Minggu, 25 Januari 2015

Trip Malang

Liburaan.... !!! Mari kita kemon!!!!! (Tulisan ini sudah telat sebulan. Ekspresi tersebut sudah  hadir ketika tanggal 22 Desember 2014 kemarin).

 Iya.. tanggal itu adalah tanggal liburan gue dimulai.

Tanggal segitu jugalah gue ke Malang sama temen-temen kampus. 

Sebenernya liburan gue hampir gagal, karena harus mengikuti pelatihan di sekolah. Tapi karena Yosi mau di ajak pulang lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan (dan kita sepakat cancel tiket pulang dari tanggal 29 menjadi tanggal 27) jadi gue tetep ke Malang dengan bekal seadanya..

 Go..go...go..go...!!!!

Gue memutuskan untuk "Ok.Gue jadi ikut!" di jam-jam terakhir jadwal pemberangkatan kereta. Itulah yang membuat gue hampir telat sampai stasiun Senen waktu itu. 

Kampung Rambutan-Senen....... jalannya nggak nyantai Men. 
Maceeett paraahhh....!!!!

Jadi pikiran gue saat menuju stasiun Senen adalah "Ok. Klo emang nanti gue ketinggalan kereta, itu artinya gue diizinin hang out ke Atrium Senen. Itu artinya Tuhan mengarahkan gue kesitu. Kali aja bisa kenalan sama cewek-cewek mall. Itu kan keren banget. Ha ha ha ...Terus kita tabrakan, terus kita jadian deh...Atau?? Kita terkunci berdua bareng di lift sambil main tebak-tebakan gitu. Keren kan, ya?ya?" #plak

Hayalan gue buyar ketika kondektur nyolek-nyolek gue buat nagih ongkos.

"Bang...kira-kira stasiun Senen berapa lama lagi?"
"Duh..masih lama, Mas. Tidur lagi aja?"
What?? Tidur? Baru kali ini ada kernek nyuruh gue tidur. Cie perhatian, cie..

Dan gue juga nggak sadar, dia nyolek gue dibagian mana ya.

Aaaaggghhhhhhhh.........aku kotor mama!!! Ok. Itu lebay.

 ===========
Sampai stasiun Senen untungnya gue nggak telat-telat banget.  Temen-temen gue lagi pada ngantri di pintu masuk. Antrian panjang bagai ular tangga itu (Uler tangga?Emang uler tangga panjang?) membuat gue inget masa-masa mudik lebaran. 
Ya..lebaran dan liburan emang nggak jauh beda, sama-sama menuai kemacetan dan antrian panjang dimana-mana.


Nyok..ah...kita kemon..!!!

Matarmaja sudah siap berangkat. 
Kereta ekonomi itu membuat gue merasa ditarik lagi ke zaman purbakala. Jadi teringat lagi sama film jadul Tragedi Bintaro yang diputar ulang di TV baru-baru ini. Wah seru. Untung gue nggak jadi naik pesawat. Bener kata temen gue lebih seru menikmati perjalanan seperti ini. Naik ekonomi desek-desekan, antri-antrian. Merakyat banget kan bro..


Ekonomi rasa eksekutif.....



Iya, merakyat.... tapi gue bukan malah merakyat, malah ngegembel gini. 
Tepatnya kayak gembel yang habis ngelem aibon....

Kapal goyang Kapten....!! Mikir!!!

 Setelah menghabiskan perjalanan hampir tujuh belas jam. Akhirnya kita sampai di Malang.

Dan gue udah sampai di Puncak BROMOOOOOO....!!!


Puncak Pananjakan Bromo. Njir..dinginnya nggak nahan
 Bromo, saat liburan udah kayak di Jakarta aja Men..Penuh.

Dan berikut inilah saat-saat menunggu matahari terbit.. Oh.. matahari kedatanganmu ditunggu-tunggu kawan...



Tapi sayang kita udah nunggu berjam-jam, matahrinya tak kunjung muncul, ia terhalang awan hitam. Yahhh...jarang-jarang padahal ke sini

 Habis dari Puncak kita langsung menuju kawah Bromo...Yeyyyyyy....!! Kawah...!



Untuk menuju kawah, kita bisa berkuda, Bro. Penyewaan kuda hanya 125 ribu. 
Dan saat gue berkuda, gue berasa lagi hijrah dari Mekah ke Madinah melewati padang pasir yang puanasssnya pool...
Kuda: Mimpi apa gue semalem ampe ditunggangin orang aneh.Cih


Oia, kalo ke Malang Men, jangan hannya ke Bromo. Masih buanyak banget tempat-tempat keren lainnya yang bikin mupeng orang kalo kita jadiin pose-pose alay atau unyu di DP BBM..ha ha ha ha

Foto berikut ini adalah Pulau Sempu. Ya..kita juga ke Sempu.







Dan kalo kalian mau mengingat-ngat masa lalu atau menapaktilas sejarah bangsa khususnya transfortasi, kalian bisa lho ke Batu. Di sana ada yang namanya museum Angkut. Tempatnya keren abis dan gak kayak museum-museum yang freak dan ngebosenin yang cuma enak dijadiin tempat pacaran saking sepinya..






Ini video amatir jalan-jalan kemarin bro. Monggo di pantengin dulu..


Ok segitu dulu postingan jalan-jalan kali ini.
Thank klo udah mau comment..



SELANJUTNYA >>

Selasa, 20 Januari 2015

Sakit dan Sendiri.

Sakit. Sendiri. Jauh dari keluarga. Adalah hal yang nggak mudah dilalui. 

Disinilah betapa pentingnya peran-peran keluarga. Ibu gue misalnya, kalo manja gue kumat, mana pernah gue malu untuk minta disuapin makan. Nyokap gue emang udah paling the best.

Bapak juga keren. Bokap jadi super baik kalo gue lagi sakit. Suka bawaain makan ke kamar. Ini kalo emang gue udah super mager dan nggak keluar-keluar dari kamar. Beliau emang inisiatif

Ade gue. Tiba-tiba jadi orang yang paling baik sedunia dengan mau gue suruh-suruh buat beliin apa aja. Tapi kalo gue lagi sehat. Kupingnya tiba-tiba serasa budek pas ketika gue suruh.

Tapi hari ini. Sakit dan sendiri, harus gue lalui.. tanpa mereka. 

Gue nggak mau selamanya menjadi anak manja dan serba ketergantungan. Cih

Gue pasti bisa (tarik nafas)..

Gue coba mengingat-ingat lagi tentang syair Imam Syafi'i tentang musafir, yang tak lain tak bukan untuk memotivasi diri. Meng-upgrade kembali semangat musafir yang di sarankan Beliau. Beliau adalah musafir.Dan gue? Sekarang status gue juga musafir.

Kira-kira seperti ini syairnya:

Merantaulah....
(Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman)
(Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang)

Pergilah kau, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air yang diam menjadi rusak kerena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak 'kan keruh menggenang
Singa takkan pernah memangsa jika tidak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur takkan kena sasaran
Jika saja matahari diorbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Rembulan jika terus menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tidak akan menunggu saat munculnya datang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
Jika dibawa ke bandar berubah mahal menjadi perhatian hartawan

Jadi kalo cuma sakit dan sendiri, jalanin aja. Nikmatin. Lagian gue juga nggak benar-benar sendiri kok. Ada Allah dan para malaikatnya yang senantiasa menjaga kita.

Semangat. Sehat, dan Produktif!!


 

SELANJUTNYA >>

Sabtu, 17 Januari 2015

Selamat Datang Bidadari Kecil Kami

Di awal tahun 2015 ini gue kedatangan bidadari kecil.
Keponakan gue bertambah satu. 
Disaat negara ini sedang sibuk mencaci para pemimpin, disaat semburan mulut rakyat penuh dengan hina dina atas kebijakan carut marut para pemimpin bangsa ini, ia lahir dengan membawa kebahagiaan sekitar. Ia membuat lupa sejenak akan harga bbm yang naik disaat harga minyak dunia turun, ia mengalihkan pandangan dari kenyataan bahwa harga LPG 3kg merangkak naik. Ia benar-benar menyuguhkan kebahagiaan kepada kami. Melupakan berita-berita negatif yang disuguhkan televisi.
Ia juga membuat kami berkumpul menjadi satu. Menyaksikan tangis yang keluar dari mulut yang masih suci dan bersih dari kepalsuan.
Semoga ini simbol bahwa bidadari kecil keponakan gue datang untuk menyelamatkan kami yang senantiasa lupa akan kebahagiaan karena begitu derasnya kemunafikan di negara ini, kealfaan pemimpin akan janjinya, keegoisan kaum pejabat. Sekali lagi ia datang untuk mengajarkan kami untuk tidak lupa dengan kebahagiaan yang semakin terkikis oleh kebijakan yang memberatkan.

Selamat datang putri cantik keponakan om. Mari kita hadapi dunia ini dengan kesabaran dan kebahagiaan. Jangan ragu untuk menagis ketika kamu mengingkinkan sesuatu. Ada mamamu yang senantiasa mengerti bahasamu. Dan ada om mu ini yang akan menuliskan kisahmu di blog ini.





SELANJUTNYA >>

Selasa, 06 Januari 2015

Waktu

Udah lama nggak ngeblog. Udah lama nggak nulis. Entah gue sibuk atau apa, faktanya gue nggak dapet apa-apa. Waktu kebuang begitu aja. Berlari begitu cepat, dan gue sama sekali nggak berdaya akan hal itu.

Manusia diciptkan untuk bernegosiasi dengan waktu. Ada yang bilang, hati-hati dengan waktu. Ia ibarat air tenang namun menghanyutkan. Berapa banyak kata "tau-tau" dalam hidup kita

"tau-tau udah mau lulus"
"tau-tau udah udah jomblo lagi aja"
"tau-tau udah menikah"
"tau-tau udah punya anak"
"tau-tau udah besar anaknya"
"tau-tau...."

Betapa beruntung manusia-manusia yang bisa mengatur waktu.

Walaupun setiap waktu yang diberikan kepada manusia itu sama, yaitu sama-sama dua puluh empat jam. Tapi bagaimana memanfaatkan waktu itulah yang membedakan satu sama lain.

Semoga aja kita bisa dengan bijak memanfaatkan waktu itu



SELANJUTNYA >>

Sabtu, 18 Oktober 2014

Pria Idaman Wanita

Sebut aja namanya Darto seorang anak muda dengan badan kurus muka tirus. Ia begitu menggilai Reni wanita idamanya. Demi Reni, Darto rela melakukan apa saja buat wanita gebetannya itu. Menemani Reni belanja, menjemput dan mengantar pulang ke rumah. Beda-beda tipis sama tukang ojeg. Makan dan nonton selalu Darto yang bayar. Segalanya Darto lakukan hanya untuk agar Reni mengetahui kalo Darto adalah pria yang baik, terutama terhadap dirinya. Ia merasa yakin dengan begitu Reni bisa ia dapatkan.

Faktanya? Di belakang Darto, Reni selalu jalan dengan preman pasar Tanah Abang yang memiliki banyak tato di sekujur tubuhnya. Yang menyedihkan, Renilah yang mengejar-ngejar preman itu, bahkan hampir mirip yang Darto lakukan kepadanya. Jika makan di warteg, Reni yang selalu bayar. Reni selalu nyamperin mas-mas preman itu ke tempat di mana dia mangkal.(Damn.. Kayak FTV ya)

This is not fair. Kenapa bisa begitu?

Itulah uniknya seorang wanita, sehingga kadang kita (seorang pria) sulit membedakan mana baik mana guooblook..

Apakah lo tau yang bikin wanita tertarik sama laki-laki?

Ganteng? Tajir? Nggak seratus persen bener, bro..

Mas-mas preman yang dideketi Reni jelas nggak tajir apalagi ganteng. Terus apa yang membuat Reni tertarik?

Klo bukan tajir dan ganteng yang diinginkan wanita, lalu apa lagi? Pertanyaan itu adalah pertanyaan seribu mas-mas jomblo yang juga pesimis dapet cewek.

Ketahuilah bahwa ada yang paling utama mengenai daya tarik seorang pria. Apa itu?

Kemapanan mental dan kekuatan sosial

Beda dengan seorang wanita. Daya tarik seorang wanita adalah FISIKNYA. Wanita CANTIK lebih disukai pria mana pun.

Alasan utama Darto mengejar-ngejar Reni adalah karena Reni begitu cantik dan seksi. Reni begitu gemulai dengan bibir selalu basah mengkilap kayak puding strawberi, yang membuat Darto selalu mikir jorok klo lagi berduaan dengan Reni.

Kemapanan mental dan kekuatan sosial adalah daya tarik yang utama bagi seorang Pria. Untuk hal itu Darto kalah jauh dengan preman pasar Tanah Abang tersebut

Darto harus belajar mengendalikan segala sesuatu dalam dirinya, mulai dari emosi, sifat, pembawaan, kesadaran, kedewasaan, tanggung jawab, sampai dengan sikap, dan paradigma. Jelas semua itu bukan perkara mudah untuk Darto. Ia harus terus belajar, apalagi Ia hanya seorang pria yang cuma ngandalin duit kantong orang tuanya.

Mungkin berat untuk belajar mengenai semua itu. Ya, memang tidak ada yang mudah untuk mendapatkan sesuatu yang berharga. No free lunch. Tapi jika Darto bisa menguasai semua itu, maka ia akan memiliki daya tarik bahkan sampai ia usia 70 tahun sekali pun.

 
Coba lihat Sukarno, Obama, dan Nelson Mandela. Meraka adalah orang yang memiliki karismatik dan kekuatan sosial yang baik. Apakah karena mereka terkenal? Rumusnya tidak begitu. Ia memiliki sifat-sifat itu dulu baru ia terkenal. Sama seperti  wanita. Wanita cantik dulu baru terkenal, bukan terkenal dulu baru cantik.

Jadi, Semoga kita tidak mengikuti jejak Darto, ya genk dan buatlah wanita tertarik pada kalian.

Nb: Jangan jadi preman juga, cuma gara-gara kepengen dapetin wanita. Jangan salah rumus, nanti bisa remedial.









SELANJUTNYA >>

Sabtu, 07 Juni 2014

Mengingat Bapak

Tidak seperti biasanya saya naik bus memilih duduk di bangku yang paling depan. Dari zaman kuliah hingga sekarang ini, duduk di bangku belakang adalah favorite saya. Di bangku belakang itulah saya bisa mengamati orang-orang di depan saya berada. Entah mereka yang sedang menawar minuman dingin di dalam bus, entah mereka yang sedang memilih tempat duduk, atau apapun termasuk beberapa penumpang yang tidak kebagian tempat duduk yang sedang terkantuk kantuk sambil berdiri. Apapun gerak gerik kegiatan di depan saya di dalam bus, tak luput dari sorot mata saya yang kandang menyodorkan persoalan tersendiri dalam tempurung otak ini. 

Malam itu (tanggal 1 Juni 2014) saya memilih duduk di barisan paling depan, persis di sebelah seorang bapak. Dengan nada sopan saya meminta izin untuk permisi duduk di sebelahnya. 

"Silahkan, Mas!" Sambut bapak itu ramah. Saya menyandarkan badan ke bangku bus sambil memangku tas yang berisi laptop kesayangan. 

"Ini lewat ciawi kan, Pak?" Tanya saya kepada bapak itu, memastikan. 

"Iya, benar, Mas. Memang tujuan, Mas mau ke mana?"

"Ke Sukabumi, Pak" 

"Oh, sama. Saya juga mau ke Sukabumi. 

Kira-kira seperti itu percakapan awal kami yang akhirnya berbuntut panjang hingga bus itu benar-benar sampai di Ciawi. (Walaupun faktanya saya lebih banyak terdiam dan cuma manggut-manggut)

Kalau berbicara soal anak, saya rasa bukan hanyak bapak tua di dalam bus itu yang sanggup bercerita panjang sambil penuh semangat. Para bapak di muka bumi ini sudah tentu akan begitu excited jika menceritakan keberhasilan anaknya.

"Alhamdullilah... Anak saya sekarang sudah berhasil semua, Mas."

"Alhamdulillah ya, Pak"

Sepanjang perjalan itu kadang saya mengutuk diri sendiri. Ya, saya teringat bapak, orang tua saya di rumah. Yang sampai saat ini belum bisa saya bahagiakan. Entahlah kebahagiaan macam apa yang bisa saya persembahan untuk beliau. Wajahnya yang penuh kerutan perjalanan hidup, membuat saya paham benar ia adalah sosok lelaki pekerja keras. Semakin saya memandang wajah bapak, semakin saya bersalah.  Terakhir saya melihat wajah bapak penuh kebahagiaan adalah ketika saya berhasil masuk Universitas Negeri, selebihnya pancaran wajah itu tak tampak lagi. Mungkin ia kecewa, namun tak tega ia utarakan. Saya belum bisa seperti apa yang bapak inginkan.

Obrolan di dalam bus membuat saya sadar, bahwa saya sudah terlalu lama hidup dalam kesantaian. Rasa nyaman dan aman adalah jelas musuh kesuksesan saya saat ini.

Semoga saja bapak saya di rumah suatu saat nanti akan meceritakan  kepada pria di dalam bus prihal kebarhasilan saya. Dengan excited dan dengan penuh semangat 45x2 tentunya.

Thanks to bapak tua di dalam bus. Selain menyadarkan saya akan sebuah pencapaian, dirimu juga udah bayarin ongkos Rambutan-Ciawi. Semoga kita bisa ketemu lagi.





SELANJUTNYA >>

Kamis, 15 Mei 2014

Penutup Ketersiksaan


Tinggal di asrama itu bukanlah suatu yang mengenakan, apalagi dengan segala keterbatasan. Sebut saja susah makan. Ini bukan masalah soal uang yang berada di kantong, tapi soal alat masak yang hanya rice cooker di kamar. Minimnya peralatan masak membuat saya selalu pergi ke warung nasi yang jaraknya hampir satu kilo setiap jam tujuh malam. Lagi-lagi ini bukan soal jarak. Ini soal kebebasan. Keluhan ini akan meluas menjadi saya yang sering terkunci di asrama saat hendak jam makan itu tiba. Asrama hanya soal nama, kenyataannya saya seperti tinggal di sebuah kosan namun tanpa kebebasan. Kadang saya tidak habis pikir dengan petugas asrama yang menyamaratakan keadaan. Jelas saya bukan siswa. Asrama sering di kunci supaya siswa tidak sering keluar masuk asrama terutama di jam sekolah dan sholat. Lalu kenapa saya tidak menduplikat kunci? Tidak semudah itu nampaknya, banyak persoalan yang kadang sepele membuat terlihat rumit kalau berbicara mengenai lingkungan sekolah itu.

Baiklah akan saya ceritakan sedikit kenapa saya berada di tempat yang mengagumkan itu (Kira-kira begitu jika saya mau berbohong mengenai asrama itu).

Sudah hampir tiga bulan saya mengajar di sebuah sekolah boarding school pinggiran desa. Atas saran managemen saya di tempatkan di asrama bersama siswa, sementara sebagian guru yang lain tinggal di mess masing-masing yang telah di sediakan sekolah tersebut. Hal ini tidak masalah bagi orang baru macam saya untuk tinggal di manapun. Apapun itu saya mengjunjung tinggi keputusan managemen. Tapi seiring waktu yang terus berjalan, ketidaknyamanan dan ketidakbebasan datang, salah satunya yang saya sebutkan di atas. Terkunci di kamar sendiri. Rasanya tersiksa sekali. Saya jadi mulai tidak suka dengan kondisi itu. Mulai tidak menyukai lingkungan di sana. Mulai tidak menyukai pekerjaan. Karena tidak suka pekerjaan, saya jadi tidak suka dengan orang-orang di sekitarnya. Maka gandalah penderitaan saya. Sudah tersiksa dengan pekerjaan, tersiksa pula dengan lingkungan.

Namun saya percaya, semua penderitaan itu pasti akan ada manfaat kelak. Modal itu akan menjadi bekal dikemudian hari. Tidak ada yang sia-sia dari sebuah penderitaan yang saya jalani. Saya jadi mulai terbiasa bangun pagi karena pengeras suara yang mengganggu setiap jam setengah lima pagi. Mulai terbiasa sholat berjamaah walau diawali cuma karena rasa tidak enak. Mulai menyukai olahraga. Mulai terbiasa ke masjid. Mulai-mulai itulah yang kini bisa sedikit menutupi ketersiksaan saya kini.



SELANJUTNYA >>

Minggu, 11 Mei 2014

VIDEO JARTOP

Kali ini gue cuma mau posting hasil video bikinan gue. Cupu sih. Tapi buat orang awam macam gue video ini adalah karya iseng yang mesti gue simpan di blog gue supaya nggak ilang ditelan masa (lebay), secara bikinnya syusah. Hehe.
Yang pertama adalah video treasure hunt yaitu acara jaringan topik di tempat gue ngajar, Insan Cedikia Al Kausar. Dimana para siswa harus mencari sebuah harta karun yang tersimpan di sudut-sudut lingkungan sekolah.  Langsung simak aja ya.


Yang ke dua, masih dalam rangka jaringan topik. Para siswa di ajak untuk mengunjungi OISCA yang masih terletak di Sukabumi. Apa itu OISCA? Simak lagi aja ya






SELANJUTNYA >>

Senin, 14 April 2014

Lebih Baik Gagal Pulang dari Pada Gagal Hidup

Gagal Ke Jakarta
Gue gagal pulang bareng Nisa dan orang tuanya ke Jakarta. Padahal tawaran Nisa gue sambut dengan hati penuh gegap gempita pagi itu. (Ya, selain hemat ongkos, kali aja ada snack gratisannya juga sepanjang perjalanan ke Jakarta. Ngarep). 

Murid gue yang ramai (walaupun sendiri) kalau di kelas itu ternyata tetangga gue di Jakarta. Jarak rumah kita nggak begitu jauh, sekitar lima jam (Itu kalo gue ke rumahnya menggunakan ala suster ngesot, tapi kalo naik motor sekitar 5 menitan). 

Penyebab kegagalan itu sederhana, gue dapat tugas dadakan dari Pak Kepsek, dan hari itu juga gue mesti menghadiri workshop di Selabintana, Sukabumi. Gue sedih, pohon-pohon terkekeh, kupu-kupu terharu hinggap di dahan keruh, dan gue memang lebay.

Seketika itu juga gue langsung packing. Ini packing tercepat yang pernah gue lakukan. Iya karena gue cuma bawa satu stel pakaian dan dua celana dalem. 

Setelah selesai packing, gue langsung menuju parkiran sekolah. Sopir yang mau mengantar gue sudah siap, tapi hati gue belum siap, karena pikiran mau pulang ke Jakarta belum lenyap sepenuhnya di tempurung otak.

Tapi walau bagaimana pun ini pertama kalinya gue menghirup udara bebas Sukabumi, setelah sekian lama terjerembab di asrama. Dan ini kesempatan gue untuk mengenal Sukabumi lebih jauh lagi. Hahaha...Gue coba menghibur diri

"Selama jadi sopir, paling jauh ke mana Pak?" Tanya gue sok akrab sama sopir sekolah. Sementara mobil terus bergerak meninggalkan gerbang sekolah melintas bebatuan dan jalan berlubang yang kiri kanannya terbentang persawahan dan rumah warga. Untuk sebuah pemandangan indah, tempat gue ngajar itu emang juaranya. Pesawahan yang membentang luas serta gunung yang serasa lima kali salto saja bisa sampai ke puncaknya adalah pemandangan sehari-hari di sini. Tapi kehiruk-pikukan Jakarta kerap kali bikin rindu, apalagi memadu secangkir kopi dengan roti bakar di kafe tempat biasa gue duduk sendiri adalah hal yang belum bisa gue tinggalkan secara ihklas.

"Kalau perjalanan dinas paling ke Bandung dan Jogja, tapi kalau pribadi saya pernah ke Kebumen, Pak" Jawab sopir dengan tidak meninggalkan logat sundanya.

"Oh gitu" Jawab gue sambil manggut, dan terus memperhatikan rumah-rumah warga yang terlintas.

"Kalau kerja di Alkausar sudah berapa lama Pak?" Inilah jurus basa-basi gue yang super basi. Gue percaya basa basi itu bisa juga membangun keakraban.

"Dari tahun sembilan-sembilan, Pak" Gue tahu maksudnya 1999.

Gue mangut-mangut lagi.

Gue melirik jam tangan. "Oia, kalau masih ada waktu kita cari makan dulu, Pak. Tempat makan yang enak di Sukabumi di mana ya? Kalo bisa soto" Tetep di mana pun gue berada soto tetap menjadi makanan favorite. Lebih tepatnya gue gak bisa makan sembarangan, apalagi sambel dan makanan yang digoreng. Kampret. Jadi soto adalah makanan yang pas di lidah apalagi di perut. 

Gue emang sengaja berangkat pagi supaya banyak waktu buat mampir-mapir dulu, dan menjamah Sukabumi lebih lama lagi. 

===
Setengah jam kemudian, mobil berbelok dan parkir tepat di depan warung-warung tenda.

"Ini, namanya kantor dinas, Pak" Kata Pak Sopir sambil mengangkat rem tangan mobil

"Warung-warung ini, Pak?" 

"Bukan, eta!" Pak sopir menunjuk gedung yang berada di sebelah kanan warung-warung tenda berjejer itu. Rupanya becandaan gue dianggap serius.

"Ooh" Kata gue sambil manggut lagi.

Gue menuju salah satu warung tenda itu. 

"Aya, ada soto Bu?"
Gue sadar bahasa sunda gue hancur berantakan. Tapi bodo, dia nggak kenal gue. Dan gue juga sadar ada dan aya itu sama artinya.

"Aya. Sabaraha?"

"Siji, Bu". Sumpah gue nggak tahu itu bahasa sunda atau jawa. Tapi otak gue langsung komplen. Hiji kali, bukan siji

"Pak, mau pesen apa?" Tanya gue sambil menyeret bangku hingga berderit, supaya orang-orang yang barusan mendengar kekeliruan gue langsung teralihkan.

"Samain aja" Kata Pak sopir sopan.

"Bu, hiji deyi" Gue ngomong agak pelan (mungkin lebih terdengar biji), karena takut terdengar salah, tapi tangan gue cukup menjelaskan kalau gue pesen satu lagi. Gue ngelirik seorang ibu dan anaknya yang masih memakai seragam SMA, mereka menutup mulutnya, menahan tawa. Sementara gue menahan malu. Agghhhhh.....!!

Seusai makan soto di warung tenda, kita melanjutkan perjalanan lagi.

"Ini, Pak"  Gue menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan ke Pak Sopir.

"Dari Pak Henda?" Tanya sopir itu

"Ya, dari saya dong, Pak. Kan saya yang ngasih" Kata gue sambil becanda. " Itu uang pribadi saya, Pak, bukan uang sekolah"

"Oh, terima kasih Ya" kata sopir itu senang.


Hotel, Selabintana

"Permisi, bu. Kalau workshop guru matematika di mana ya?" tanya gue sama seorang ibu gemuk berkerudung yg sedang sibuk dengan handphonenya.

"Di sini, Pak" Sambil tidak melepaskan handphonenya dari telinganya. "Tapi belum pada dateng. Dari SMA mana?" Katanya melanjutkan, sambil menunjuk ke arah muka gue.

"Al Kausar, Bu" Jawab gue pelan, dan agak ketakutan.

"Nah!!"

Ibu itu langsung senang. Mimik mukanya tiba-tiba berubah.

"Ngaji nya?" (ngaji ya?)

"Ngaji?" Gue agak sedikit kaget. Apa gara-gara gue pake baju koko?. Gue ngelirik baju yang gue kenakan.

"Iya, ngaji buat pembukaan nanti. Dari Al Kausar mah bisa lah. Itukan sekola pesantren" Kata ibu itu menggampangkan persoalan.

"Mhhm...nggak bisa bu. Saya nggak bisa ngaji (lebih tepatnya gue demam panggung kalo ngaji di depan orang banyak). Saya masih baru di Alkausar" Gue ngeles.

"Kamu masih mahasiswa?" Ibu itu tiba-tiba memperhatikan muka gue. Gue takut kuadrat.

Sebelum gue menjawab, ibu itu langsung nyeletuk. " Yaudah jadi dirigen aja nya. Buat Indonesia Raya?"

Emang nggak ada cewek? Tanya gue dalam hati. Tapi tentu gue nggak bisa nolak untuk yang kedua kalinya.

"Iya, bu. Bisa" Jawab gue melas.

"Ya sudah, sok cari kamar sendiri atuh" Ibu itu memang benar-benar menggampangkan persoalan.

"Di mana, Bu?" Sebagai orang yang nggak tahu apa-apa, jelas gue dalam masalah besar. Ke workshop tentang guru pun gue baru saat ini, Sukabumi pula, dengan bahasa sunda yang minim pula, ditambah gue dateng seorang diri, tanpa guru-guru yang lain.

"Eta, pilih aja salah satu. Tapi satu tempat untuk enam orang nya".  Kata ibu itu, sambil me list nama gue sebagai dirigen

Gue diem beberapa saat.

"Yaudah jalan sana. Eta di ditu, aya kok kunci na"

Tanpa banyak berkomentar gue langsung mencari kamar di lingkungan hotel itu. Hotel yang klasifikasinya resort hotels membuat gue agak excited sebenarnya. Selabintana, mungkin sebagian dari kita banyak yang tahu. Tempat wisata yang berada di kaki gunung Pangrango memang menawarkan keindahan alam yang memukau. Tapi masalahnya gue bukan untuk senang-senang di sini, gue mau ikut workshop. Persis kayak lagi dikasih makan enak tapi kondisi gusi lagi sariawan. Damn. Percuma.


Di Kamar Hotel

"Pak sudah berapa orang di diyeu?" Tiga orang bapak mengetuk pintu sambil sesekali mengintip jendela.

"Saya, baru sendiri, Pak" Jawab gue sambil membuka pintu.

"Yaudah kita di sini aja" Kata satu dari mereka, dengan memakai bahasa sunda yang mudah gue pahami.

Mereka masuk tanpa persetujuan gue. Mungkin hak mereka, suka nggak suka kalau mereka mau memililih di sini, siapa juga yang larang. Aku rapoo..


Mereka langsung duduk di ruang tamu, menyandarkan badannya ke bangku, meletakan tas mereka masing-masing di sebelahnya. Gue persis pelayan meraka. Kampret. Akhirnya gue duduk di samping mereka menyamakan strata.

Nama saya, Ahmad, Pak" kata gue mengulurkan tangan satu-satu ke mereka.

Seorang bapak yang tepat di samping gue berbicara ke gue dengan nada emosi, tapi sayang. gue nggak ngerti, tapi gue ngerti maksudnya kalau dia sedang komplen sama pelayanan panitia workshop itu.

Gue manggut-manggut, tanda mengerti, walaupun sejujurnya nggak ngerti sama sekali apa yang dibicarakannya, karena selain dia berbicara sangat cepat, pake bahasa sunda pula. Aggghhhh.....!!

Bapak itu terus melanjutkannya pembicaraan dengan semangat empat lima kali sepuluh

"Kang, saha tadi namina?"

"Ahmad"

Bapak 1 : Nyaho teu, Kang Ahmad ...%$^@$%^*$E65$#$%^&*7$..... "
Bapak 2: Nya kitu,.....ggsf$#@%&*57767%5546^*%%#%#7^67...."
Bapak 3: Lain atuh,...%$^&*(&&&#$#!#$FHJGDFG()09877 ....."
Gue : "??????????????????????????????????????????????????"
(30 menit berlangsung. Tiga bapak itu penuh luka tusukan. Gue kayang mundur mengitari mayat mereka.)

Gue lelah mikir. Mereka malah makin seru ngajak ngomong gue. Dan kampretnya, dia nggak ngerti kalau gue lagi nggak ngerti. Dua puluh menit itu juga gue cuma mangut-mangut, tanpa berdaya, hingga akhirnya.: "Silahkan Pak ke kamar, beres-beres dulu" Terpaksa gue putus obrolan mereka, dan kayaknya mereka baru sadar kalo yang sedang di ajak ngomong nggak ngerti bahasa mereka, karena gue menawarkan secara sopan dengan bahasa Indonesia

=======

Karena kita keasyikan ngobrol, lebih tepatnya tiga bapak-bapak itu keasyikan ngobrol, akhirnya kita telat ke aula untuk ngikutin workshop. Hikmahnya. Ada yang gantiin gue jadi dirigen. ahayyy...!! *Salto

Seusai workshop sesi pertama gue kembali ke kamar. Udara mulai menusuk tulang-tulang persendian, pori-pori kulit mulai membesar. Gue menggigil kedinginan. Packing yang super kilat membuat gue lupa membawa jaket atau sweater, dan hasilnya gue nggak bisa tidur semaleman.

Singkat cerita, workshop selesai. Dan yang paling nggak disangka-sangka, setiap peserta workshop dapat amplop yang isinya dua ratus ribu rupiah. Subhanallah, gue dapet rezeki Rp 200.000. Apakah itu kebetulan? Gue mikir agak lama. Gue rasa nggak. Masih inget, gue kasih sopir dengan uang pribadi berapa? Rp 20.000. Besok itu juga sedekah gue diganti sama Allah sepuluh kali lipatnya. Yey. Yang gue sesalkan, kenapa nggak gue kasih seratus ribu aja tuh Pak Sopir. Kalau kasih seratus ribu kan bisa jadi satu juta. Wahh..keren!

Ketemu Kenalan Lama

Cek out dari hotel gue langsung bergegas ke Jogja departement store yang berada di kota Sukabumi. Di tempat inilah gue janjian sama Mas Ikhsan, seorang entrepreneus Sukabumi yang juga memiliki outlet kopi di swalayan tersebut. Ilmu pengetahuan gue mengenai tongkrongan di Sukabumi memang minim, tapi untuk sebuah tempat kongkow-kongkow yang lumayan di Sukabumi yang gue tahu ya Swalayan ini. Mungkin sengaja Mas Ikhsan ngajak ketemuan di sini, selain foodcouartnya memang ramai, mungkin sekalian memperkenalkan aoutlet kopinya.

Kenal Mas Ikhsan sudah lama sebenarnya, kita sama-sama jebolan dari Moslem Millionaire IV Ippho Santosa. Bedanya gue memutuskan untuk menjadi guru di Alkausar (entah dalam waktu berapa lama), sementara beliau terus menggeluti dunia entrepreneurnya.

"Ahmad..!" Suara mas Ikhsan memanggil gue yang hampir beberapa menit celingukan sana-sini di foodcourt itu.

"Halo, Mas apa kabar?" Sapa gue senang. "Wah akhirnya bisa ketemu juga ya"

Mas Ikhsan langsung mengajak gue ke outlet kopinya, dan mempersilahkan gue untuk memesannya.

Menyeruput secangkir kopi, membuat gue teringat teman-teman gue di Jakarta, bukan hanya suasana food court yang ramai itu, tapi pembicaraan mengenai dunia usaha membuat gue ngerasa ada di Jakarta. I'm like home again.

Seketika gue galau, mau dibawa kemana tujuan hidup gue. Apakah selamanya gue terus tinggal di lingkungan asrama. Rasannya seperti mengubur mimpi hidup-hidup. Apakah gue benar-benar di lingkungan yang benar. Apakah STUDIO5 benar-benar bisa besar nanti (semoga di Tangan dingin M.Tulus bisa). Duh gue rindu STUDIO5. Pikiran-pikiran itu terbelesit di sela-sela obrolan gue dengan Mas Ikhsan. Ngobrol dengan Mas Ikhsan sempat memicu jiwa entrepreneur muncul lagi di hati ini. Dan hati gue bilang

"Gue pergi untuk sementara"



SELANJUTNYA >>

Rabu, 02 April 2014

Orang-orang Bertopeng dan Berselimut

Pagi ini Alkausar berkabut. Entah kabut-kabut itu turun sejak pukul berapa tadi. Yang pasti ketika azdan Subuh berkumandang kabut itu sudah mengepul putih membanjiri lingkungan Alka. Putihnya terurai indah di balik-balik pohon dan di atap-atap asrama, dan yang paling menjadi misteri di tempurung otak ini, kenapa kabut-kabut tersebut tidak masuk menyeruak ke dalam asrama tempat di mana saya tinggal. Tidak seperti di rumah di Jakarta yang selalu termasuki asap pembakaran sampah jika tetangga kerap membakar sampah di samping rumah yang bisa membuat saya terbatuk-batuk lantaran asap-asap itu dengan sukses masuk kamar. Kabut itu tetap pada posisinya, mengepul indah di jalan-jalan, di atas pohon, dan di atap asrama. Mungkin faktor suhu kamar dan di luar kamar yang berbeda membuat kabut tidak masuk. Itu pemikiran cetek saya.

Saya terbangun memang terlampau pagi. Bukan kabut itu yang membangunkan saya pagi ini, tetapi suara orang mengaji dipengeras suara  membuyarkan semua mimpi indah namun semu. Rasa malas dan kantuk yang memadu satu menjadi alasan indah untuk terus mengumpat di balik tebal selimut asrama. Atas dasar rasa malu dan tidak enak, kantuk serta malas untuk bergegas ke masjid dan melaksanakan Sholat Subuh hilang. Bukan hanya malu kepada murid-murid di sini yang setiap subuh dipaksa ke masjid tetapi juga kepada Tuhan yang telah menciptakan Adam untuk bumi yang kini menjadi tugas kita untuk meneruskan amanah luhur tersebut yang tidak lain sebagai khalifah di bumi ini.

Saya turun dengan gontai melawan kantuk yang hebat dari kamar menuju masjid. Anak tangga serasa hal yang menyebalkan jika setengah kesadaran saya harus dipaksa konsen menginjak tepat satu anak tangga supaya tidak tergelincir. Rasannya ingin belajar parkour supaya tidak melalui anak tangga yang menyebalkan itu.  Loncat dari kamar ke lobi bahkan ke masjid dengan mudah dan ringan. Jangankan parkour, untuk melangkahkan kaki saja sudah malas luar biasa menembus kabut. Dan berbicara parkour, di alka itu sebenarnya enak untuk belajar parkour, gedung-gedung asrama, kantor, dan sekolah sambung menyambung menjadi satu. Tapi memang sih pepohonannya juga nggak sedikit, nanti bukan keren yang ada kayak monyet sedang kabur diserang warga karena kedapatan mencuri.

Saya terperanjat ketika benar-benar sudah di luar asrama. Saya melihat segerombolan orang-orang berkuda keluar dari kabut tebal yang semakin turun. Tidak begitu jelas jumlah mereka. Tapi pastinya banyak sekali. Suara gaduh ringkik kuda dan derap kaki kuda membumbung tinggi ke angkasa. Saya kaget bukan main, ternyata segerombolan kuda itu mendekati saya. Iya mendekati saya. What?? Orang-orang bercadar penunggang kuda itu mengangkat pedangnya dan terus mendekati saya. Saya mundur beberapa meter kebelakang. Semakin lama penunggang kuda itu semakin banyak, seolah tidak pernah habis keluar dari gumpalan kabut itu. Mereka berteriak mengangkat pedanganya dan siap menebas leher saya. Tidaaaaaakkkk..................................!!!!!





Draaaakkkkkk......................!!!

Saya terkapar di lantai.

Kepala pusing dan seolah bumi berputar.

Baju yang saya kenakan basah akibat cucuran keringat.

(Hening untuk beberapa detik)

Pelan-pelan saya memberanikan membuka mata. Lampu kamar yang semakin redup, gitar, laptop, dan handphone yang tetap pada posisinya. Saya mengangkat kepala dan meletakannya di atas bantal yang ikut terjatuh dari kasur. Saya menutup muka dengan selimut membayangkan muka yang bertopeng 



Sumber gambar :
https://www.facebook.com/note.php?note_id=192157994162264
SELANJUTNYA >>