan satu-satu ke mereka.

Seorang bapak yang tepat di samping gue berbicara ke gue dengan nada emosi, tapi sayang. gue nggak ngerti, tapi gue ngerti maksudnya kalau dia sedang komplen sama pelayanan panitia workshop itu.

Gue manggut-manggut, tanda mengerti, walaupun sejujurnya nggak ngerti sama sekali apa yang dibicarakannya, karena selain dia berbicara sangat cepat, pake bahasa sunda pula. Aggghhhh.....!!

Bapak itu terus melanjutkannya pembicaraan dengan semangat empat lima kali sepuluh

"Kang, saha tadi namina?"

"Ahmad"

Bapak 1 : Nyaho teu, Kang Ahmad ...%$^@$%^*$E65$#$%^&*7$..... "
Bapak 2: Nya kitu,.....ggsf$#@%&*57767%5546^*%%#%#7^67...."
Bapak 3: Lain atuh,...%$^&*(&&&#$#!#$FHJGDFG()09877 ....."
Gue : "??????????????????????????????????????????????????"
(30 menit berlangsung. Tiga bapak itu penuh luka tusukan. Gue kayang mundur mengitari mayat mereka.)

Gue lelah mikir. Mereka malah makin seru ngajak ngomong gue. Dan kampretnya, dia nggak ngerti kalau gue lagi nggak ngerti. Dua puluh menit itu juga gue cuma mangut-mangut, tanpa berdaya, hingga akhirnya.: "Silahkan Pak ke kamar, beres-beres dulu" Terpaksa gue putus obrolan mereka, dan kayaknya mereka baru sadar kalo yang sedang di ajak ngomong nggak ngerti bahasa mereka, karena gue menawarkan secara sopan dengan bahasa Indonesia

=======

Karena kita keasyikan ngobrol, lebih tepatnya tiga bapak-bapak itu keasyikan ngobrol, akhirnya kita telat ke aula untuk ngikutin workshop. Hikmahnya. Ada yang gantiin gue jadi dirigen. ahayyy...!! *Salto

Seusai workshop sesi pertama gue kembali ke kamar. Udara mulai menusuk tulang-tulang persendian, pori-pori kulit mulai membesar. Gue menggigil kedinginan. Packing yang super kilat membuat gue lupa membawa jaket atau sweater, dan hasilnya gue nggak bisa tidur semaleman.

Singkat cerita, workshop selesai. Dan yang paling nggak disangka-sangka, setiap peserta workshop dapat amplop yang isinya dua ratus ribu rupiah. Subhanallah, gue dapet rezeki Rp 200.000. Apakah itu kebetulan? Gue mikir agak lama. Gue rasa nggak. Masih inget, gue kasih sopir dengan uang pribadi berapa? Rp 20.000. Besok itu juga sedekah gue diganti sama Allah sepuluh kali lipatnya. Yey. Yang gue sesalkan, kenapa nggak gue kasih seratus ribu aja tuh Pak Sopir. Kalau kasih seratus ribu kan bisa jadi satu juta. Wahh..keren!

Ketemu Kenalan Lama

Cek out dari hotel gue langsung bergegas ke Jogja departement store yang berada di kota Sukabumi. Di tempat inilah gue janjian sama Mas Ikhsan, seorang entrepreneus Sukabumi yang juga memiliki outlet kopi di swalayan tersebut. Ilmu pengetahuan gue mengenai tongkrongan di Sukabumi memang minim, tapi untuk sebuah tempat kongkow-kongkow yang lumayan di Sukabumi yang gue tahu ya Swalayan ini. Mungkin sengaja Mas Ikhsan ngajak ketemuan di sini, selain foodcouartnya memang ramai, mungkin sekalian memperkenalkan aoutlet kopinya.

Kenal Mas Ikhsan sudah lama sebenarnya, kita sama-sama jebolan dari Moslem Millionaire IV Ippho Santosa. Bedanya gue memutuskan untuk menjadi guru di Alkausar (entah dalam waktu berapa lama), sementara beliau terus menggeluti dunia entrepreneurnya.

"Ahmad..!" Suara mas Ikhsan memanggil gue yang hampir beberapa menit celingukan sana-sini di foodcourt itu.

"Halo, Mas apa kabar?" Sapa gue senang. "Wah akhirnya bisa ketemu juga ya"

Mas Ikhsan langsung mengajak gue ke outlet kopinya, dan mempersilahkan gue untuk memesannya.

Menyeruput secangkir kopi, membuat gue teringat teman-teman gue di Jakarta, bukan hanya suasana food court yang ramai itu, tapi pembicaraan mengenai dunia usaha membuat gue ngerasa ada di Jakarta. I'm like home again.

Seketika gue galau, mau dibawa kemana tujuan hidup gue. Apakah selamanya gue terus tinggal di lingkungan asrama. Rasannya seperti mengubur mimpi hidup-hidup. Apakah gue benar-benar di lingkungan yang benar. Apakah STUDIO5 benar-benar bisa besar nanti (semoga di Tangan dingin M.Tulus bisa). Duh gue rindu STUDIO5. Pikiran-pikiran itu terbelesit di sela-sela obrolan gue dengan Mas Ikhsan. Ngobrol dengan Mas Ikhsan sempat memicu jiwa entrepreneur muncul lagi di hati ini. Dan hati gue bilang

"Gue pergi untuk sementara"



SELANJUTNYA >>

Selasa, 25 Maret 2014

Mirip Yang Bikin Miris.

Entah untuk yang keberapa sekian kalinya gue dibilang mirip si inilah.. atau si itulah. Hadeh.. face market banget. Kalau dimiripin sama orang-orang keren sih nggak papa, kayak Mario Maurer misalnya, itu lho pemeran Khun Shone dalam film Crazy Little Thing (Hahahaha ngarep dot com. Ups..! ketahuan deh tontonan gue. Sumpah demi apapun itu gue dicekokin ade kelas buat nonton film gituan *hmmm.... bagus sih filmnya. Gubrak)

Tuh..mirip sama gue kan?? Ya nggak? ya nggak?

Tapi faktanya memang selalu ada saja stok orang-orang yang mirip kita lho. Nggak percaya? Nih contohnya:

Sophie Candiex, 29 tahun dan Catherine Trudeau, 31 tahun. Keduanya aktris dari Kanada. Beuh sebelas dua belas mukanya.


Kalau yang di bawah ini namanya Sylvie Gagnan dan Caroline Dhavernas. Gila mirip abis.


Nah kalau kakek yang dua ini namanya Rudi Kistler dan MaurusOehman. Bener-bener kayak kembar dari dalam perut.

Dan masih banyak lagi sebenernya orang-orang mirp di dunia ini. Di Indonesia pun banyak. Pak Jokowi misalnya. Atau  Untuk jelasnya liat aja blog INI, yang kebetulan gue juga ngambil gambar-gambar di atas dari situ.

Tapi yang lebih sinting lagi, di suatu forum Kompas Online ada yang mengatakan bahwa kita juga memiliki kembaran gaib dan malah disitu dijelaskan bagaimana caranya mengetahui kembaran gaib tersebut. Geblek. Karena temanya gue nggak mau berbau mistis jadi gue nggak bahas itu. 

Oke. Terus kalau lo mirip sama siapa, Dick?

Menurut teman rumah gue yang sekarang stay di Bandung (Hai apa kabar? Masih kenal gue? Mungkin dia bakal jawab. Siapa loh?), katanya gue mirip sama Duta Sheila On7. Gue juga bingung mirip dari mananya. Gue rasa temen gue itu ngidap mata katarak deh. Atau pas bilang gue mirip Duta dia baru aja kejedot tembok Berlin.

Nah, kalau menurut beberapa teman kamupus gue. Katanya gue mirip Ryan D'masiv. What? Ryan De'nasib mungkin? Duh, penderitaan apa lagi ini.
Makanya pas D'masiv tampil di tivi dengan lagu-lagu super galaunya, emaknya temen gue teriak-teriak manggil anaknya yang lagi nyapu di halaman rumahnya, "Teteh, Teteh, si Ahmad masuk tivi ya?" Temen gue lari ke ruang tamu, pas di liat bukan gue. Dia narik napas panjang. "Cuma mirip, Miii" katanya sambil mengatur napas."Emang iya?" kata emaknya dengan nada polos.

Terus, menurut Ibunya Eka Nanda, adek kelas gue di SMA dulu, gue dibilang mirip Abidzar anaknya Alm Uje. Hado ini dari mana miripnya ya? Tapi gue coba berpikir postif. Abidzar? tuh anak kan imut banget. Berarti gue imut dong? Huek. Muntah Keong.

Ibunya Eka mikir agak lama sambil menatap muka gue yang agak memelas "Kak, Ahmad mirip siapa yaa? sambil dia mikir gue deg-degan kayak mau nungguin pengumuman lomba. "Hmmm.. oooh iyaa? Anaknya Uje" kata ibunya dengan nada seneng bukan main kayak abis nemuin jawaban matematika yang super susah. "Ooh..iya semua ade-adenya mengamini pernyataan ibunya. Dan gue kepengen rasanya jadi liliput mengicil dan menghilang dari rumah itu. Ting! Ok. Gue lebay.

Sedangkan menurut temen gue si Tommy ade kelas gue sekaligus patner mengajar di STUDIO5, katanya gue mirip Ariel Noah, dan dia sampai nulis diblognya tentang masalah kemiripan gue itu. Kampret!! Entah gue harus merasa terhina atau terhibur. Ariel? Lo tau Ariel kan? Siapa dia? Iya artis yang main adegan film gituan *Bukan pemain film Crazy Little Thing yeaah.  Kali ini mendapat lo salah kawan. Gue nggak mirip Ariel, gue lebih mirip Luna Maya.

Daaannnn... yang paling males banget adalah ketika gue dimirip-miripin sama murid gue sendiri. Di Sudirman misalnya, ketika gue masuk kelas yang katanya ada yang mirip gue, kelas selalu gaduh, neriakin gue "Kaakk... ada adenya tuh!". Setiap kali mereka ngomong gitu rasanya pengen gue keluarin tuh anak, terus diiket di pohon biar nggak gangguin abangnya ngajar. Atau gue suruh ke warung beliin Pop mie di warung Tante Olen.(Ups..faktanya gue nggak pernah berhasil nyuruh ade kandung gue ke warung kalau lagi di rumah. Abang yang baik kan?)

Nah, di tempat gue ngajar sekarang, katanya ada murid SMP  yang mirip gue. Ya Tuhan.. sampai di gunung gini pun masih ada aja yang mirip gue.

Apapun alasannya dimirip-miripin itu nggak enak brader. Jangankan masalah muka, masalah baju aja kalau ada yang mirip malunya lumayan. Gue pernah ngalamin kejadian itu. Baju gue mirip cewek, di postingan ini gue pernah nulis masalah itu di SINI 

======================================================================

Gue. Di kafe. Sendiri

"Mas, Mas, vokalisnya Sheila On7 ya?"
"Bukan, Mbak. Mbak salah orang"
"Mas, Mas kan vokalisnya Sheila On7?"
"Bukan, Mbak. Saya bukan vokalisnya Sheila On7!!"
"Tuh, kan bener, Mas ini vokalisnya Sheila On7"
(Hening)
"Mas, kok nggak dijawab. Mas kan volisnya Sheila On7?"
"Iya, saya vokalisnya Sheila On7. Emang kenapa, ah??"
"Kok, ndak mirip?"
(ZZZzzzzzZzZzzzz...)




SELANJUTNYA >>

Senin, 14 Oktober 2013

Hidup itu begitu, bukan begini.

Betapa sering rasa kecewa itu singgah di setiap perjalanan hidup kita. Bisa jadi semua itu akibat minimnya rasa syukur dalam diri kita.
Bukan tidak mungkin hari-hari kita bakal penuh dengan keluhan, penuh rasa tidak menerima, dan sikap menyalahkan baik orang lain, keadaan, cuaca, bahkan jenis kelamin. Tapi untungnya Tuhan menciptakan rasa syukur untuk manusia yang dapat kita gunakan sebagai alat menolak keluhan-keluhan tadi. Tidak mudah memang dalam menggunakan alat ini. Ia tak berwujud sehingga sulit digunakan, sekalipun meniru rasa syukur yang telah dimiliki orang lain, sekalipun orang lain mencotohkannya secara detail untuk kita. Tapi, sekalipun sulit, ia mudah didapatkan, karena letaknya yang begitu dekat dengan kita. Kapanpun kita membutuhkan, ia akan hadir.


SELANJUTNYA >>

Kamis, 01 Agustus 2013

Gawat!! Ada Belasan Motor Ngikutin Gue


Belasan motor ngikutin gue dari belakang. Jantung gue serasa mau copot. Di tengah kepanikan seperti itu, seorang nenek malah teriak ikutan panik. Dengan histerisnya dia teriak: "Ya Tuhaaannn... ada apa ini???"
  Apakah mereka geng motor yang baru-baru ini dikenal karena kesadisannya? Menggergaji kepala korban hingga putus. Melindas badan korban dengan motor. Membakar tangan dengan knalpot yang panas.

Untuk mengetahui detail kejadian itu kita harus kembali ke beberapa jam sebelumnya dimana saat itu saya hendak memberikan les tambahan seorang murid di depok beberapa tahun lalu.

  Depok hari itu sangat terik. Matahari tak sedikitpun menutup wajahnya. Ia bersinar cerah di antara  awan-awan putih bersih bagai kapas yang bergulung indah di biru langit. Sinarnya cukup membuat kulit terasa mau terbakar. Dengan tubuh penuh peluh, saya terus mengendarai sepeda motor di kawasan yang hampir setiap kiri kanannya banyak ruko-ruko berjejer.
  Ketika sedang asyik menikmati sensasi teriknya perjalanan, tiba-tiba semua pengendara diminta untuk memutar balik kendaraannya. Seorang dari hansip tersebut menghampiri saya
"Mohon maaf, Mas. Jalan sementara ditutup. Ada hajatan di depan"
Pernyataan hansip itu saya balas dengan dumelan sumpah serapa saya.
"Sinting, sebentar lagi gue udah mau nyampe"
  Maaf atas nama keegoisan pribadi, memakai jalan yang cuma buat acara nikahan kayaknya hanya bakal nyusahin orang lain deh. Bagaimana kalau diantara kita ada yang mau melahirkan dan harus segera dilahirkan ke rumah sakit? Bagaimana kalau ternyata jalan ini adalah jalan satu-satunya jarak terdekat untuk mengejar waktu menuju bandara supaya tidak ketinggalan pesawat?
  Memang tidak ada hal-hal yang saya takutkan terjadi ketika itu. Satu-satunya yang saya takutkan adalah; saya pasti telat ngajar kalau harus putar balik. Bukan hanya telat, saya rawan batal ngajar karena saking jauhnya perjalanan kalau harus putar balik. Calon-calon pemasukan berkurang deh. aaaagghhhh.....!!
  Beberapa pengendara memutar balik kendaraannya. Saya sempat terdiam sebentar lalu celingukkan mencari jalan yang bisa saya lalui demi mengejar waktu ngajar. Siapa tahu ada jalan.
  Dan benar saja. Saya melihat gang kecil yang luasnya pas untuk ukuran motor. Brilian..
  Saya membelokkan motor menuju gang sempit tersebut. Gang yang letaknya persis berada di kanan rumah besar yang dindingnya bercat kuning itu pasti jalan tikus menuju lampu merah. 
  Baru beberapa meter saya masuk gang, tanpa di duga belasan motor membuntuti dari belakang. Saya sempat panik, tapi perasaan itu hilang karena beberapa alasan. Pertama. Bisa jadi saya nggak salah jalan karena banyak juga motor yang masuk gang ini. Kedua. Kalau pun saya salah jalan, saya tidak sendirian.
  Dengan hitungan detik gang kecil itu sesak oleh motor. Asap dan debu mengepul menjadi satu ke udara. Suara bising knlpot membuat warga yang tinggal disekitar berhamburan keluar. Panik bukan main. Kepanikan saya muncul lagi dan ini lebih-lebih. "Mampus gue!"
  Seorang nenek lari keluar rumah dengan panik dan teriak histeris "Ya Tuhan..ada apa ini??!!"
  Nenek itu terlihat sock. Saya jadi ketakutan setengah mati.
"Maaf Nek, permisi numpang lewat"
  Saya membelokkan motor dengan keseimbangan penuh menghiraukan teriakan si nenek selanjutnya (saya yakin hanya waktu yang bisa menjelaskan atas kejadian ini kepada warga tersebut). Jalan yang sempit membuat saya harus berkonsentrasi penuh, lengah sedikit setang motor saya bakal nyangkut pager kawat berkarat.
  Kegaduhan terus berlangsung. Motor terus berjejal memenuhi gang itu. Warga masih berhamburan keluar melihat apa yang tengah terjadi. Saya akhirnya keluar dari gang itu. Damn!!! Saya mengalami de javu.
  Wait!! ini bukan de javu. this is real! Ternyata saya keluar ke jalan raya yang sama. Jalan kecil itu hanya memutari rumah besar bercat kuning lapuk itu. Saya iba melihat ban-ban motor para pengendara motor yang masuk gang ngikutin saya nongol satu persatu dari dalam gang. Ekspresi mereka ketika sadar ternyata keluar ke jalan yang sama adalah .... ah sudahlah. Buhahahahaha.....
  Itulah motor-motor yang membuntuti saya tempo lalu. Syukurlah mereka bukan geng motor yang terkenal karena kesadisannya itu. Karena kesadisannya sampai-sampai warga lebih khawatir keberadaan geng motor ketimbang kelompok teroris.
  Saya selamat dari geng motor. Tapi pemasukan bulanan saya berkurang karena batal ngajar. Fufufu...
SELANJUTNYA >>

Kamis, 21 Maret 2013

Baru Suka Sama Orang, eh Orang Lain Udah pada Tau

Nggak enak banget kan suka sama orang, tapi sebelum orangnya tau, semua orang udah pada tau....dan yang mengenaskan adalah orang-orang yang pada tau itu tak lain tak bukan adalah murid-murid gue sendiri sang manusia ababil dengan tingkat level pubersitas yang sangat akut...sehingga tanpa dosa tereak-tereak nggak jelas (sebagian dari mereka ada yang narik-narik gue, dan ada juga yang dorong gue dari belakang *sumpah ini adalah bentuk ma comblang yang gagal segagal gagalnya) ketika orang yang gue suka lewat di depan idung gue...dan apapun dari maksud semua itu, ini adalah hal yang nggak enak banget buat gue bersikap apapun juga. *Kayang jalan mundur 

Berawal dari bisik-bisik sama temen klo gue interest sama seseorang (sorry gue nggak sebutin nama seseorang itu siapa. Lagian udah masa lalu juga.. Tapi perlu gue ceritain, kali aja bisa buat pelajaran kalian)....... Daaannn..... ternyata gue salah curhat sama orang. Damn!!

Jadi pelajaran pertama buat kalian... Pliss..jangan curhat ke sembarang orang, apalagi sama temen yang notabennya ember banget. Bisa-bisa curhatan lo belum kelar, setengah curhatan lo udah sampe ke kuping orang-orang.
 
Mungkin maksud temen gue ini becanda dengan ngecengin gue di depan murid-murid gue. Dan lo tau? Tingkat ke kepo an anak-anak SMA zaman sekarang nggak diragukan lagi. Akhirnya dengan sukses anak-anak tuyul itu tau siapa yang gue suka. Ini mala petaka besar buat kelangsungan hubungan gue sama sang gebetan.

Klo aja temen gue ini gak cerita atau ngomong-ngomong sama murid gue. Atau malah insiden ngecengin gue di depan anak-anak gak dia lakuin, kejadian tarik menarik dan dorong mendorong gak akan ternjadi juga pastinya, dan besar kemungkinan, minggu ini gue udah dinner bareng doi..*Tiba-tiba lagu India terdengar mendayu-dayu di kuping gue.

========================================================================
Ini bukan di FTV yang segalanya senantiasa happy ending. Ini di kehidupan nyata bro. Di mana bad ending siap selalu untuk hadir di setiap perjalan cinta sang manusia. Klo semuanya happy ending, lakon soal cinta manusia di dunia ini sudah barang tentu punah. Manusia sudah tidak akan lagi menghargai cinta, lantaran runtuhnya sebuah perjuangan dalam percintan.

Cinta sulit di definisikan orang-orang normal. Cinta punya arti tersendiri bagi siapa saja yang tengah merasakannya. Dan setiap manusia pernah merasakan jatuh cinta. Dan inilah satu-satunya jatuh yang kepengen diulang lagi oleh setiap manusia. 

Jadi pelajaran ke dua buat kalian. Jika kalian toh akhirnya nanti ketemu bad ending dalam urusan cinta, seperti yang pernah dialami temen gue sampe akhirnya ingin melakukan aksi bunuh dengan meloncat dari tinang jemuran, maka syukurilah semua itu, karena dengan demikian, kematangan kalian dalam urusan perasaan naik satu level. Kalian akan mudah peka terhadap perasaan orang lain yang tengah senasib sama kalian. 

Oke.. balik kecurhatan gue semula. 

Nah, gara-gara peristiwa itu, cewek yang gue taksir akhirnya tau klo gue suka sama dia. Dan yang bikin gue bingung seribu gaya adalah..... gue harus gimanaaaa? 

Tembak? Ngeliat gue aja dengan suka cinta ia menyingkir. Sikap gue malah mungkin hanya terlihat caper di matanya. *padahal emang iya.

Jadi, inti cerita gue adalah jangan pernah ngarep cinta lo bakal seperti cerita di FTV


SELANJUTNYA >>

Selasa, 19 Maret 2013

Dengerin CD Audio

Malem ini gue lagi dengerin CD Audionya Tung Desem Waringin. Sangat menginspirasi menurut gue.

Dikatakan oleh Pak Tung dalam CD Audionya, bahwa orang yang sukses adalah orang yang mau bertindak. Nol besar klo kita mau sukses tapi nggak mau bertindak. Kaya kita mau mandi tapi masih mager di atas baskom. Ya, gak akan mandi-mandi jadinya...

Trus dikatakan juga oleh Pak Tung, klo kita kepengen merubah hasil, yang pertama harus kita lakukan terlebih dahulu adalah merubah tindakan kita, trus sampe akhirnya tindakan kita tersebut menjadi sebuah kebiasaan. Nah enak kan klo udah terbiasa. Trus caranya gimana untuk merubah tindakan?

Yang pertama, Rubah dulu keputusan lo. Sampe bener-bener putus, tus, tus...
Yang namaya keputusan adalah putus...sekarang gue mau ini, nggak mau itu. Titik.
Biar keputusan kita putus,tu,tus? Merubah keputusan harus melibatkan pikiran dan emosi. Karena banyak orang kepengen merubah keputusan tapi gak ngerubah-rubah, karena emosinya nggak berperan, nggak main disitu.

Asal lo tau merubah keputusan dengan melibatkan pikirian itu hanya sekitar 12% aja, sisanya ya, emosi tadi. Jadi sekali lagi menurut Beliau libatkan emosi lo dalam merubah keputusan. Baru lo akan bulat dalam mengambil keputusan.

Pokoknya keren deh menurut gue. Sorry nggak detail banget gue ngejelasin isi CD Audionya. Pokonya, lumayan CD Audionya bikin gue sadar diri.

Banyak yang salah langkah yang udah gue jalanin...CD Audio itu seolah-olah sedang mengelus-elus pundak gue serasa berkata "Sukses itu cuma satu. Gak ada tips macem-macem, kecuali cuma action..dan action"



SELANJUTNYA >>

Rabu, 06 Maret 2013

Masihkah kau menyimpan mimpi kecilmu

Kemana teman-teman yang dulu punya ambisius untuk tetep menghajar karang kehidupan ini. Berjanji tak akan pernah menangis walau badai mengoyangkan jiwa yang katanya tegar. Terus berusaha menindak krikil-krikil tajam yang senantiasa menusuk langkah-langkah menuju kejayaan.

Tapi nyatanya hari ini?

Tekad yang dulu diikrarkan penuh penghayatan itu, kini seolah-olah hanya prasasti usang yang tak pernah di kunjungi lagi. Ia hilang bersama wajah dan tubuh kawan-kawan seperjuangan. Entah kemana. Aku seolah-olah diciptakan bukan untuk mereka. Aku diciptakan ya,  karna memang harus diciptakan. Tanpa harus tau untuk apa sesungguhnya. Aku hanya piguran semata di dalam kehidupanya. Semua yang ku lakukan seolah hanya mampir dipenggalan cerita itu.

Teman satu persatu hilang. Meninggalkan tanpa harus ku tahu ia penting atau tidak dalam siklus kehidupan ku ini. Cita-cita yang kita sematkan bersama di dalam dada ini lepas begitu saja bersama waktu yang sombong serta angkuh meniggalkan kita tanpa peduli.

Inilah teman-temanku yang pergi meninggalkanku sendiri bersama cita-cita itu.

Riko (bukan nama sebenarnya) kini di dalam jeruji sel panas. Narkoba telah mengantarkannya ke ruang pengap dan terbatas di Cipinang. Entah apa yang kini ia lakukan di sana. Aku sama sekali tak pernah tahu gambaran nyata kehidupan di sana. Yang ku tau hanya sebatas yang ku lihat di tv-tv saja. Yang kuduga pasti tidaklah mengenakan dibandingkan aku yang bebas dengan segala macam aktivitasku di sini.

Proses penjemblosannya ku ketahui dari seorang tetangga, saat aku membeli nasi uduk pagi hari di tempat Mak Eno. Malam minggu yang liar dan penuh asap-asap terlarang ternyata merupakan malam terakhirnya di kehidupan bebasnya. Aku sendiri terlalu sibuk dengan pekerjaanku sendiri yang selalu di hadapkan oleh dateline, sampai tak pernah tau Riko besar sekarang bergaul dengan siapa. Tapi pagi ini aku mengetahuinya, sekaligus kabar buruknya. Ia disergap intel ketika tengah berpesta narkoba bersama teman-teman tongkrongannya di sebuah rumah di dekat terminal Kampung Rambutan.

Kini aku hanya bertanya-tanya, apakah cita-cita itu masih bersamanya walau kini ia terteralis besi? Atau ia sudah tak peduli lagi? Karena real kehidupan adalah saat ini, bukan kemarin atau nanti.

=====

Anton (bukan nama sesungguhnya) lebih tragis lagi. Ia kabur dari ruang rahabilitas orang-orang gila di Cipayung dengan kaki masih terantai besi. Ia gila akibat narkoba. Ia memiliki halusinasi yang tinggi semenjak menggunakan narkoba barang sialan itu.

Orang tuanya tak cukup biaya untuk mengobatinya, hingga akhirnya pada titik dimana ia harus dititipkan ke panti orang gila di Cipayung, dan akhinrya ia kabur.

Badannya sudah tidak terawat lagi dengan kumis melintang sembarangan akibat tidak pernah bercukur. Kini ia bebas berkeliaran di lingkungan ku tinggal setelah kabur dari panti orang gila tersebut. Dari, awalnya orang-orang pada ngeri, sampai orang tak peduli lagi keberadaannya.  Karena Anton besar ternyata tidak membahayakan. Ia hanya terlihat sering berbicara sendiri ketika jalan mengitari lingkungan kami tinggal. Sesekali ku beri uang jika kebetulan berpapasan dengannya. Ia senang. Aku sedih. Ia sama sekali tak mengenal siapa orang yang tengah memberinya uang. Ia memang benar-benar lupa dengan seorang Ahmad Bhadick. Ia lupa kalau Anton kecil telah menancapkan tekad mulia di dadanya. Bahkan ia lupa sama dirinya sendiri.

======

Rudi (bukan nama sebenarnya) Ia kini telah menikah. Pernikahannya mewah namun semu, telah mengantarkannya ke masalah besar. Dengan hutang yang begitu besar hingga melampaui kapasitas harta, baik ia dan orang tuanya. Ia lebih beruntung ketimbang Riko karena ia tidaklah sampai ke jenjang rana hukum. Ia telah menggondol dana kantor, menipu catering pernikahan yang tak mungkin ku jelaskan disini, karena terlalu peliknya.

Ibunya telah meninggal dunia.
Semenjak masalah demi masalah yang kerap menimpah Rudi, ibunya terkena struk hingga akhirnya meninggal.

Pikiran anak ini melampaui kenyataannya. Aku melihatnya penuh keganjilan dengan otaknya. Bagaimana bisa ia memesan catering sebanyak dan semewah pesta pernikahannya itu. Semetara aku dan lingkungan rumahnya, tahu persis kehidupannya.

Ia memang selalu berpenapilan rapih. Sehingga orang percaya kalau ia sukses. Ia menjiwai sekali menjadi big bos. Tapi itu jauh di luar kenyataannya. Itu pula yang membuat aku tak bisa searah jika berbicara dengannya.

Apakah mimpi itu yang membuatnya sampai seperti itu? Batinku mulai menerka.
Aku dalam permasalahan besar jika memang demikian.

====

Ragil (bukan nama sebenarnya) telah gagal bunuh diri di senin sore dengan tambang masih melekat di lehernya. Lidahnya sempat menjulur keluar menggagalkan teriakannya, hingga ia hanya mampu terpekik.

Ia nekad bunuh diri dengan permasalahan yang tidak ku ketahui sebelumnya. Untungnya kakaknya melihat insiden ini, hingga akhirnya memutus tambang yang terikat di pohon melinjo kokoh itu.

Ragil besar selamat. Namun ia senasib dengan Anton. Menjadi orang yang benar-benar asing di kehidupanku. Ia sering berkomat kamit tak jelas jika kebetulan berpapasan denganku. Ia mengalami gangguan jiwa setelah gagal melakukan aksi bunuh diri itu. Tato naga di punggungnya lah yang masih ku inget bahwa ia benar-benar Ragil kecil dulu. Itu merupakan hasil karyaku dulu. Menorehkan tinta cina dengan jarum kecil yang digerakan dinamo ke punggung kurusnya.

Hobiku dulu menggambar, dan bagus. Sampai-sampai  ia request untuk dibuatkan tato naga di punggungnya. Mungkin hanya tato naga itu yang kini yang melekat di dirinya. Ternyata mimpi itu benar-benar telah hilang bersama Ragil kecil dulu.
 =====
Ada apakah dengan teman-temanku?
Apa yang tengah Tuhan tunjukkan kepada ku?
Mengapa terjadi kepada kawan-kawan ku itu?

Kegalauan ku muncul jika merunut satu persatu permasalahan kawan-kawanku tersebut.

Ya, kami pernah berjanji di atas gunung yang ku tidak ketahui gunung apa itu. Karena selain, merupakan pendakian pertamaku, aku tidak tahu sama sekali tentang gunung.
Dari Jakarta kita niat untuk mendaki gunung Gede Jawa Barat. Tapi setelah bermalam di Sukabumi tempat neneknya Anton. Kita berubah pikiran.  Entahlah apa nama gunung itu. Bisa gunung Beser, bisa gunung Wayang.

Kita berlima menancapkan tekad untuk senantiasa mengejar mimpi kita masing-masing tat kala kita terjebak hujan dan kabut tebal dipendakian itu.
Dingin. Gelap, tak ada cahaya sama sekali. Korek api yang kita punya basah sejadi-jadinya. Senter mendadak rusak total.

Aku ingin menangis saking takutnya. Tapi ku tahan karena malu.

Aku ingat ibu di rumah. Bapak, ade-adeku.
Membayangkan serta bertanya-tanya sedang apa mereka di rumah. Yang ku tahu mereka selalu nonton tv bersama sembari mencicipi kudapan buatan ibu ketika sore mulai bergeser.

Aku terpekik ketika mendengar sesuatu yang aneh mengitari tenda.
Teman-temanku saling berpegangan erat saking ketakutannya.

Hujan tak kunjung henti.
Lima menit serasa lima jam kala itu.
Waktu seolah-olah berputar dengan lambatnya.

"Teman-teman. Ini adalah pengalaman kita untuk pertama kalinya" Kata Ragil mencairkan suasana "Kecuali Anton" lanjutnya lagi. "Dari pada kita mikirin takut, mending gimana klo kita curhat-curhatan ngomongin mimpi kita masing-masing"

"Setuju!" kataku merespon secepat angin.
"Ya, gue setuju banget tuh" Riko angkat bicara.

Dari situlah kami berlima mengungkapkan mimpi kita masing-masing di bawah guyuran hujan lebat dan ketakutan yang mencekam. Langit yang pekat seolah-olah mengurung kita semakin sempit.

Aku masih kelas dua smp kala itu, sementara teman-temanku sudah STM semua. Akulah yang paling kecil diantara mereka. Tapi mereka tidaklah mempermasalahkan semua itu.
Kami adalah teman yang disatukan oleh lingkungan rumah. Bukan kelas seperti di sekolah. Atau mengkotak-kotakan kehidupan seperti pada zaman raja-raja kuno.

===
Tapi hari ini mimpi itu entah ke mana? Ia terasa tergeser oleh waktu yang semakin cepat. Tergerus kawan-kawanku dengan dunia barunya.
Aku merasa sendirian menimang mimpi itu. Ingin rasanya melepaskan itu semua. Menjalani kehidupan tanpa target dan mimpi. Membiarkan kehidupan ini mengalir apa adanya. Tapi jelas-jelas aku tahu, itu tidaklah benar. Yang ku tahu manusia suka atau tidak suka pasti bermimpi. 



SELANJUTNYA >>

Jumat, 01 Maret 2013

Kunjungi rumah sakit jika rasa syukurmu telah hilang

Saya sedikit bergidik ketika melihat seorang bapak dengan luka disekujur tubuh keluar dari ruang unit gawat darurat. Dua orang suster sibuk mendorong ranjang pasien tersebut menuju kamar yang lain. Saya tidak begitu jelas, apakah ia pinsan atau tertidur di atas ranjang rumah sakit itu. Mukanya sangat nggak jelas bentuknya, penuh goresan dan luka-luka. Badannya yang kurus tak mampu menutupi bahwa lelaki itu memang penuh penderitaan sebelumnya.

Bukan hanya saya yang dibuatnya terpaku namun beberapa orang yang ada di rumah sakit itu nampak sock melihat laki-laki tak wajar bentuk itu. Saya membayangkan kecelakaan orang tua itu pasti sangatlah hebat. Tentu saja saya tidak mau menerka lebih jauh lagi, karena jelas itu rawan akan kesalahan.

Rumah sakit itu memaparkan berbagai permasalahan dalam hidup, terutama persoalan akan kesehatan seorang manusia. Entah itu secara wajar atau tidak. Berat atau ringan. Yang pasti semua itu membuat diri saya bersyukur atas kesehatan yang hingga hari ini masih cukup prima. Kekayaan rasanya tidaklah berarti jika kesehatan begitu sulit di dapat. Popularitas rasanya semu jika seseorang tidak menikmati kesehatannya.

Jadi bagi saya rumah sakit adalah hal yang tepat di kunjungi jika rasa syukur dalam hidup mulai hilang

SELANJUTNYA >>

Minggu, 24 Februari 2013

Alasan Ngeblog

Inilah adalah salah satu alasan gue, kenapa gue jadi sering nulis di blog:

 

 Hasilnya alhamdulillah....... 

DITOLAK. 

Gara-gara di tolak penerbit itulah gue jadi rajin nulis. Pokoknya nulis dan nulis. Memang sih gue sempet drop dan stak dalam menulis. Tapi gara-gara blog, gue mulai start lagi dalam menulis. Blog adalah salah satu wadah yang lumayan banget buat menuangkan semua ide-ide dan gagasan-gagasan dalam menulis menurut gue. Atau paling nggak gue bisa mengasah kemampuan dalam menulis. Karena buat orang-orang semacam gue, menulis adalah kegiatan yang sangat sulit. Rangkaian kata kadang hanya bersemayam di otak, tanpa mampu gue tuangkan dalam bentuk tulisan. Nah, semenjak ada blog, gue begitu mudah menungkan ide-ide atau gagasan-gagasan gue dalam tulisan amburadul semacam ini. Tapi walau amburadul toh ada juga yang baca. Gak percaya? Ini buktinya sekarang lo lagi baca tulisan gue. Hehehe...   

SELANJUTNYA >>

Jumat, 22 Februari 2013

Ada Alasan Kenapa Beralasan

Gue udah jarang banget naik angkot serta makan di pinggiran jalan menikmati seafood atau pecel ayam sambil mengangkat salah satu kaki dengan damainya. Bukan lantaran tingkat ekonomi gue mulai bergeser hingga akhirnya gue lebih seneng nongkrong di kafe atau restoran-restoran cepat saji. Itu sama sekali bukan alasan. Ini prihal kenyamanan itu sendiri.

Dulu gue paling excited kalau ke mana-mana naik kendaraan umum, bisa berinteraksi sama orang banyak. Kalau lagi mujur gue bisa kenalan sama cewek di angkot. Tukeran nomer, endingnya bisa jalan ke Mall. (Ups itu ke alay-an gue yang gak terduga).

Tapi setahun belakangan ini gue jadi lebih banyak di atas motor ketimbang di atas angkot. Mungkin tadi, rasa gak nyaman di angkot yang akhirnya gue mutusin mending naik motor atau taksi sekali pun. Klo hanya sekedar macet bagi gue gak masalah. Justru di tengah kemacetan gue bisa berpikir serta mencari ide-ide segar dari balik jendela angkot. Tapi lain hal klo setiap beberapa menit sekali para pengamen bersiliweran di atas angkot datang dan pergi memuculkan rasa kekhawatiran para penumpang dengan menyaksikan badan mereka penuh tato dan tindikan. Jelas pemandangan seperti ini membuat penumpang gak nyaman. Karena gak sedikit dari para pengamen ini mencari uang dengan memunculkan rasa ngeri orang. Suara nomer tujuh belas bagi mereka.

Begitu juga saat makan di pinggir jalan. Menyantap pecel ayam dengan rakus dan menyeruput teh manis angket adalah hobi yang kerap kali gue lakuin (entah ini hobi atau lantaran ibu jarang masak di rumah). Kalau bosen dengan pecel ayam gue bakal pindah ke sebelahnya ke tempat seafood. Tapi lagi-lagi kenyamanan itu di rusak sama pengamen dan pengemis yang banyak bangeeetttt...

Baru mau gigit ayam ada pengemis dateng. Terpaksa di tunda, kasih receh, pengemis pergi. Oke ayam kembali gue gigit. Belum selesai menyunyah, pengamen dateng. Kali ini gue cuekin. Gue mengangkat tangan, isyarat permohonan maaf. Tapi sial dia gak pergi juga. Terpaksa gue keluarin recehan. Pengamen pergi, tiba-tiba muncul pengemis dengan seorang anak yang digendong dengan muka melas semelas melasnya. Gue ambil receh di tas, stok receh dikantong celana sudah habis. Pengemis pergi, pengamen yang berbeda dateng. Kali ini tiga remaja tanggung dengan gitar kecil dan biola usang bernyanyi tanpa dosa dan sok enak. Pengamen pergi, pengemis dateng. Pengemis pergi pengamen dateng. Terus gitu sampe gue gak makan-makan tuh pecel ayam. Aaaaaaahhhhggg!!!

Itulah akhirnya kenapa sekarang gue lebih banyak di kafe atau di mekdi. Secara di sini selain gak ada pengamen gue bisa wifi-an gratis, walau pun terkadang gue cuma beli minum doang.




SELANJUTNYA >>

Rabu, 06 Februari 2013

Jangan Biarkan Perasaan Berlalu

Apakah kita pernah menyesal?
Apakah masih ada sebuah perasaan di hati yang kerap menyalahkan diri sendiri?
Apakah rasa kecewa senantiasa hadir ketika pengharapan  itu justru makin besar?

========
Sebagai seorang manusia sudah pasti gue pernah suka sama orang. Terkadang rasa suka itu lebih besar ketimbang keberanian itu sendiri dalam mengutarakannya. Hasilnya gue hanya menikmati semua itu dari sisi gelap gue.

Gue kerap kali membiarkan perasaan itu hilang dengan sendirinya tergerus waktu. Perasaan yang tidak diutarakan ternyata memiliki titik jenuh tersendiri buat gue. Terlalu lama memendam perasaan, membuat perasaan itu hilang dengan sendirinya.  Hal inilah yang membuat gue mudah mencintai mudah melupakan.
 
Masa berbunga-bunga itu kini telah lewat begitu aja terbungkus penyesalan gue sendiri. Bagaimana tidak, keberanian itu mengecil justru ketika rasa suka mulai membesar. Hado repooottt...

Perasaan suka yang udah di ubun-ubun kepala namun tersendat di bibir adalah hal yang paling menyengsarakan diri. Kaya mau bersin tapi nggak bersin-bersin. (Duh, ini jenis flu apa ya?)

Entahlah udah berapa kali gue suka sama orang tapi membiarkan orang itu berlalu begitu saja dalam perasaan ini.  Yang kadang bikin ngenes, gebetan gue jadian sama orang yang levelnya di bawah gue (ngenes yang terlalu pede). Kekalahan gue sama orang itu hanya terletak pada keberanian.

"Berarti lo nggak bener-bener mencintai dia dong Dik" Kata seorang temen dengan santainya tapi lumayan jleb di dada gue.
"Bukan gitu" Jawab gue seadanya
"Lho, iya dong. Klo lo bener-bener suka sama tuh orang, pastinya lo memperjuangkannya. Sampe titik darah terakhir, klo bisa" Temen gue mulai menyudutkan. Tapi terdengar lebay di kuping gue.
"Maksud gue. Gue belum dapet cara aja buat ngutarain perasaan gue ini"  Gue mulai ngeles kaya bajaj.
"Sampe kapan lo cari cara. Emang ada cara terbaik buat ngungkapin perasaan seseorang? Bisa jadi cara lo kampungan, tapi belum tentu buat orang yang lo tembak"
"Iya, sih" Kesalahan gue mulai terkoreksi. "Terus gue harus gimana dong?" Mendadak gue bego seratus delapan puluh derajat.
"Ya, besok-besok klo suka sama orang, ya diungkapkanlah. Jangan sampe lo keduluan lagi sama orang lain".
 *hening* *jleb* *tertampar*

Bener-bener menohok omongan temen gue. Gue jadi mikir, terkadang kebenaran itu menyakitkan, yang sulit untuk dijawab dengan kata 'iya'

Tapi sejauh ini gue percaya. Jika Tuhan mengizinkan, tentunya ada cara tersendiri yang bisa jadi di luar cara gue itu. Cinta itu begini kok, bukan begitu (Kode. Cerna sendiri ya. Ini nanti gue jadiin quis. Hehe).
Kesalahan gue emang udah jelas. Ketakutan gue ternyata mengkerdilkan pemikiran gue sendiri. Membatasi tindakan, mengeruhkan bibir. Hasilnya perasaan yang sudah di ubun-ubun kepala ini tak tersalurkan. Ngomong I Love You itu susah banget ternyataaaaaa.... *loncat dari lantai 13*

Oke. Baiklah. Ini udah 2013. Rasa galau itu mestinya mulai dikikis dikit demi sedikit. Kesalahan itu diperbaikin bukan disesali.

Mari kita mulai menjadi pribadi yang mau memaafkan kesalahn diri sendiri.
Mulai menyadari bahwa seorang manusia itu tidak luput dari kesalahan.
Teruslah berjuang menghindari kesalahan yang berulang.

Jadi intinya, mulailah menaklukan ketakutan diri. Gue tau, susah emang buat ngungkapin perasaan. Karena terlalu mudah pun gak baik. Jadi di dalam susah itulah perjuangan dibutuhkan. Kalau pun hasilnya sebuah penolakan, toh tetep kita telah memenangkan dalam hal menaklukan rasa takut. Perasaan pun jadi legah pastinya karena telah terungkapkan.

"Terus jadi gimana kabar gebetan lo, Dik?"
*die*

 

 
SELANJUTNYA >>

Selasa, 05 Februari 2013

Sebuah kode untuk manusia penikmat duit

Kalau ngebayangin sekolah, yang terlintas di otak gue adalah kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Para siswa yang cekakak-cekikikan ketika istirahat berlangsung. Atau lapangan sekolah yang penuh jeritan siswa yang tengah berolahraga lantaran berebutan bola.
Belum lagi jika jam pelajaran telah usai, mendadak parkiran motor gaduh segaduh gaduhnya. Semua serempak menyalahkan motor. Menarik gas berbarengan. Saling sodok kepingin buru-buru pulang. Suara bising knalpot langsung membumbung ke langit seketika. Tidaaaakkkk....!!! Body motor gue pada leceeett!!!

Tapi tenang. Semua itu nggak akan bisa lo temuin kalau pas hari minggu lo dateng ke sekolahnya.
Ya iyalah nenek-nenek ngesot pake poni juga tau, yang namanya hari minggu, sekolah libur. Yang namanya libur, pasti gak ada siswanya. Klo gak ada siswanya, ya sekolah sepi lah, gak jauh beda sama kuburan.

Dan yang pasti kalau kondisi sekolah sepi, bukan hanya siswa yang seneng lantaran sekolahnya diliburin, tapi juga penjaga sekolahnya. Dia mendadak seperti keluar dari sebuah kepenatan hebat setiap minggunya. Bahkan ia bisa bagaikan pemilik rumah tunggal dengan ketenangan yang semu di kala hari minggu datang. Ia juga bisa berleha-leha santai menyaksikan ikan-ikan kecil di kolam sekolah itu. Menikmati tanaman-tanaman obat karya siswa dan guru biologi di sepanjang kebun sekolah. Atau bermain bulu tangkis, volly, basket bersama keluarganya di lapangan sekolah dengan penuh suka cita. Sepertinya ini bakalan jauh lebih asri ketimbang perumahan mewah di Kota Wisata atau di Legenda Cibubur.

Tapi sayang, penyutradaraan itu hanya ada di otak gue doang. Kenyataannya ketika hari minggu gue coba datang ke sekolah, yang gue liat malah banyak pakaian-pakaian serta kasur di lapangan yang sengaja di jemur oleh penjaga sekolahnya. Si penjaga sekolah itu sendiri malah terlihat sibuk mengepak-ngepakin kertas yang sudah gak kepake lagi sama sekolah untuk secepatnya di kiloin menjadi duit. Rupanya gak semua orang bisa benar-benar menikmati keindahan walaupun keindahan itu sendiri ada disekitarnya.
Tau apa gue soal ke indahan toh kalau ternyata urusan perut itu jauh lebih penting ketimbang urusan mata. Iya, ya *hening

Kasus seperti itu juga bukan hanya gue liat di sekolah, tapi juga ketika gue pergi ke vila teman di kawasan puncak. Cuma bermodalkan alamat dan kunci vila gue langsung meluncur ke lokasi tersebut.

"Sori ya gue gak bisa ikut. Nih kunci sama alamatnya"
"Loh, emang gak ada yang nungguin vilanya?"
"Ada. Ini buat jaga-jaga aja. Takutnya pas lo dateng Mang Asepnya lagi pergi. Tapi udah gue telepon kok, klo lo mau dateng"
"Oh gitu. Ya sudah. Bailah!" Gue langsung melempar kunci ke udara saking excitednya. Gue bakalan liburan di puncak Men. *hening lagi

Sampai di sana gue takjub dengan suasana yang indah serta gaya artistik vila tersebut. Belum lagi kolam renang yang menawan, seolah-olah tengah melambaikan tangannya untuk menyuruh gue nyemplung ke kolam renang yang terlihat membiru itu.

Gue pikir enak banget jadi penjaga vila di sini, bisa kapan aja nyemplung sesuka hatinya. Udah di gaji, dapet tempat tinggal tanpa ngontrak pula, bisa menikmati udara segar dan pemandangan indah kapanpun.
Every daaaay and every tiiiiiimmmmmmee.

Tapi, lagi-lagi ironis. Mang Asep penjaga vila itu boro-boro buat nyemplung ke kolam renang. Ia bahkan lupa kalau suasana di vila itu indah. Ia juga gak sadar klo udara yang ia hirup begitu mahal yang kerap kali didamba oleh penghuni kota-kota besar seperti Jakarta.
Ternyata baginya ada yang lebih utama ketimbang soal ke indahan dan udara yang segar. Yap! Perutnya sendiri.

Ketika gue nyampe di vila itu, Mang Asep lagi sibuk metikin kelapa di belakang vila itu, yang katanya mau di jual ke pasar di dekat-dekat daerah itu.
Itu tiap hari lho katanya. Dari pertama kali ia menginjakan kaki di vila tersebut. Entah kelapa, entah rambutan. Pokonya semua buah-buahan yang ada di kebun belakang vila itu kerap kali dijualnya ke pasar.

Ketika ia pertama kali disuruh menjaga vila itu, yang ia lihat bukan soal ke indahan dan kemegahan vila itu, tapi ia lebih melihat banyaknya tanaman buah-buahan di belakang vila itu yang bisa ia jadikan duit.*Lumayan buat tambahan menopang hidup. Walau sebenernya gaji sebagai penjaga vila juga udah cukup. Mang Asep kaya PNS, udah dapat gaji malah sibuk nyari tambahan di luar kerjaannya.

Iya juga sih itu lebih realistis..hehe.
Ya, manusia gak akan pernah cukupnya klo ngomongin duit.

Perut ini membutakan segalanya ya. Ternyata bukan hanya cinta yang membuat buta segalanya. *uhuk uhuk..!!
Bahkan lantaran perut juga orang lupa kalau korupsi itu perbuatan keji yang dapat mengisap darah saudaranya sendiri.
Perut ini memang berukuran kecil tapi jangan salah, ia memiliki tuntutan besar. Makanya banyak orang yang lebih mementingkan perut ketimbang hal lain di luar itu.  Belum lagi jika ia mesti mengurusi perut lagi selain perutnya sendiri. Duh, repot ini.
Sebenernya kalimat "uang tidak kenal saudara" mestinya di ganti jadi "perut tidak kenal saudara"

Jadi mudah saja, jika kita mau melihat isi dompet seseorang, tinggal liat aja bagaimana perutnya. *Maaf bapak polisi yang gendut, saya tidak sedang menyindir Anda kok. Cuma saya heran aja kenapa saya di tilang cuma lantaran saya nannya alamat sama Bapak. Lagian posisi Bapak di situ sih, jadi saya samperin ke situ juga yang ternyata tempat yang gak boleh dilalui kendaraan (Lah kok gue malah curhaaatt...)
SELANJUTNYA >>

Sabtu, 05 Januari 2013

TAMAN MINI INDONESIA INDAH.Care Education


Kamis tanggal 3 Januari 2013
Alhamdulillah gue sama teman-teman kampus mengawali tahun 2013 ini dengan kegiatan yang sangat bermanfaat. Semoga aja berbuat baik itu nggak hanya diawal tahun doang ya Kak, tapi juga untuk seterusnya. Amiiin...
Kali ini gue sama teman-teman kampus plus relawan lain mengadakan kegiatan "Care Educatioan" di PPIPTEK Taman Mini Indonesia Indah.
(Panita Kegiatan)
Apa tuh Care Education?
Karena gue gak mau dibilang sok tau. Jadi gue nggak bisa ngejelasin kegiatan ini secara detail. Ada yang lebih berwewenang untuk ngejelasin kegiatan ini soalnya. (colek Bu Nila. Silahkan tanya-tanya deh). Duh lebay lo Kak, bilang ajak nggak tau.

Intinya kegiatan Cere Education itu adalah kegiatan baik yang perlu terus dilestarikan serta dilakukan oleh manusia-manusia baik yang sudah singgah di muka bumi ini (azeeg.. berat banget omongan gue). Garis besar kegiatan ini adalah peduli terhadap anak-anak yatim dan orang-orang yang kurang beruntung.
Nah, ke Taman Mini dan mengajak mereka mengujungi PPIPTEK adalah salah satu bentuk kegiatan Care Education tersebut. Di sana kita tidak hanya memberi santunan, tetapi juga mengajak mereka untuk bermain sekaligus memberikan edukatif yang positif. Wih keren kan?
Asik kan? Asik kan?

Nih foto kita sama anak-anak yatim. Kurang lebih ada tiga puluhan anak yatim yang narsir bareng kita.
Duh, klo ada foto2 kaya gini pasti posisi Kak Ahmad ada di depan. Emang narsis lo, Kak.

Kalau yang ini ade-ade kita lagi simulasi roket air yang dipandu langsung sama petugas PPIPTEK nya. Kira-kira roket airnya bisa sampe Planet Mars nggak ya?
Lumayan berat ya kak pompanya
Tuh liat dek, roketnya sampe Planet Mars
Eh, bentar! Itu Kak Ahmad Lagi ngapain ya?..
Haha..ini gue lagi siap-siap mau akrobat naek sepeda di atas tambang. Deg-deg-an euy. Tapi bukan karena jalan di atas tambangnya. Itu karena mba-mbanya yang bikin dag-dig-dug gimana gitu.. Jiahahaa..

Nah ini gue kasih videonya juga.
Sumpah ngeri juga bray. Ini gue jadi kelinci percobaan. Penglaris kalau orang-orang jualan bilang mah, karena belum ada yang berani naek. Dengan disaksikan ribuan orang, akhirnya gue berhasil juga menyebrang dengan mengayuh sepeda di atas tambang, ya walau hampir mau pipis di celana...


Nah setelah gue jadi kelinci percobaan, baru yang lain percaya kalau tuh tambang gak akan putus. Siake..!!
Dengan tiket hanya Rp 2.200 gak ada salahnya nguji nyali di atas sepeda unik ini. Murah kan? Hayo siapa lagi yang mau coba?


Selain sepeda yang berjalan di atas tambang ada juga nih 'kursi paku'
Dan kalau kita duduk di atas kursi tersebut dijamin nggak akan ketusuk. Tau nggak kenapa? Ya iyalah karena pakunya banyak. Coba kalau pakunya satu trus berkarat pula, wih ini pasti bisa bikin pantat Anda tetanus.
Tekanan orang yang duduk dikursi merupakan hasil bagi antara gaya orang (berat badan) dengan luas permukaan ujung paku. Jika hanya satu paku, dengan gaya orang yang sama maka akan menghasilkan gaya tekanan yang besar. Nah ini yang menyebabkan orang terluka. Tapi kalau pakunya banyak, disusun dengan rapat, maka luas permukaannya akan sama dengan jumlah dari luas permukaan semua ujung paku, sehingga dengan luas permukaan yang besar akan menghasilkan tekanan yang relatif kecil

Klo yang ini ada yang tau gak replika kapal apa? Sama gue juga gak tau. Di skip aja..haha

Saat masuk ke dalam rumah (simulasi gempa) seperti foto di bawah ini. Kita akan dibuatnya seolah-olah gempa terjadi. Meja, kursi serta lampu di dalam rumah itu berguncang hebaaaat. (tapi sayang, saat gue masuk, gak dapet moment dahsyat itu. Yang gue rasaain malah kaya lagi di atas truk yang lagi jalan di atas kubangan)
Duh itu kenapa penjaganya sadar kamera ya?

Oke! Kita rehat sejenak ya dengan berpose ala-ala Slank getho. Pisss!!

Nah, habis bergaya-gayaan gitu, saatnya kita makaaaaan....
Setelah berkeliling dan bermain di dalam PPIPTEK yang lumayan seru, dari mulai naik sepeda, masuk rumah gempa, sampe masuk toilet karena kebelet pipis, akhirnya kita makan di kantin sebelah. Yuk kita keluar!!

Hey gak jadi di kantin deng makannya. Di taman lebih seru tuh kayaknya.
Hayo siapa yang belum dapet?

Nih setelah makan kita ngadain games yang nggak kalah seru sama permainan di dalam PPIPTEK tersebut. Dari mulai mindahin karet ke gelas sampe permaian petak umpet. Lho, kok petak umpet? Bukan deng. Entahlah nama permainan itu apa. Ada yang tau? Pokoknya semua peserta ditutup matanya kecuali leadernya yang siap mengintruksikan dari belakang barisan. "Kiri, kiri, kanan, kanan..Awas nabraak!!

Stop!! Bentar deh!
Kenapa pas giliran gue yang ngasih hadiah, fotonya begini ya?
Ini kaya mau mengatakan sesuatu. "Maaf saya cuma bisa kasih ini, dek" Cie Kak Ahmad..(Itu kenapa si Eti jadi promokator gitu. Plis nggak usah pake toa juga kali
Hayo dibagi-bagi hadiahnya

Games selesai hadiah juga udah dibagiin. Nah, sekarang tinggal kasih bingkisan sama mereka-mereka ini
Eh, itu kenapa sadar kamera juga si ade?

Tuh seru kan acaranya. Semoga kegiatan ini terus berlanjut ya..
Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk yang sudah nyumbang, baik dana maupun ide, serta pikirannya. Semoga amal ibadah kalian diperhitungkan di mata Gusti Allah. Tembus ke langit. Amiin.

Jadi begitu banyak cara untuk berbagi ya?
Bukankah hal yang bijak adalah berbahagialah dengan cara membahagiakan orang lain.
 Bagaimana menurut Anda?


SELANJUTNYA >>

Senin, 31 Desember 2012

Manfaat Sayur dan Buah dalam Kehidupan

Wih, dari judulnya aja serius banget kayanya gue. Tapi demi kesehatan kenapa harus main-main? Iya toh? Iya toh?

Nih simak ya!!!

===================================
Tahukah Anda bahwa 71 % planet bumi ini ditutupi air? Wih keren kan gue bisa tau? *Turunin kaca mata, rapihin rambut*

(Psstt...jangan bilang-bilang kalau gue nyari di WIKIPEDIA ). Jiaahh

Dan tahukah Anda delapan puluh persen tubuh kita juga terdiri dari air? Woww!! *pok, pok, pok
Pantes kalau lagi di kelas izin pipis mulu ke kamar mandi.
Terus? Terus?
Udah. Gue cuma mau ngasih tau gitu doang. Jedaaaaarrr!!!

Nggak lah.

Nah karena tubuh kita itu terdiri dari banyak air, makanya para pakar kesehatan kaya dokter, nyaranin kita untuk minum delapan hingga dua belas gelas perhari. Iya gak?? Nah itu untuk membersihkan sistem dalam tubuh kita katanya. Biar mencegah batu ginjal juga.

Tapi masalahnya.....
Sebagian air udah banyak yang gak bagus bos. (Apalagi Jakarta, rumah pada dempet-dempet, spiteng bisa jadi nggak dalam jarak yang normal hingga kurang dari sepuluh meter dari sumur). Kemungkinan besar mengandung klorin, fluoride, mineral, dan zat-zat beracun lainnya.
Hasil penelusuran gue (Ya, di internet pastinya. Gak mungkin gali lobang. Apalagi dipinggiran jalan. Bikin maceeet) orang yang meminum air yang mengadung klorin sampe resiko terkena kangker kandung kemi, usus besar, dan dubur gede banget lho. Serius? Serius. Nih lo cek aja di sini

Nah minum air suling biasanya bagus. Cuma? Duh apa lagi?
Kita nggak mungkin membersihkan sistem tubuh dengan minum air sebanyak itu. Bukankah yang paling enak minum itu ketika haus? Tubuh kita tau kok kapan kita butuh air kapan nggak, dengan sinyal rasa haus tadi tentunya. Mmm.. daripada maksain diri minum air sebanyak itu, kenapa nggak coba dengan makan-makanan alami yang kaya akan air. Buah-buahan misalnya, atau sayur-sayuran mungkin.
 Alasannya?

Coba deh liat, hewan-hewan yang paling besar dan berkuasa di alam ini. Mereka itu semuanya herbivora lho.(Yang klo pelajaran biologi tidur, pasti gak tau herbivora. Nih intip di Sini )

Gorila, gajah, badik, eh badak maksuknya, hewan-hewan tersebut merupakan hewan pemakan tumbuh-tumbuhan, dan asal tau aja nih, hewan-hewan itu usianya lebih panjang ketimbang hewan karnivora, tuh keren kan.
Coba liat burung pemakan bangkai! Tau gak kenapa bentuknya mengerikan kaya gitu? Karena dia jarang makan-makanan kaya akan air. Dan kalau muka lo mengerikan juga(coba deh ngaca) bisa jadi karena lo jarang makan-makanan yang kaya akan air *liat cermin* Yaoloh


Jadi inti tulisan ini adalah minumlah air secukupnya dan rajin-rajinlah makan buah dan sayuran. Hayo yang gak suka sayuran siapa? Coba deh tips ini. Mulai banyakin makan buah dan sayur. Dan rasakan manfaatnya.

Oke? Oke?
SELANJUTNYA >>

Selasa, 25 Desember 2012

Jakarta ketika Banjir

Kita tahu akhir-akhir ini Jakarta lagi sering banget banjir. Semua pemberitaan isinya seputar banjir. Baik media cetak maupun media elektronik mengulas masalah banjir. Belum lagi pemberitaan di sosial media seperti twitter dan facebook yang keseringan lebih update dari kedua media itu, nggak luput juga memberitakan banjir. Tidaaaakkk...

Sebab gue adalah orang yang paling merasa gimana gitu kalau ada banjir. Merasa paling sengsara di dunia. Hihi..lebay.

Yang pasti gue repot kalau banjir datang. Beneran. Gue mesti angkat semua barang-barang penting yang ada di rumah ke tempat yang lebih tinggi. Nyiapin perahu karet, alat-alat selam seperti control device, booties, kompas, dan silinder. Halah dua kali lebay.

Belum lagi ternyata ketika banjir posisi gue lagi di luar. Entah lagi ngajar, entah lagi nongkrong sama temen-temen. Motor terpaksa gue titipin ke tetangga yang nggak kena banjir.

Di posting sebelumnya gue udah ceritain betapa nggak enaknya ketika banjir posisi gue lagi di rumah. Sampe begadang-begadang. Takut ketika tidur gue nganyut, dan bangun-bangun, sudah di laut. hoho.. (Intinya gue nggak akan pernah bisa tidur kalau banjir udah selutut di dalam rumah gue. Parah kan?)

Nah, sekarang ini  izinkan gue bercerita ketika gue lagi di luar rumah saat banjir. Ternyata banjir itu gak hanya ngerepotin gue di rumah, tapi juga di luar rumah. *Banyak-banyak berdoa kayanya.

Saat itu gue baru pulang dari Cavana sebuah kafe di Semanggi. Memang sedari sore cuaca lagi nggak bersahabat, hujan mengguyur lebat, haduu tobat. Tapi karena gue sudah janjian sama orang di sana,  mau gak mau, terpaksa gue meluncur juga ke sana.

Singkat cerita, pas gue pulang dari Cavana, gue kejebak banjir di daerah Condet. Ini pasti gara-gara hujan seharian gak kunjung redah. Atau bisa juga Bogor yang begitu rajin mengirimkan paket banjirnya ke Jakarta, sehingga sungai Ciliwung harus dengan senang hati meluapkan airnya ke daerah yang dilaluinya, termasuk Condet.

Gue terpaku sejenak memandang banjir. Iya itu gue lagi mikir.

Kondisi malam semakin larut. (Eh, bukan malam tapi udah masuk pagi. Udah jam 2 kalau gak salah). Nggak mungkin menerjang banjir. Kalau motor gue mogok bisa lebih gawat lagi, rumah gue masih jauh. Dan gue ogah dorong motor sampe rumah, yang masih beberapa kilo lagi dari sini.

Oke deh, gue putar balik.

Baru aja gue mau putar balik, eh ada motor yang kebetulan juga lewat. Dia sempat berhenti sebentar memandang banjir, terus membelokan motornya ke sebuah gang kecil tanpa ragu.

Brilian, pasti bapak itu tahu jalan tikus untuk menghidari banjir.

Gue nggak mau banyak mikir. Takut keburu jauh juga tuh si Bapak. Gue ngikutin motor itu masuk gang..

Dia belok ke kiri, gue belok ke kiri. Dia belok ke kanak, gue juga belok ke kanan. Dia ngisi bensin, gue.. (Eh, gila. Mana ada bom bensin). Terus gue ngikutin bapak itu sampe gue sendiri gak tau di mana, siapa dia, siapa saya, siapa Anda. Kenapa Anda mau baca postingan ini.

Terus gue ngikutin bapak itu. Tapi kok gak keluar-keluar ke jalan raya ya? Di manakah jalan raya? Gue mulai panik, pipis dicelana..

 Balik malah tambah gak mungkin. Udah jauuuuuhhh..

 Bismillah.
Gue terus ngikutin bapak itu. Sepertinya dia sadar kalau gue ngikutin dia dari belakang. Dia melirik spion dan mempercepat motornya. Hadoo, pasti gue dikira orang jahat lagi. Gak, Pak, Terus..terus jalan. Jangan hiraukan saya, segera temukan jalan raya.

Dia depan sebuah rumah bapak itu berhenti. Gue bengong. Jantung gue mencelos ke luar.
Dia membuka helmnya. Gue merinding.
Gue turunkan gas motor dan menginjak rem pelan-pelan. Berhenti tepat di sebelahnya.

Malam makin dingin. Angin berhembus pelan menyentuh leher belakang gue yang semakin merinding.
Daerah itu begitu sepi seperti kota mati. Sesekali kelelawar berkelebat di atas kepala. Bulan hanya separuh nampak. Gue coba membuka mulut yang terasa berat terkunci

"Kok, berhenti, Pak?" gue sedikit lirih

"Ini rumah saya, Mas. Mas mau ke mana?"

Damn... (lagu 'You Raise Me Up' nya Josh Groban terdengar  miris di alam raya)

Ternyata gue ngikutin orang yang salah. Bapak ini mau pulang. Bukan ngindarin banjir. Siakeeeeeeeeeeeeee!!! *guling-gulingan di tanah

Oke. Sekarang gue harus berpikir lebih berat. Gue harus nemuin jalan pulang. Gila, udah terlalu jauh gue masuk gang. Belum lagi belokannya (kiri kanan doang sih, tapi banyaaaak)

Rasanya mendingan gue mikir ngerjain soal matematika yang susah ketimbang nginget jalan pulang. Gue nggak punya peta, terpaksa feeling gue bermain di sini.  Tadi kayaknya ke kiri, terus ke kanan, terus belok lagi ke kanan, terus ke kanan lagi, baru ke kiri , kiri lagi, lurus, belok... Syuliiiiiiiitttttt..

Entah berapa lama gue nyasar di derah itu. Untungnya ada tukang nasi goreng yang baik hati dan tidak sombong. Dia ngasih tau jalan raya terdekat. Gue dorong gerobak, abangnya naik motor. Gue naik motor abangnya naik gerobak, eh dorong gerobak. Hihihi...

Horeeeeyy.....sampe rumah juga akhirnya, walau sempat jadi jombi. Ngacak-ngacak dapur, mungutin cabe di tempat sampah, buat bikin mie rebus...Mantapnya mie rasa kari ayam!!! Uenaaakkk!!!
SELANJUTNYA >>